Agama di Tengah Masyarakat Metropolitan

Agama di Tengah Masyarakat Metropolitan: Sebuah Perspektif Buddhisme
Yesaya Sandang
Prolog
Tiada hari tanpa berpeluh dosa
Hasrat tubuh tereksploitasi
gejolak nafsu mencari cari
birahi berkecamuk dalam badai gairah
libido bergelora penuh kemaksiatan
tiada waktu tak bergelimang kemusrikan
amarah murka merajalela
imoralitas yang terbejad mencari wujud
asusila tak berperi dapat termaklumi
kebanalan hidup menjadi perih
hipokrit paling sengit
kenajisan yang menjijikan
dusta meratapi tanpa salah
dunia hitam pekat
ditelan kegelapan tergelap
metropolis panas membara
penuh sesak egosentrisme
penuh tatapan curiga saling mendengki
rusuh adalah kelumrahan
DAN SETAN PUN TERTAWA!!!!!!!!!
(Yesaya Sandang, 2005)
Metropolitan, tempat hidup banyak manusia yang telah lebur menjadi satu dalam kepelbagaian dan kompleksitas hidupnya membawa setiap individu didalamnya menghadapi berbagai macam masalah. Manusia dalam berbagai macam dimensinya di tengah-tengah kehidupan metropolitan seolah-olah terperangkap dalam kehendak buta yang menuntut untuk terus dipenuhi. Ego manusia harus terpenuhi, hasrat harus mendapat ruang untuk terpuaskan.
Di engah-tengah keseharian kita dapat kita temui bahwasannya masyarakat di metropolitan terus menerus berkutat dengan berbagai macam hal yang berpangkal dari pemenuhan kehendak dan hasrat dalam berbagai macam wujudnya. Pertikaian, kekerasan, tindak asusila, kejahatan dan banyak hal lainnya secara jelas dan kasat mata terus terjadi di hadapan kita. Media Massa hari demi hari tak lepas dari pemberitaan yang menggambarkan fenomena semacam ini. Kondisi semacam ini bisa jadi partikular, akan tetapi tetap tak dapat dipungkiri bahwa ia nyata dan ada di dalam kehidupan bermasyarakat kita.
Scopenhauer seorang filsuf abad modern yang pemikirannya banyak dipengaruhi oleh alam pikir Buddisme mengutarakan bahwa semua fenomena dalam dunia ini (dimulai dari gravitasi planet hingga kesadaran manusia, mulai dari kekuatan-kekuatan alam,proses tumbuhnya tanaman, perilaku instingtual pada hewan, sampai dorongan manusiawi untuk mempertahankan diri) ternyata dipengaruhi, dikendalikan, digerakan, dan diarahkan oleh “keinginan-keinginan”, dalam berbagai bentuknya mulai dari harapan yang paling halus dan tersembunyi hingga nafsu yang kuat dan mendesak. Sehingga bagi Scopenhauer yang menjadi hakikat dari dunia ini adalah sesuatu yang irasional dan bukan yang rasional. Ia menamakan irasionalitas ini sebagai “kehendak untuk hidup” (der Wille zum Leben) atau “kehendak” (wille).<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>
Dalam bahasa Scopenhauer kehendak bersifat transendental, artinya berada pada dunia noumena (dari noumenon yang berarti ‘yang dipikirkan’,’yang tidak tampak’, ‘pikiran’). Karena KEHENDAK bersifat noumena maka menurut Scopenhauer hal tersebut tidak dapat ditangkap oleh pengetahuan rasional yang hanya mampu mengamati dunia fenomenal. Kata kunci dalam filsafat manusia Schopenhauer adalah ‘Kehendak Buta’. Manusia terperangkap dalam suatu keadaan yang yang memaksanya serta membuatnya menjadi seorang individu yang tak kenal kata puas. Manusia senantiasa dirongrong dan disiksa oleh kehendak untuk hidup tersebut. Schopenhauer mengatakan kehendak untuk hidup itu sebagai “dosa asal” (Erbsunde). Jalan keluar untuk lepas dari semua penderitaan ini harus dilakukan oleh manusia sendiri.<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>
Prespektif Buddhisme
