Eulogi
Eulogi
Bramantio
Pintu elevator terbuka lalu memuntahkan isinya yang langsung berhamburan ke mana-mana. Setelah melihat elevator kosong dua laki-laki dan dua perempuan yang sebelumnya menunggu memasukinya. Pintu elevator tertutup lalu merangkak naik dengan dengung tertahan.
Perempuan berkalung mutiara yang berdiri di sisi kanan belakang mengeluarkan cermin kotak mungil dan pemerah bibir dari tasnya. Ia lalu sibuk memoleskan pemerah menyala basah ke bibir yang sudah merah dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya memegang cermin mungil. Setelah memasukkan perkakasnya ke tas-kecil-tipis-persegi-panjang-hitam yang dikempitnya di ketiak kiri ia membenahi rambut sebahunya yang sebenarnya baik-baik saja dengan jemari lentik berkuku merah mengilap tangan kanannya. Dia selalu ingin melihatku tampil cantik, kapan pun, di mana pun, bahkan ketika bangun tidur. Terkadang membuatku kesal, tapi aku tidak pernah bisa berkata tidak kepadanya. Mungkin aku terlalu mencintainya. Entahlah. Atau hanya…. Ia menengok ke laki-laki berkacamata yang sedang becermin di sebelah kirinya. Ganteng. Tapi, mungkin saja dia sudah beristri atau memiliki puluhan kekasih. Tapi, tetap saja ganteng. Itu yang terpenting. Setiap perempuan tidak akan keberatan menjadi salah satu di antara yang puluhan itu, termasuk aku. Tiba-tiba laki-laki berkacamata menoleh ke arahnya. Ia cepat-cepat berpaling menatap ke depan. Matanya menumbuk tubuh bagian belakang perempuan berkerudung.
Laki-laki berkacamata yang berdiri di sisi kiri belakang membenahi dasinya sambil menatap lampu langit-langit yang terang sekaligus keruh. Ia melirik sekilas ke dinding yang mampu menangkap bayangan karena berlapis cermin, tersenyum tipis, lalu meraba dagunya yang menyisakan semu kelabu jejak janggut yang tercukur bersih. Ia menangkap bayangan perempuan berkalung mutiara di sampingnya tengah menatapnya. Ia segera menoleh ke arah perempuan berkalung mutiara yang langsung berpaling menatap ke depan. Cantik. Tapi, mungkin saja dia sudah bersuami. Pemerah bibirnya terlalu menyala untuk siang seperti ini. Mungkin saja dia pelacur profesional yang hanya melayani penghuni apartemen mewah seperti ini di waktu siang. Dadanya…. Ia memerhatikan dada perempuan berkalung mutiara yang menyembul indah terbalut blus ketat. Kira-kira berapa ya per jam? Ia menggeleng-geleng sambil menunduk. Ia mendengar bunyi lucu. Ia melirik ke depan, tetap dalam posisi menunduk. Betis yang indah. Bagaimana bisa aku melewatkannya begitu saja ketika menunggu elevator tadi? Seindah betisnyakah wajahnya? Ia menelusuri tubuh di depannya. Dia berkerudung. Seperti dia. Aku menyesal telah memperkenalkannya kepadamu. Mengapa perempuan selalu lebih memilihmu? Mengapa juga Tuhan masih saja memberimu lebih? Padahal kau sudah punya banyak. Dan sekarang, ketika untuk pertama kalinya aku bisa melebihimu…. Ia kembali menelusuri tubuh perempuan berkerudung yang tiba-tiba menggerakkan kepalanya sedikit menengok ke samping lalu agak ke belakang. Ia tahu telah tertangkap basah dan hal itu membuatnya tersedak lalu terbatuk. Laki-laki berambut pirang yang berdiri di depannya menoleh kepadanya. Ia tersenyum sambil sedikit mengangguk. Laki-laki berambut pirang tidak menaggapinya. Ada apa dengannya? Terlihat risih. Mengapa dia berkeringat di suhu seperti ini? Aneh.
