Membaca Sastra, Mengalami Kehidupan, Mencipta Dunia

Prolog

Masih segar di dalam ingatan saya, perjumpaan pertama saya dengan sastra modern belasan tahun yang lalu. Pada suatu malam yang belum terlalu larut, ketika aroma matahari masih menggantung di udara yang mulai memberat oleh penurunan suhu meskipun hanya beberapa derajat, saya menerima sebuah buku dari orangtua saya. Kalimat don’t judge the book by its cover sesungguhnya tidak pernah berlaku pada saya, karena sampul adalah yang pertama-tama menjerat mata untuk mendekat, merangsang rasa ingin tahu, menggoda jemari untuk membuka halaman pertama hingga lembar pamungkas menamatkan sebuah cerita sebentuk dunia. Dengan sampulnya yang berwarna biru cerah, buku itu benar-benar membuat saya tertarik, dan beberapa saat kemudian saya tahu bahwa buku itu adalah sebuah novel: The Life and Death of Superman. Ada pesona tersendiri yang dihadirkan novel itu, bukan karena sampul biru cerah dan Superman-nya, tetapi pada judul tentang kematian Superman disertai gambar emblem S berwarna merah yang meleleh menyerupai leleran darah. Malam itu saya bertekad menyelesaikan membaca sepenggal kehidupan Superman yang tidak seperti yang saya ketahui sebelumnya. Malam itu saya seolah mendapat kebebasan untuk melihat Superman dan tokoh-tokoh lain di sekitarnya tidak seperti sosok-sosok yang sama yang pernah hadir di film layar lebar maupun serial televisi. Hanya saja, ingatan tentang esok pagi harus pergi ke sekolah berhasil menghentikan saya pada titik tertentu sehingga durasi tidur malam saya pun tidak terpotong terlalu lama dan tidak menjadi alasan untuk bangun kesiangan. Sejak saat itu pencarian saya pada buku-buku serupa pun dimulai. Dengan bekal pengetahuan yang masih begitu sedikit tentang sastra, termasuk nama-nama pengarang, pencarian saya sepenuhnya dipandu oleh impresi sampul depan, judul, dan penggalan cerita di sampul belakang.

Cakrawala Pengetahuan dan Kerendahhatian

Pengalaman saya bersentuhan dengan sastra tentu juga dialami oleh para pembaca sastra meskipun impresi dan sensasinya mungkin berbeda. Ada sesuatu yang hadir setiap kali membaca sastra. Adakalanya serupa padang pasir tandus yang tidak memberikan banyak kecuali panas menganga yang menghisap udara, di lain waktu seperti permukaan air samudera yang tenang tetapi menyimpan jerat arus dan monster mematikan di kedalamannya, dan tidak jarang bagaikan labirin yang bagaimanapun menyesatkannya tetap memiliki pesona tidak tertahankan untuk dimasuki, dijelajahi dalam gelap, hingga di ujung entah di mana ada sebentuk cahaya manis atau Minotaur pemangsa segala yang hidup. Sastra memberi peluang bagi pembacanya untuk menyaksikan peristiwa demi peristiwa melalui sudut pandang yang mungkin tidak pernah dibayangkan, merasakan dan mengalami yang dirasakan dan dialami oleh sosok-sosok yang adakalanya hidup jauh di tanah seberang atau bahkan berasal dari dunia yang tidak termaktub di dalam Atlas setebal apa pun terbitan kapan pun, mempelajari sejarah dengan cara yang tidak ditawarkan oleh buku-buku pelajaran, mengenal teori-teori spekulatif yang tetap berpijak pada perkembangan ilmu pengetahuan di balik dinding laboratorium rahasia, menyelami kondisi kejiwaan individu dan masyarakat pada suatu ruang dan waktu, menelusuri jejak evolusi pemikiran dari masa ke masa, dan menjadi bagian dari sebuah kehidupan yang bukan kehidupannya. Sejalan dengan hal itu, membaca sastra adalah semacam laku menahan diri, melatih kesabaran, dan menjadi manusia yang rendah hati karena ketika seseorang memutuskan untuk membaca sastra, ada kesepakatan tidak terucap lebih-lebih tertulis bahwa ia bersedia untuk terseret sedemikian rupa di dalam kelindan kata dan menerima dengan lapang dada kebahagiaan surgawi, keharuan yang membiru, kesenangan alakadarnya, goresan luka, kekecewaan mendalam, bahkan dendam kesumat di akhir cerita.

