Dialog

Dialog

Bramantio

11 Februari

Nia,

Aku yakin dengan seluruh hatiku yang tak lagi utuh, kau telah mengetahui yang kutulis di dalam surat ini begitu kau menerimanya. Amplop tipis yang begitu tangguh terbang tanpa sehelai bulu sayap menyeberangi lautan tak kuasa menyembunyikannya. Ujung-ujung jemari yang peka akan merasakannya dalam rabaan perdananya sebelum sidik jari mematrikan diri beralas debu. Para cenayang pun tak perlu membuat ramalan baru karena segalanya tak pernah berhenti berulang. Tak pernah ada kabar gembira di dalam surat-surat yang kulayangkan kepadamu.

Aku tak lagi mampu berpikir jernih tentang banyak hal. Ingatan-ingatan itu menguap satu per satu. Melayang. Melarut. Menghilang di dalam mega-mega mendung yang mengandung kristal-kristal airmata. Meninggalkanku sepi sendiri. Aku mampu menghadapi kesendirian. Aku sanggup menjalani kesepian. Tapi, aku tak kuasa berada di dalam kehampaan. Kekosongan mutlak yang penghabisan.

Ada satu ingatan yang tetap tinggal yang selama ini membuatku bertahan. Tapi, entah sampai kapan. Mungkin, tak akan lama lagi sebelum turut menguap bersama yang lain. Ingatan tentang satu hari berlangit putih. Bukan putih yang cerah, tapi putih yang keruh. Camar-camar mengambang naik-turun di udara beraroma salin dingin. Ciuman-ciuman bersajak bebas ombak-ombak sekarat atas tubuh pantai berpasir yang menyimpan bintang-bintang semu. Lazuardi yang semakin kelam semakin dalam ketika menyentuh cakrawala. Orang yang pernah suamiku mengajakku melaut. Ia mengayuh sepasang dayung jelmaan batang pohon yang mau tak mau harus mati diterjang kapak. Akar-akar yang bukan serabut bukan tunggang membayang timbul-tenggelam di sepanjang kedua lengan kokohnya. Selarik senyum terkulum di bibir pucatnya yang menyimpan bara. Perahu kami berhenti pada titik yang begitu jauh dari pantai hingga seisi dunia adalah laut dan langit. Bergerak tak tentu arah dalam dekapan ombak pelan yang menabiri arus mematikan. Tanpa perlawanan. Hanya kepasrahan penuh pada nasib. Kelumpuhan telah menderaku terlalu lama. Penaku terasa berat dan tumpul tak bertenaga menggoreskan tinta pada yang putih. Pita karbon pada mesin ketik pun berputar pelan tersendat-sendat meregang nyawa sampai benar-benar berhenti. Mati. Alih-alih larik-larik, bait-bait, dan lembaran-lembaran sajak yang beranak-pinak menyesaki rumah, justru gugusan-gugusan tepung, telur, mentega, dan gula aneka rupa aneka rasa yang memadati setiap jengkal ruang. Aku benar-benar habis. Labirin gelap. Labirin pekat. Dan Minotaur kelaparan. Menerjang. Melanda. Menghempas tak menyisakan apa-apa. Sampai hari itu ketika Theseus dan Ariadne menyatu dalam raga orang yang pernah suamiku untuk memanduku menemukan terang. Terang itu adalah diriku sendiri. Subjek itu adalah diriku sendiri. Helene juga pernah berkata seperti itu, bukan? Subjek terbaik bagi penulis perempuan adalah dirinya sendiri. Tubuhnya. Sayangnya, banyak yang telah menjadi korban kata-kata itu. Aku yakin kau mengerti maksudku.

Walaupun begitu, segalanya ternyata tak pernah menjadi lebih mudah bagiku. Hidupku tak pernah menjadi lebih baik selama tahun-tahun terakhir ini. Apakah aku ini, Nia? Hanya sesosok raga yang bernyawa? Sebentuk tubuh yang bernafas? Tak lebih daripada itu. Ia meninggalkanku demi perempuan yang mungkin tak lebih baik daripada aku. Apakah ia meninggalkanku karena aku telah melakukan kesalahan yang bahkan ia sendiri tak sudi mengatakannya? Aku hanya ingin menjadikannya bagian hidupku sepenuhnya. Selamanya. Bisakah kau mendengar anak-anakku menangis? Bahkan, mereka telah menangis jauh sebelum bersentuhan dengan sakit dan derita nyata dunia. Mereka menangis sejak berenang-renang di dalam kandunganku. Mengapa mereka menangis? Telah tahukah mereka tentang segala yang terhampar di depan sana? Bapak mereka telah pergi dan ibu mereka semakin hari semakin redup. Hanya perlu satu tiupan lembut untuk memadamkannya selama-lamanya.

