Bipolar

Bipolar

Bramantio

Seminggu telah berlalu sejak peristiwa itu. Satu peristiwa yang membuat Aisha bimbang. Satu peristiwa yang membuat Aisha meragukan kemampuannya sendiri dalam melihat dan menilai seseorang. Satu peristiwa yang membuat Aisha memikirkan kembali orang-orang yang dikenalnya apakah mereka benar-benar seperti yang dilihatnya selama ini, ataukah ada sesuatu di balik itu semua.

Ý

Seminggu yang lalu, pada satu malam yang ditingkahi derasnya hujan, Aisha terpaksa berteduh di emperan sebuah toko waralaba yang buka dua puluh empat jam. Ia baru turun dari angkot yang telah mengantarnya dari menjenguk seorang teman yang dirawat di rumah sakit ketika hujan turun tanpa gerimis sebagai pendahuluan. Rumahnya berada di komplek perumahan yang tidak jauh dari toko itu, tapi karena tidak membawa payung, ia pun tidak bisa langsung pulang. Tukang ojek yang biasanya mangkal di seberang toko itu pun tidak satu pun terlihat olehnya. Ia melihat jam tangannya dan menemukan jarum kecil berada di angka sembilan dan membentuk sudut sembilan puluh derajat dengan jarum besar yang berada di puncak. Ia tidak biasa pulang semalam itu. Tapi, bukan itu semua yang meresahkan Aisha. Ia sudah menelepon rumah sesaat setelah turun dari angkot. Tidak ada yang bisa menjemputnya di emperan toko itu. Kedua orangtuanya berada di luar kota. Sopir pribadi keluarga dibawa serta. Adik laki-lakinya bermalam di rumah temannya. Hanya ada dua orang pembantu di rumah yang tentu saja tidak bisa mengendarai sepeda motor, lebih-lebih mobil. Yang meresahkan Aisha adalah pertemuannya di angkot dengan salah satu dosennya. Dosen yang begitu dikaguminya, bahkan pernah membuatnya jatuh cinta pada tahun pertama ia kuliah. Banyak temannya yang juga mengagumi sekaligus menaruh hati kepada dosen itu. Sampai detik ia berdiri di emperan toko itu Aisha masih ragu dengan penglihatannya sendiri. Ia telah melihat dosennya di angkot karena mata mereka beberapa kali bertemu. Hanya saja, tidak satu kata pun terucap dari bibir mereka. Waktu itu Aisha menjadi kikuk, bahkan untuk tersenyum pun ia tidak mampu. Dosen itu bernama Erik, berusia tiga puluh tiga tahun, masih lajang, berkulit putih, bermata sedikit sipit, berlesung pipit, berambut cepak, selalu bercukur bersih, selalu mengenakan kemeja kotak-kotak, celana jeans, dan moccasin, tas ransel ukuran sedang selalu tersampir di punggungnya, sedang menyelesaikan pendidikan doktoral, dan tentu saja disukai mahasiswa-mahasiswanya. Aisha menjadi kikuk karena Erik tidak berpenampilan seperti biasanya. Rambut cepaknya tertelan rambut hitam bergelombang sebatas bahu. Aisha yakin itu wig. Kemeja kotak-kotak, celana jeans, dan moccasin standarnya telah digantikan oleh blus merah berlengan pendek, rok ketat selutut, dan sepatu bertumit tinggi. Tas ranselnya juga telah digantikan dengan tas jinjing persegi berukuran kecil. Bibirnya berwarna merah menyala. Erik turun sebelum Aisha. Aisha menjadi pening dengan segala pikirannya sendiri, lebih-lebih ketika tahu Erik turun di depan sebuah hotel lalu berjalan anggun memasukinya. Ketika hujan menjelma gerimis, Aisha memutuskan untuk berjalan pulang.

Setiba di rumah, setelah mandi dengan air hangat dan berganti pakaian, Aisha tidak kunjung dapat memejamkan mata. Ia terus-menerus memikirkan pertemuannya dengan Erik. Ia terus-menerus meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya di angkot adalah Erik. Ia terus-menerus membayangkan segala kemungkinan yang bisa dilakukannya untuk mengungkap kebenaran. Ia baru bisa tidur satu jam menjelang azan subuh.

