Makam
Makam
Bramantio
Untuk ke sekian kali saya melakukan sebuah rutin mingguan: mengunjungi makam Bapak dan Ibu saya. Berbekal beberapa tangkup bunga apa pun yang sedang mengada di halaman rumah sendiri yang tidak terlalu lapang membentang untuk kemudian direndam air sumur pada sebuah wadah plastik sedalam jarak ujung jari tengah sampai pergelangan tangan, saya menghabiskan tidak pernah lebih dari tiga puluh menit di sehampar tanah datar berornamen nisan-nisan. Tapi yang kurang dari seribu delapan ratus detik itu senantiasa menghadirkan nuansa yang tidak biasa dalam kebiasaannya. Istimewa dalam kesederhanaannya.
Setiap kali melangkah melewati jalan masuk ke tanah makam, ada rasa yang hadir serupa sebuah tanggapan atas ucapan selamat datang di dunia lain. Bukan dunia lain yang bermakna dunia orang-orang mati, berkonotasi menakutkan, atau setidaknya membuat jengah. Hanya sebuah dunia lain. Dunia lain yang sesungguhnya begitu tidak berjarak. Keniscayaan yang tidak terelakkan. Sepetak kecil ruang dan waktu di dalam ruang dan waktu yang jauh lebih besar. Sepanjang ingatan saya, tidak sekalipun saya merasa tidak nyaman di tempat itu. Ada hening yang bukan titik absolut atas sunyi senyap, ada teduh yang bukan kesejukan pada raga yang tertabiri, juga ada damai yang bukan sepenuhnya masa seusai pekik amarah banjir darah perang akbar. Hanya semacam bening yang melenggang tenang tanpa denting. Serupa hampir moksa setelah entah berapa lama terbelenggu samsara di dalam reinkarnasi.
Angin menjadi begitu ramah di tempat itu. Menggoyang pelan dedaunan bambu pada batang-batang menjulang di sisi utara untuk kemudian saling menggesek dengan sesamanya melahirkan kemerisik acak seperti desah melepas resah dan lelah. Matahari pagi tidak pernah bundar sempurna karena galur-galur benang cahayanya seperti sedang melakukan permainan ada dan tiada, tangkap dan lepas, dengan dedaunan dan angin. Ada cuit-cuit imut yang melompat-lompat tidak pernah datang dari satu pijakan yang sama. Tanah basah oleh hujan semalam menguarkan aroma yang hanya ada di tempat itu dan tempat-tempat lain seperti itu, mungkin karena tanah makam tidak sekadar tanah, tapi semacam sintesis antara dirinya dan diri-diri yang pernah manusia. Semacam aroma kehidupan yang beralih rupa, aroma jiwa yang tidak lagi terbentengi badan wadag. Dan di tempat itu indera pun menjadi begitu peka.
Sebuah tidak lebih dari tiga puluh menit yang berisi beberapa larik doa sederhana dalam bahasa sendiri, beberapa gerakan tangan menabur bunga menuang air, menyaksikan yang cair meresap seketika dan sebagian lagi mengalir untuk kemudian juga meresap di tempat yang lebih rendah, berjalan pelan ke sana-ke mari sambil sesekali membaca tulisan yang masih terpatri pada nisan membersitkan betapa bayi betapa bocah muda betapa tua betapa hidup lalu semuanya betapa mati, duduk hanya untuk menekuri sekeling sejauh mata mampu menatap memandang melihat, mendengar detak jantung dan hembus nafas sendiri, meraba kekosongan yang sesungguhnya begitu penuh sesak oleh yang banal yang subtil yang sublim, mungkin juga cerita-cerita yang ingin saya bagi dengan yang tidak lagi hidup, sebuah laku bercerita tanpa mengharap tanggapan lebih-lebih penilaian dan penghakiman, serupa senyum, tawa, airmata, tangis, dan keluh-kesah yang tidak terpahami oleh raga-raga yang masih menjadi penjara bagi ruh.
About this entry
You’re currently reading “Makam,” an entry on Solitude Solitaire
- Published:
- Mei 22, 2009 / 7:14 am


No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]