Perempuan berkerudung yang berdiri di sisi kanan depan membenahi kerudungnya yang tidak sanggup menutupi ujung-ujung rambutnya. Ia mengusap matanya yang terlihat lelah masing-masing satu kali dengan buku telunjuk kanannya. Tangan kirinya menjulur ke bawah memegang tali tas-kotak-hitam berukuran sedang yang dari dalamnya mencuat mahkota putih lili. Bunyi lucu tiba-tiba menyeruak dari dalam tas. Ia merogoh untuk mengambil ponselnya lalu membaca pesan pendek. Ia tidak berniat membalasnya lalu memasukkanya kembali ke tas. Berapa kali harus saya katakan kepadanya saya tidak bisa menemuinya? Berapa kali harus saya katakan kepadanya ada hal penting yang harus saya lakukan? Mengapa dia tidak mau mengerti? Ia tampak kesal. Dia sangat berarti bagi saya. Dialah yang telah menghamparkan bumi dan membukakan langit untuk saya. Dialah yang telah menyediakan mata air yang selalu mengalir. Masa-masa itu menjadi salah satu masa terbaik dalam perjalanan hidup saya. Ia merasa ada yang mengamatinya. Ia menengok ke kiri dan melihat laki-laki berambut pirang yang sedang mengusap kening dan tengkuknya dengan sapu tangan kelabu. Dia berkeringat? Mungkinkah dia sakit? Ia menengok lebih ke belakang. Ia tidak bisa melihat wajah laki-laki berkacamata karena terhalang sisi kiri kerudungnya. Ia kembali ke laki-laki berambut pirang di sampingnya. Kau mengingatkanku pada dia. Hanya saja, dia berkumis dan tidak berambut pirang.
Laki-laki berambut pirang yang berdiri di sisi kiri depan menengadah menyaksikan pergantian angka merah menyala penunjuk lantai di atas pintu elevator. Ia menarik longgar dasinya. Ia mengeluarkan sapu tangan kelabu gelap dari saku kanan celananya lalu mengusapkannya ke kening dan tengkuknya. Lambat sekali! Ia membuat ketukan-ketukan pelan dengan sol sepatunya ke lantai elevator. Seharusnya tadi aku lewat tangga saja! Ia fobia ruang sempit. Tadinya ia berpikir tidak ada salahnya mencoba melawan rasa takutnya sendiri sedikit demi sedikit. Ia dikejutkan bunyi lucu. Ada-ada saja! Ia melirik perempuan berkerudung di sampingnya. Ketika keterkejutannya belum sirna, ia merasakan sentuhan mantap di bahunya. Laki-laki berkacamata yang berdiri di belakangnya maju mendekatinya. Ia menengok ke belakang dan melihatnya tersenyum. Sentuhan dan senyuman yang menenangkannya. Jantungnya mulai berdegup cepat. Kian lama kian cepat. Laki-laki berkacamata tidak hanya menyentuh bahunya, tapi mulai melingkarkan kedua lengannya ke tubuhnya melewati pinggangnya. Tidak ada lagi jarak di antara mereka berdua. Ia merasakan hembusan hangat nafas laki-laki berkacamata di daun telinga kanannya. Laki-laki berkacamata mengecup lehernya dengan lembut. Ia memejamkan mata menikmati kecupan. Kedua tangan laki-laki berkacamata mulai melolosi kancing kemejanya lalu menyusup meraba dada dan perutnya. Ia mendengar suara batuk. Ia segera menoleh ke belakang dan melihat laki-laki berkacamata tersenyum sambil sedikit mengangguk. Bagaimana bisa aku membayangkan hal itu?! Ia menggeleng-geleng sambil memijit keningnya dengan tangan kanan. Mendesahkah aku tadi? Atau bahkan melenguh? Semoga saja tidak. Ia menggeleng-geleng lagi. Maafkan aku. Aku benar-benar mencintaimu dan aku bahagia bersamamu. Percayalah. Hanya saja, bagiku sudah sangat lama sejak kita terakhir bertemu. Aku manusia biasa.