Ý

Dengan mata berat ia mengikuti perkuliahan sepanjang pagi, siang, hingga sore hari itu. Satu kali ia berpapasan dengan Erik di lorong kampus. Erik tersenyum kepadanya, Aisha pun tersenyum kepada Erik meskipun masih ada tanda tanya besar menggantung di pikirannya. Ia ingin menghentikan Erik untuk bertanya tentang peristiwa semalam, tapi ia ragu untuk melakukannya. Erik pun telah masuk ke kelas. Aisha menyusulnya hanya untuk melihatnya mengajar melalui kotak kaca pada pintu kayu. Hanya sesaat. Yang sesaat itu telah cukup untuk membuatnya yakin bahwa yang dilihatnya semalam adalah Erik. Garis wajah keduanya sama. Atau, bisa saja Erik memiliki saudara kembar perempuan, pikir Aisha. Keyakinannya pun kembali runtuh begitu saja.

Ý

Seminggu telah berlalu sejak peristiwa itu. Seminggu yang penuh kebimbangan dan tanda tanya. Pada akhirnya Aisha menemukan keberanian untuk mengajak Erik membicarakan peristiwa itu. Ia mendatangi Erik di ruang dosen pada jeda antarjam kuliah, bertanya ini-itu yang berkaitan dengan materi perkuliahan, bertanya ini-itu tentang segala kemungkinan yang berkaitan dengan tugas akhir yang akan dikerjakannya, dan bertanya tentang kesediaan Erik untuk berbicara dengannya di luar kampus. Pada awalnya Erik menanggapinya dengan langsung menanyakan maksud pertemuan itu. Aisha hanya menjawab ia tidak bisa membicarakannya di kampus, dan oleh karena itu perlu tempat lain. Erik pun tidak bertanya lebih jauh. Ia membuka PDA-nya sesaat, melihat jadwalnya minggu itu, lalu sepakat untuk menemuinya tiga hari mendatang di sebuah kafe di salah satu mal yang tidak jauh dari kampus mereka.

Ý

Aisha duduk di sudut ruangan. Di depannya telah berdiri segelas es teh lemon yang setengahnya telah berpindah ke perutnya. Ia gelisah. Ia sempat berpikir untuk meninggalkan kafe itu apabila Erik tidak datang dalam sepuluh menit kemudian. Ia akan meminta maaf dan mengatakan bahwa ia lupa telah membuat janji dengan Erik. Atau harus menemani ibunya berbelanja. Atau harus ke pernikahan sepupunya. Atau… Tapi, hal itu tentu saja tidak terjadi karena Erik datang tiga menit sebelum tenggat waktu sepuluh menit itu berakhir.

“Maaf membuatmu menunggu,” katanya ramah.

“Oh, nggak papa kok.”

“Sudah pesan ya?” tanyanya sambil melambaikan tangan memanggil pramusaji.

Setelah berbicara sebentar dengan pramusaji, Erik menatap Aisha,

“Jadi, ada masalah apa sebenarnya?”

“O, anu, ng…. Gimana ya?”

“Santai saja lah.”

“Iya, iya, begini….”

Ternyata “begini” itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai kata selanjutnya, dan pramusaji tadi pun telah datang dengan segelas jus jeruk dan roti bawang pesanan Erik.

“Terima kasih,” kata Erik.

Aisha masih belum berkata-kata.

“Jadi?” tanya Erik lagi.

“Ini tentang seminggu yang lalu.”

“Ada apa seminggu yang lalu?”

“Mas Erik tahu, kan?”

Erik yang selalu meminta mahasiswanya memanggilnya dengan langsung menyebut namanya atau “mas” hanya tersenyum.

“Ya, ya, aku tahu,” katanya sambil menyedot jus jeruknya, “Lalu?”

“Jadi, benar itu Mas Erik?”

“Sayangnya… iya,” katanya sambil tersenyum.

Aisha mendadak pening. Ia melihat sekelilingnya seolah mencari pegangan. Kedua telapak tangannya melekat erat di permukaan meja.

“Hei, kenapa?”

Nggak papa. Ng… cuma sedikit pusing.”

Erik mengambil sepotong roti bawang lalu menggigitnya sedikit. Ia melanjutkan berbicara sambil mengunyah pelan,

“Kamu hanya ingin tahu kebenarannya, bukan?”

Aisha tidak berkata apa-apa.

“Yang kamu lihat malam itu adalah kebenaran. Perkenalkan, selain Erik, aku juga Erika. Ya, Erika. Menurutmu aku cukup cantik sebagai Erika?” katanya sambil tersenyum.

“Bagaimana bisa, Mas?”

“Tentu saja bisa. Kalian tentu juga akan berkata, hare gene, apa seh yang nggak bisa! Hahaha. Ayolah, Aisha, kamu tidak perlu shock seperti itu.”

“Tapi, mengapa?”

“Haruskah segala sesuatu memiliki alasan? Kupikir Tuhan pun tidak memiliki alasan ketika mencipta alam semesta.”