Pada mulanya hati manusia adalah jernih, namun karena dikotori oleh Dosa, Moha, dan Irsia, Maka hati yang terang itu menjadi gelap dan kejam. Hal ini membuat manusia tidak dapat melihat dan mengetahui dirinya yang sebenarnya dan membawanya pada penderitaan.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Buddha Gautama mengajarkan agar manusia memperhatikan Dhamma (kesunyataan) tentang penderitaan (Dukkha). Kelahiran adalah penderitaan, usia tua dan kematian adalah penderitaan. Penderitaan memiliki hal-hal yang alami dan mengikuti kondisi ini. Lebih lanjut Buddha Gautama melanjutkan, kesedihan adalah penderitaan, ratap tangis, kesakitan jasmani dan dirasakan pula oleh pikiran adalah penderitaan, tekanan batin dan putus asa adalah penderitaan. Berkumpul dengan hal-hal yang tidak disukai dan tidak dicintai adalah penderitaan dan tidak terpenuhi apa yang diinginkan adalah penderitaan.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>
Di dalam Buddhisme terdapat empat kebenaran luhur yang menjadi bagian dari pesan pokok ajaran Buddhisme. Ajaran tersebut merupakan khotbah pertama Sang Buddha sesudah pengalaman penerangan yang dia paparkan di Taman Kijang di Benares. Ajaran ini akan membimbing manusia ke visi mendalam, menuntun menuju kebijaksanaan, mendidik menjadi tenang, membawa pemahaman, menghantar ke pengalaman penerangan sempurna, menuntun menuju Nirvana. Empat kebenaran luhur tersebut adalah :<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Hidup adalah penderitaan (hidup adalah derita atau dukkha)
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Penderitaan/ sengsara itu karena disebabkan (adanya keinginan)
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Sengsara bisa diatasi dengan cara melenyapkan sebab-sebab sengsara
<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Jalan mengatasi sebab-sebab derita itu sama dengan menghayati, menapaki (apa yang disebut) jalan tengah yang terdiri dari 8 jalan.
Keempat kebenaran luhur tersebut membawa kita pada suatu identifikasi dan solusi terhadap persoalan yang dihadapi oleh masyarakat metropolitan. Persoalan yang sekali lagi berpangkal pada keinginan atau nafsu yang selalu mencari pemenuhan dalam berbagai macam bentuknya pada saat ini dan disini. Persoalan tersebut harus diatasi dengan pelepasan atau pembebasan dari nafsu tanpa mau terus ada dalam pusaran kenikmatan dan dambaan belaka. Untuk benar-benar dapat mengurangi perputaran pada pusaran kenikmatan, manusia harus memusatkan perhatiannya pada nafsu dan kemelekatan yang ada pada di dalam batinnya. Manusia perlu melihat bahwa ada keinginan timbul, dan ada keinginan dan kemelekatan timbul. Yang perlu disadari adalah makin banyak keinginan berarti makin banyak penderitaan dan makin sedikit keinginan dan kemelekatan berarti semakin sedikit penderitaan. Lenyapnya seluruh keinginan dan kemelekatan berarti lenyapnya seluruh penderitaan, dan inilah bentuk dari Lenyapnya penderitaan (dukkha-Nirodha).
Ini adalah jalan yang menuntut pemadaman hasrat dengan pengorbanan dan pembebasan diri tanpa ada kelekatan sama sekali. Buddha Gautama menghantar ke arah tersebut melalui keutamaan jalan delapan sisi, yaitu :<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Melihat atau memandang dengan benar (samma ditthi)
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Mengingini dengan benar (samma sankappa)
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Berbicara dengan benar (samma vaca)
<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Bertingkah laku (bertindak) dengan benar (samma kammanta)
<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Memakai sarana yang benar untuk hidup (samma ajiva)
<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Menyimpan/mewaris dengan benar (samma vayama)
<!–[if !supportLists]–>7. <!–[endif]–>Berpikir dengan lurus (samma sati)
<!–[if !supportLists]–>8. <!–[endif]–>Bermeditasi dengan benar (samma samadhi).