Elevator berhenti lalu pintunya terbuka. Laki-laki berambut pirang, perempuan berkerudung, laki-laki berkacamata, dan perempuan berkalung mutiara melangkah keluar. Pintu elevator di belakang mereka tertutup. Mereka berjalan sepanjang lorong dengan posisi sama seperti di dalam elevator. Pada awalnya mereka merasa biasa saja. Tapi, setelah menyadari mereka berempat terus berjalan bersama, mereka mulai bertanya-tanya kepada diri mereka sendiri. Siapa mereka? Samakah tujuan kami? Mereka berhenti di depan pintu 906. Mereka saling memandang untuk memutuskan yang akan mengetuk pintu. Dia lebih cantik daripada betisnya, setelah berhasil melihat wajah perempuan berkerudung. Dia tampan, tapi sepertinya mata ke ranjang, setelah berhasil melihat wajah laki-laki berkacamata. Puji Tuhan, dia juga tampan, setelah melihat wajah laki-laki berambut pirang dengan lebih jelas. Laki-laki berambut piranglah yang akhirnya mengetuk pintu setelah merapikan dasinya. Perempuan berkerudung mengeluarkan lilinya lalu memegangnya dengan takzim dengan kedua tangan di depan dadanya. Laki-laki berkacamata melihat ke kanan, kiri, atas, bawah. Perempuan berkalung mutiara mengamati kuku-kuku merah mengilapnya. Pintu terbuka dan gadis cilik berponi mempersilakan mereka masuk. Kedua perempuan masuk terlebih dulu disusul kedua laki-laki. Gadis cilik berponi menutup pintu.
Di sisi dalam ruangan terdapat sebuah peti-mati yang tertutup setengah. Di dalamnya terbujur laki-laki-berkumis lengkap dengan jas yang hanya terlihat dari kepala sampai pinggang. Perempuan berkerudung meletakkan lilinya di atas tutup peti-mati. Ia mengamati wajah laki-laki berkumis. Selamat jalan, Guru. Maaf jika saya belum bisa menjadi seperti yang Guru harapkan. Tapi, jangan khawatir. Saya pasti bisa suatu hari nanti. Ia mengusap airmatanya dengan kedua tangannya. Ia berjalan meninggalkan peti-mati lalu duduk di salah satu kursi kayu di deretan paling belakang. Ia terlihat kian sedih. Laki-laki berkacamata masih mengamati wajah laki-laki berkumis sambil memegang tepi peti-mati. Kau sangat beruntung, Kawan. Kau punya segalanya. Istri cantik, anak-anak lucu, apartemen mewah, jabatan tinggi. Kau selalu menjadi pemenang sepanjang hidupmu. Ia berjalan meninggalkan peti-mati, melihat sekilas istri laki-laki berkumis yang berdiri di antara kerabat, lalu keluar apartemen. Perempuan berkalung mutiara dan laki-laki berambut pirang yang masih berdiri di dekat peti-mati mengamati laki-laki berkacamata hingga lenyap. Mereka berdua saling memandang. Perempuan berkalung mutiara lalu mengamati wajah laki-laki berkumis. Kau pergi terlalu cepat. Kau belum memenuhi janjimu memberiku mobil baru. Tapi, sudahlah. Ia tampak kecewa. Aku melihat istrimu yang cantik. Tahukah dia tentang kita? Mungkin dia tahu, tapi kau tidak tahu dia tahu. Perempuan selalu lebih peka daripada laki-laki. Ia menyentuh dada laki-laki berkumis. Aku akan merindukanmu, Sayang. Ia berjalan meninggalkan peti-mati. Ia berharap bisa menyusul laki-laki berkacamata dan berkenalan. Laki-laki berambut pirang masih berdiri di dekat peti-mati sambil mengamati wajah laki-laki berkumis. Ia menghela nafas panjang. Akhirnya kau bebas. Ia berjalan meninggalkan peti-mati lalu duduk di samping perempuan berkerudung. Ia merunduk dalam-dalam. Ia meneteskan airmata.
“Dia guru yang baik,” kata perempuan berkerudung.
“Juga kekasih yang baik,” sambung laki-laki berambut pirang.
About this entry
You’re currently reading “Eulogi,” an entry on Solitude Solitaire
- Telah Diterbitkan:
- Januari 15, 2009 / 4:03 am
- Kategori:
- Bahasa & Sastra, Cerpen


2d Komentar
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]