“Tidak semua, tapi aku butuh penjelasan untuk yang satu ini,” kata Aisha yang dibuat terkejut oleh kata-katanya sendiri yang begitu mantap.

“Tentu saja berkaitan dengan menyambung hidup. Kamu tahu maksudku, bukan?”

Aisha hanya menatap Erik.

“Gajiku sebagai dosen tidak seberapa. Sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup kalau hanya mengandalkan gaji dosen. Lebih-lebih aku juga harus membiayai pendidikan doktoralku. Ini seperti lingkaran samsara. Hahaha. Kamu mungkin bingung dengan yang satu ini karena orang-orang selalu menyebutnya sebagai lingkaran setan. Ya, lingkaran samsara. Aku bekerja untuk membiayai pendidikanku yang juga sangat penting untuk diselesaikan supaya dapat meningkatkan golonganku sebagai pegawai negeri. Kamu tahu maksudku, bukan?”

Aisha hanya mengangguk.

“Mungkin aku salah dalam memahami semua ini. Bekerja di dunia akademik tidak seharusnya mengharapkan materi. Tapi, mau bagaimana lagi. Untuk itulah aku mencari side job, dan kamu sudah tahu apa side job-ku.”

“Tidak adakah pekerjaan yang lain?”

“Tentu saja ada, bahkan banyak, tapi aku menyukai yang ini. Bekerja beberapa malam bisa menutup pengeluaranku selama sebulan bahkan lebih.”

“Tapi….”

“Tidak ada tapi-tapian, Aisha. Hakikat bekerja adalah bekerja, mendapat uang, selesai. Jadi, tidak penting apa pekerjaannya. Lagipula, yang kulakukan tidak merugikan orang lain.”

“Tapi….”

“Aisha, apakah semua ini lantas menjadikanku buruk sebagai manusia? Apakah kini kamu menganggapku rendah? Dan apakah setelah mengetahui semua ini kamu menganggapku tidak layak menjadi dosenmu dan dosen teman-temanmu?”

Ý

Pembicaraan dengan Erik menjadi hantu yang terus-menerus mengganggu hari-hari Aisha. Ia masih sulit menerima kenyataan bahwa Erik benar-benar perempuan yang dilihatnya di angkot malam itu. Erik adalah Erika. Erika adalah Erik. Aisha pun tidak henti-hentinya memikirkan sesuatu yang mungkin bersembunyi di balik orang-orang yang dikenalnya: Bapakku, lelaki terhormat, menyayangi keluarga, bekerja siang-malam, selalu mengirimkan sms-sms penuh perhatian kepada anak-anaknya. Tapi, mungkin saja ia pernah tidur dengan banyak perempuan meskipun telah berikrar setia pada ibuku, atau punya belasan anak dari perempuan-perempuan yang tidak pernah dinikahinya. Ibuku, benarkah ia sebaik dan selembut yang terlihat dari luar? Jangan-jangan ia penikmat hubungan seks S&M dan mencari orang-orang di luar sana yang entah siapa untuk memuaskannya. Adikku, masih SMA, sering keluar malam dengan alasan belajar atau berlatih bermain musik bersama teman-temannya. Bisa saja ia terlibat jual-beli obat-obatan terlarang, bahkan menjadi bandar termuda yang pernah tercatat dalam sejarah perdagangan obat-obatan terlarang dunia. Cynthia, sahabatku, rasa-rasanya ia memang telah melakukan operasi untuk memperbesar payudaranya, hidungnya juga lebih mancung. Tapi, mengapa ia tidak pernah menceritakannya kepadaku? Apakah ini ada kaitannya dengan orang di dalam mobil mewah yang menjemputnya setiap selesai kuliah? Arman, mantan pacarku, memutuskanku begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kata teman-teman ia sekarang sering jalan bareng Dino. Mungkinkah ia memutuskanku supaya bisa beralih sepenuhnya ke Dino? Pak Djoko, sopir pribadi keluargaku, sepertinya suka sekali mencuci mobil pada jam keberangkatan anak-anak TK dan SD yang lewat di depan rumah. Pedofilkah? Lalu, aku… Ya aku… Siapa sebenarnya perempuan di balik kerudung dan pakaian-pakaian panjang melambai ini? Benarkah semua ini bertujuan mendekatkan diri kepada Tuhan ataukah cuma menutupi masa lalu? Masa lalu yang belum begitu lama berlalu. Dalam seragam putih abu-abu. Di toilet pesing sekolah. Di antara himpitan dinding basah dan tubuh basah keringat bau rokok. Meratapi sekaligus menikmati. Satrio keparat, di mana kau kini? Kauberi aku rasa yang sangat kurindukan kini!


About this entry