Takdir Bujuk Rayu

imagesoio Takdir Bujuk Rayu
Oleh Yesaya Sandang
“Everything is seduction. And nothing but seduction.”
~ Jean Baudrillard, Seduction

Hidup di tengah-tengah dunia yang ruwet dewasa ini, seringkali memaksa kita berada pada keadaan dimana kita terserap ke dalam suatu bentuk pengelabuan. Pengelabuan dari yang nyata, dari yang sebenarnya. Hal ini dimungkinkan karena batasan antara yang nyata dan ilutif menjadi demikian kabur, dan apa yang sesungguhnya nampak tidak lagi merepresentasikan apa yang sebenarnya.

Perkembangan teknologi media massa dan teknologi informasi hari-hari ini memainkan peranan penting dalam hal ini. Melalui medium seperti televisi, komputer, media massa digital, dan media informasi lainnya, suatu presepsi dapat direkayasa sedemikian rupa melampaui realitas. Era ini adalah era rekayasa digital, rekayasa presepsi, dan bentuk-bentuk rekayasa lainnya. Fenomena riil dapat sedemikian rupa tersimulasikan dan mengelabui kita. Yang mungkin luput dari pandangan kita adalah, bahwa sebenarnya jika kondisi yang demikian dihadapi, maka kita telah masuk pada suatu dimensi yang menyimpangkan kita dari kebenaran, suatu dimensi dimana kita terbujuk untuk dikelabui. Inilah dimensi bujuk rayu. Segala sesuatunya terbalut dalam bujuk rayu dan kita tak dapat menghindar lagi.

Godaan atau bujuk rayu, disadari atau tidak, merupakan sesuatu yang lekat dengan dimensi kehidupan manusia. Selama manusia masih memiliki hawa nafsu, keinginan, dan hasrat, maka bujuk rayu memainkan peranannya. Dalam ajaran agama, bujuk rayu merupakan strategi dari si jahat (devil) baik dalam bentuk sihir atau bentuk lainnya, dan persoalan bujuk rayu ini masih tertinggal hingga saat ini. Agama memandang bujuk rayu sebagai hal yang jahat dan menipu dan, selama manusia masih bersemayam dalam tubuhnya, ia akan menggoda. Ia juga digoda dan ia (mungkin) akan tergoda.

Bujuk rayu kerap kali dikaitkan dengan persoalan seksualitas. Baudrillard dalam karyanya, Seduction, mengutarakan bahwa “yang seks” pada akhirnya dapat termanifestasi dimana saja, kecuali di dalam seksualitas itu sendiri. Artinya, ketika seksualitas direalisasikan dimana saja dan kapan saja tanpa batasan, ia menjadi kehilangan esensinya. Dalam masyarakat dewasa ini, segala sesuatu (objek, barang, jasa, dan berbagai jenis relasi) kerap kali diseksualisasikan dan dengan demikian masyarakat juga kerap kali digoda, dibujuk rayu.

Pemiskinan makna
Bujuk rayu, sampai pada satu titik, bekerja pada penghilangan tanda dan menyurutkan makna dari penampakan yang sebenarnya, karena godaan tidak pernah berhenti pada kebenaran tanda, tetapi bekerja dengan tipuan dan kerahasiaan.

Digoda artinya dipalingkan dari makna yang sebenarnya dan menggoda adalah mengarahkan seseorang dari kebenarannya menuju kepada kebenaran si penggoda.

Dalam strategi bujuk rayu, seseorang menarik orang yang lain ke dalam wilayah kelemahannya yang juga wilayah kelemahan si penggoda tersebut. Menggoda adalah tampil dengan penampakan yang lemah dan menggoda adalah tindakan yang membuat lemah. Dalam godaan, kelemahan ini diciptakan, dan inilah yang memberi kekuatan pada bujuk rayu. Inilah alur yang menyusuri dari berbagai macam bentuk godaan: eksploitasi kelemahan, kemudian hujani dengan bujukan, dan keluar sebagai pemenang. Menggoda, karenanya, adalah membuat figur dan tanda untuk dipermainkan.

Hasrat dan bujuk rayu
Bujuk rayu bukanlah hasil dari daya tarik fisik, melainkan sebuah konjungsi dari hasrat. Hasrat dalam kaitannya dengan bujuk rayu bukanlah suatu akhir, melainkan sesuatu yang dapat dieksploitasi kelemahannya, sehingga godaan bertujuan untuk memprovokasi dan menipu hasrat tersebut. Atau, dengan kata lain, godaan bertujuan pada godaan itu sendiri.

Jika godaan bermain pada ranah asmara (romance), maka yang terjadi adalah: aku tidak ingin mencintai, mengasihi, ataupun menyenangkanmu, tetapi untuk menggodamu, dan satu-satunya perhatianku adalah apakah kau tergoda, dan bukannya apakah aku mencintai atau menyenangkanmu.

Moda-moda seperti ini rupa-rupanya acapkali kita temui dalam realitas keseharian. Bagaimana jika frase tersebut kita terjemahkan ke dalam bagian lain dari kehidupan kita (seperti dalam hal konsumsi)? Yang terjadi adalah “kami tidak peduli apakah barang itu bermanfaat buat anda, atau ia sungguh-sungguh memuaskan anda, melainkan yang terpenting adalah anda telah tergoda untuk membelinya, dan mengonsumsi, dan itulah tujuan satu-satunya.”

Godaan ini berkerja dengan amat lihai, sehingga seakan-akan tidak ada godaan di sana. Ia bisa saja tidak disadari, dan ia ada dimana-mana.

Berpikir dengan jernih
Bujuk rayu telah menyusup ke dalam setiap aspek kehidupan. Ia tidak lagi hanya terbatas. Ia ada dimana-mana. Ketika kita mengonsumsi tanpa sadar, kita telah terbujuk. Ketika kita berpolitik secara sadar, kita telah menggoda.

Perhatikan layar kaca di ruang keluarga rumah kita. Betapa seringnya kita temui bujuk rayu menghambur keluar dari dalamnya. Kita dibujuk untuk membeli sesuatu, kita dikelabui tentang realita yang ada. Demikian juga panggung politik yang kita temui. Betapa sering kita mendapati pemiskinan makna dari realita yang sesungguhnya, yang dibingkai dalam jargon-jargon yang membujuk. Dunia yang ada sekarang seakan-akan didorong oleh berbagai macam bentuk godaan, sebuah dunia dimana segala sesuatunya telah dibiaskan dari kebenarannya. Mungkin ini agak terdengar skeptis, walau tetap tidak dapat dipungkiri bahwa dimensi bujuk rayu sementara hadir.

Yang diperlukan sekarang adalah kejelian untuk menelanjangi strategi bujuk rayu yang ada dimana-mana. Sebuah kejernihan berpikir untuk dapat membedakan antara yang nyata dan palsu, mana yang substansif dan bukan sekadar polesan luar belaka. Kejernihan yang dapat menyingkap makna yang sebenarnya di balik semua permainan tanda. Sehingga kita tidak melulu menjadi korban bujukan dan rayuan. Karena, pada akhirnya, bujuk rayu dan godaan ditakdirkan untuk terus membayang-bayangi kehidupan manusia yang semakin hari semakin kompleks.

YESAYA SANDANG
Mahasiswa Pascasarjana Departemen Filsafat Universitas Indonesia
Alumni Fakultas Hukum UKSW


About this entry