Terdapat tiga intisari dari delapan keutamaan tersebut diatas yang harus dihayati untuk mencapai tata hidup yang seimbang serta secara komprehensif integral. Tiga intisari tersebut adalah : pedoman tingkah laku etis, disiplin batin dan tata kebijaksanaan. Terkait dengan hubungannya dengan pemadaman keinginan dapat dipahami sebagai berikut:<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Fungsi pedoman tingkah laku adalah mengontrol dorongan-dorongan keinginan yang muncul kemudian.
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Disiplin mental bertujuan menghentikan atau meniadakan keinginan-keinginan yang sudah ada kini dan disini.
<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Pedoman kebijaksanaan bertujuan untuk hidup baik dengan menghayati ketiga-tiganya.
Epilog
Ditengah-tengah kegamangan hidup di metropolitan, Buddhisme menawarkan suatu solusi praktis yang dapat membawa manusia untuk lebih kepada keadaan mawas diri dan lepas dari himpitan hidup yang berujung pada penderitaan dan persoalan hidup baik personal maupun komunal. Lewat indentifikasi terhadap inti persoalan yang dihadapi, Buddhisme hendak menghantar manusia pada suatu bentuk kearifan yang membumi. Egosentrisme tidak lagi mendapat tempat, melainkan diganti dengan kebijaksanan hidup dan kesabaran serta penguasaan/pengendalian diri. Hal ini harus berakar dalam kesadaran dan pengakuan tiap individu bahwa semua yang ada relatif terkondisikan, yang satu tergantung yang lain (avabhana).
Akhirnya kehendak, hasrat, yang membelenggu manusia dapat terbebaskan dan kebahagiaan dapat tercapai. Karna menjadi bahagia dan tentram ditengah hingar bingar metropolitan tidaklah utopis walau perlu kearifan. Demikian petikan sabda Sang Buddha “Pikiran ini sungguh sukar diawasi yang mengembara sesuka hatinya, mengawasi pikiran yang sukar dikendalikan, binal dan mengembara sesuka hatinya adalah sangat baik, karena itu hendaknya orang bijaksana menjaganya. Pikiran yang telah dijaga dengan baik dan dijinakan akan membawa kebahagiaan“ (Dhammpada 35-36).
Pustaka Acuan
Acharn Theit Desarangsi, Meditasi Buddho, penerbit Arama, Malang, 1991
Maha Upadhyaya Kuan Ching, Pintu Kebijaksanaan, Dian Dharma, Jakarta, 2003
Mudji Sutrisno, Zen Buddhis, Ketimuran dan Paradoks Spiritualitas, Penerbit Obor, Jakarta, 2004
Simon Petrus L Tjahjadi, Petualangan Intelektual, Konfrontasi dengan para Filsuf dari zaman Yunani hingga zaman Moden, Pustaka Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 2004
Somdet Phra Nyanasamuara A Guide to Awareness, , Estebe, Solo, 1961
<!–[endif]–>
<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Lihat, Tjahjadi, Simon Petrus L, Petualangan Intelektual, Konfrontasi dengan para Filsuf dari zaman Yunani hingga zaman Moden, Pustaka Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 2004, hal 330
<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> lihat, ibid
<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> lihat, Maha Upadhyaya Kuan Ching, Pintu Kebijaksanaan, Dian Dharma, Jakarta, 2003
<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> A Guide to Awareness, Somdet Phra Nyanasamuara, Estebe, Solo, 1961, hal 69
<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> Mudji Sutrisno, Zen Buddhis, Ketimuran dan Paradoks Spiritualitas, Penerbit Obor, Jakarta, 2004, hal 9
<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Lihat, ibid hal 11
<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> ibid, hal 17
About this entry
You’re currently reading “Agama di Tengah Masyarakat Metropolitan,” an entry on Solitude Solitaire
- Telah Diterbitkan:
- Oktober 28, 2008 / 6:42 am
- Kategori:
- Filsafat, Seni & Kebudayaan
- Tag:
- agama, buddhisme, yesaya sandang


Belum ada komentar
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]