Kau perempuan yang sangat beruntung, Nia. Ia sangat mencintaimu. Ia senantiasa ada di sisimu menemanimu menjalani masa-masa terkelam dalam hidupmu, walaupun ia tak pernah bisa menyingkap tirai kelam itu, walaupun hanya kau yang merasakan kekelaman itu.

Aku ingin menghentikan semua ini. Tapi, bagaimana? Yang padat tak mampu mengakhiriku. Yang cair tak sanggup menamatkanku. Mungkin, hanya yang gas yang kuasa membebaskanku.

Pada satu pagi malaikat-malaikat kecilku, tulip-tulip mungilku, hanya akan mendapati dua, bukan tiga. Dua gelas susu, terakhir. Dua lembar roti berlapis mentega, juga yang terakhir. Kursi ketiga yang mengelilingi meja makan akan kosong lalu menjadi dingin seterusnya. Tiada lagi senyum untuk mereka. Tiada lagi tatapan penuh kasih untuk mereka. Tiada lagi kehangatan untuk mereka. Ketiganya hanya akan membekas di dalam warna sepia foto keluarga berbingkai debu. Karena daun-daun yang belum mengering itu telah berguguran. Karena pohon yang belum tua itu telah tumbang tak menyisakan akar. Karena kucing itu telah mati sebelum kesembilan nyawanya habis. Dan Lazarus-perempuan itu tak akan mengalami kebangkitan lagi di musim dingin terbeku abad ini.

Aku tak menyesal atas segala yang telah terjadi. Tak akan. Colossus telah berdiri gagah. Ariel akan segera menyusul dan menjadi jauh lebih megah. Semoga untuk selamanya.

S.

*

28 Maret

Via,

Ia—laki-laki pengantar surat, tentu saja—selalu datang pada jam itu, berhenti mengayuh sepeda tuanya yang berbunyi kriyet setiap satu putaran roda; yang berbunyi klik klik setiap satu putaran rantai. Kehidupan baru lahir sepenuhnya pada jam itu; kicau burung yang begitu riuh (Tapi, di mana burung-burung itu? Suara mereka seolah selalu lebih banyak daripada tubuh-berbulu mereka. Adakah mereka berlindung di antara rimbun dedaunan? Sambil mencibir?); daun-daun yang saling bergesekan dengan cara yang berbeda dari beberapa jam sebelumnya; aroma kopi yang menyeruak bersama uap panas; sarapan dengan sajian yang itu-itu saja (yang terkadang justru menghambat kerja otak; aku yakin bisa menulis dengan lebih baik ketika lapar). Leo telah larut di dalam naskah-naskah mentah yang mengharapkan sentuhan penyunting (yang sering kali justru bekerja lebih keras daripada penulisnya), ditemani Ralph—ia selalu terlihat tampan; Ralph, tentu saja. Neli telah bertahta di istananya—dapur itu, bahkan mungkin seluruh rumah ini. Dan aku, aku di sini, di ruangan yang sama ketika menulis surat ini. Ia berhenti di depan pagar rumah—yang sudah waktunya direhabilitasi (catnya pudar tergerus masa, karat berkembang biak merombak kulitnya, tanaman-tanaman menjalari tubuhnya yang tidak lagi muda)—lalu membunyikan bel sepedanya; bunyi kring singkat yang nyaring dan mengganggu, semakin mengganggu karena ia tidak pernah berhenti membunyikannya sampai ada seseorang yang menemuinya untuk menerima surat (-surat) secara langsung darinya. Mengapa ia melakukan hal itu? Padahal, di pintu pagar telah tersedia kotak surat. Mungkinkah ia tertarik—atau memendam cinta—kepada Neli?; yang menerima surat (-surat) darinya selalu Neli. Ataukah ia hanya berharap Neli memberinya sesuatu? (Tak jarang kulihat Neli memberinya—seperti barter dengan surat (-surat) yang dibawanya—sekantung kecil, yang aku yakin, makanan; makanan kecil, tentu saja. Aku tak pernah tahu isi kantung kecil itu sebenar-benarnya; dan aku tak perlu tahu (atau tak mau?); mungkin roti jahe, mungkin kukis, mungkin juga mafin buatan hari sebelumnya—yang tak habis oleh perut-perut penghuni rumah ini yang tak pernah lapar.) Kudengar pintu depan dibuka—dengan suara mantap tanpa disusul bunyi malas. Melalui kaca jendela—yang mengaburkan segala yang ada di baliknya karena berlapis debu bercampur air—kulihat Neli berjalan menemuinya; dengan celemek putih masih melekat di tubuhnya; tidak ada kantung kecil di salah satu tangannya (atau ada?). Tubuhnya menembus hamparan rumput—berusia tiga hari setelah dipangkas—menginjak-injaknya tanpa bermaksud melakukannya karena demikianlah jalan menuju pengantar surat itu (Helai-helai yang terinjak rebah seketika; ada yang patah dan tak pernah tegak lagi; ada yang nyaris patah, tapi tetap berusaha bangkit. Ujung rok Neli yang melambai berat menyapa pucuk-pucuk rumput—bergoyang sedikit lalu diam sampai ujung rok Neli kembali menyapanya ketika berjalan kembali ke rumah; atau nanti, tentu saja, ketika angin berhembus menerpanya.). Mereka berdua berbicara sebentar (Apa yang mereka bicarakan? Apa kabar? Bagaimana keadaan majikanmu—yang perempuan, tentu saja—yang setengah gila itu? Masihkah ia menjalin hubungan dengan Vita? Tidakkah suaminya berniat meninggalkannya? Oh, Leo—lalu berpisah; sepeda dikayuh, kriyet dan klik klik, berlalu; pintu ditutup, blam, mantap. Dan di sanalah Neli—malaikat rumah yang sesungguhnya—berdiri di ambang pintu, membawa sepucuk surat dengan kedua tangannya di depan dada—tampak berwibawa, menakutkan; itu surat darimu.

Benar katamu, tidak pernah—sepanjang ingatanku—kabar gembira singgah ke rumah ini bersama surat-suratmu. Tapi, demikianlah adanya kita, Via; perempuan. Tidak perlu kaurisau tentang hal itu (Atau perlu? Asalkan tidak keterlaluan, mungkin). Bahkan, nasib seperti itu telah dialami dua perempuan pertama; Lilith (sebagian orang bahkan tidak pernah mengakui ia pernah ada) yang terbuang karena dianggap mengancam kedudukan Adam, dan Eva (sebagian orang menyebutnya Hawa) yang merana karena dikambinghitamkan berkaitan dengan jatuhnya manusia ke bumi; seharusnya Eva mendapat penghormatan lebih karena kita berhutang cahaya pengetahuan kepadanya; nasibnya mengingatkanku pada Prometheus yang terbuang karena memberikan api dewa-dewa kepada manusia.

Ia meninggalkanmu bukan karena kesalahanmu. Ia meninggalkanmu karena ia tidak sanggup menjalani hidup bersamamu. Kaumnya selalu seperti itu; megalomaniak rapuh. Kau terlalu agung untuknya; itu bukan salahmu, tentu saja. Kau adalah perempuan yang perempuan; kau begitu rapuh—bukan rapuh yang luluh, tapi rapuh yang tangguh. Dan setiap perempuan memang dilahirkan sebagai sosok yang tangguh; tangguh karena utuh, utuh karena perempuan mengandung surga, karena surga ada di bawah telapak kaki ibu, karena surga ada di dalam liang perempuan.

Aku perempuan yang beruntung—bahkan sangat beruntung—katamu. Jika kupikirkan lagi, “sangat beruntung” terlalu berlebihan untukku. Aku tidak pernah memiliki hidupku sendiri. Tapi, aku tidak akan menyangkalnya; ia memang sangat baik kepadaku. Ia bahkan tidak pernah menuntutku menghangatkan ranjang kami yang lambat-laun menuju kebekuan sejak berlalunya tahun-tahun pertama kebersamaan kami. Aku berhutang banyak kepadanya—yang tak mungkin bisa kulunasi.

Seperti kau, aku juga telah menetapkan pilihan. Kau memilih yang gas untuk membebaskanmu—setelah yang padat dan yang cair menolakmu. Tapi, aku memilih yang cair; Sungai O. akan menjadi gerbang kemerdekaanku.

Simpanlah baik-baik suratku ini hanya di dalam relung-relung pikiranmu, bukan di relung-relung hatimu yang katamu tidak lagi utuh. Biarlah mereka—manusia-manusia di suatu saat nanti yang tidak terlalu jauh dari saat ini—hanya mengetahui dua surat terakhir itu; mereka tidak perlu tahu surat ketiga yang kutulis.

Tahun-tahun telah berlalu; Gelombang besar telah datang menghantam sekali lagi dengan lebih dahsyat; Sang Nyonya—aku—harus segera pergi, menuju Mercusuar yang memancarkan cahaya abadi, kembali ke tempat asalku—sebuah Ruang untuk diriku sendiri.

V.


About this entry