Realitas, Imajinasi, Interpretasi

Banyak orang membaca sastra, mengetahui mana yang sastra dan mana yang bukan, menjadikan sastra sebagai bagian hari-harinya, dan sepenuhnya memahami eksistensi sastra di dalam kehidupan. Meskipun demikian, hal yang berbeda akan terjadi ketika pembicaraan mulai menginjak tentang apa itu sastra. Di salah satu sisi dunia, fiksionalitas menjadi hal terpenting di dalam sastra. Di sisi yang berbeda, realitas dan sejarahlah yang dianggap menjadi nafas utama sastra sehingga sastra adalah realitas dan sejarah itu sendiri. Ada pula yang menyatakan bahwa sastra adalah tarik-menarik antara fakta dan fiksi. Bagi saya, sastra adalah sintesis realitas, imajinasi, dan interpretasi. Semusykil apa pun dunia yang terdapat di dalam sastra, realitas tetap menjadi dasarnya. Seorang pengarang dalam mencipta sastra tidaklah berbekal kemelompongan. Meskipun tidak menulis tentang diri dan kehidupannya sendiri, segenap pengetahuan dan pengalamannyalah yang memberikan sumbangan terbesar di dalam proses penciptaannya. Pengalaman di sini tentu tidak hanya dipahami sebagai pengalaman langsung, tetapi juga termasuk pengalaman baca dan pergaulannya dengan orang-orang di sekitar. Karena sastra bukan berita, realitas saja tidak cukup. Imajinasi diperlukan dalam merekonstruksi realitas, bahkan dalam sastra beraliran realisme pun imajinasi tetap memiliki peran besar. Dalam menulis sastra, pengarang tidak mencipta ulang realitas secara utuh, ia hanya mencipta ulang realitas dari sudut pandangnya. Pengarang mencipta sastra sebagai interpretasinya atas realitas. Oleh karena itu, merupakan sebuah kewajaran apabila adakalnya pembaca memiliki argumen yang berbeda dengan hal-hal yang tersaji di dalam sastra, merupakan hal yang biasa ketika pembaca menjumpai dunia yang hadir di dalam sastra sebagai dunia yang lebih buruk atau lebih baik daripada dunia yang sebenarnya, sebuah dunia yang dibuka oleh “pada suatu hari” dan ditutup dengan “berbahagia selama-lamanya”, atau bahkan sebuah dunia yang hanya bisa dibayangkan tetapi tidak untuk dijalani hingga kapan pun.

Jurugambar dan Jurufoto

Sastra dan tulisan lain pada umumnya memiliki setidaknya dua metode dalam pembentukannya. Metode pertama: katakanlah seorang jurugambar duduk di sebuah kursi beroda lima lengkap dengan sandaran punggung dan tangan di sebuah studio dengan sebatang pensil di satu tangan dan kertas gambar ditindih tangan yang lain di atas meja berpenerang lampu yang cahaya putihnya lebih putih daripada susu. Dengan pensil itu ia bisa membentuk apa pun yang ada di pikirannya ke dalam kertas, menarik garis lurus untuk kemudian dibengkokkannya, membesarkan atau mengecilkan, memberi isi dan hidup berdasarkan pengalamannya mengindera tanpa harus menghadirkan secara langsung benda-benda yang akan digambarnya ke hadapannya. Ia memiliki kebebasan penuh dalam membentuk sebuah dunia yang diinginkannya. Ia bisa saja membiarkan dunianya tetap dalam monokromatik hitam, kelabu, putih, atau melapisinya dengan warna-warni yang bisa jadi jauh berseberangan dengan warna-warni aslinya. Metode kedua: anggaplah seorang fotografer dengan kamera yang mungkin lengkap dengan penyangga kaki tiganya terpancang di sebuah titik di muka Bumi. Ia sebelumnya telah memilih objek yang tepat yang sekiranya memiliki potensi untuk memuaskan hasratnya dalam menangkap momen, memerangkap benda-benda, dan mengabadikan kesementaraan dalam sebentuk materi bernama foto yang bisa jadi hanya berukuran tak lebih dari luas telapak tangan atau panjang kali lebar lapangan sepak bola. Fotografer ini nantinya bisa saja mengubah objek-objek di dalam foto hasil jepretannya menjadi sesuatu yang berbeda dari aslinya. Meskipun demikian, tidak seperti jurugambar yang sejak awal memiliki kebebasan dalam berekspresi, fotografer dengan sadar telah mengikatkan dirinya pada objek. Ia tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa adanya objek yang mengada di hadapannya. Baik sebagai jurugambar maupun fotografer, sastra secara tidak langsung membebankan semacam hampir kewajiban bagi penulisnya untuk menjadi pengamat cermat atas hal-hal yang tertangkap secara gamblang oleh pancainderanya, yang bergejolak di bawah permukaan raga berupa dinamika perasaannya, dan yang tidak kasat mata namun teraba oleh nuraninya.

Kreativitas Berbahasa

Penceritaan. Kata itulah yang merealisasikan kata cerita. Cerita tidak akan sampai ke pembaca tanpa ada penceritaan, tanpa ada yang menceritakan, jurucerita yang mungkin luar biasa, mungkin biasa-biasa saja, atau begitu buruknya hingga membuat jenuh lalu mengantuk. Sebuah cerita yang sesungguhnya mengagumkan bisa jadi membosankan ketika diceritakan dengan cara yang itu-itu saja dan bertele-tele. Gagasan-gagasan besar akan kehilangan artinya ketika sang empunya terlalu asyik dengan dirinya sendiri, terus-menerus menggali relung-relung pikirannya yang bercecabang jalin-menjalin serupa labirin gelap pekat tanpa setitik terang yang hanya ia yang tahu jalan keluarnya, mungkin juga masih ditambah dengan bahasa yang belepotan, sehingga gagal berkomunikasi dengan para mitra tuturnya. Sebaliknya, hal-hal sederhana menjadi istimewa atau setidaknya menggugah ketika diceritakan dengan sedemikian rupa, membawa udara yang meskipun tidak luar biasa menyegarkan, cukup untuk memasok kehidupan pembacaan. Segala yang remeh-temeh, yang tadinya dianggap tidak bermakna karena telah begitu tidak berjarak, bisa saja menjelma mencengangkan ketika jurucerita menghadirkannya dalam bentuk atau wadah yang tidak biasa. Dengan kata lain, sastra adalah kreativitas berbahasa. Kreativitas di sini pun tidak diartikan sebatas sebagai usaha menciptakan semacam sirkus dengan bahasa akrobatik dan berbunga-bunga di dalamnya, tetapi bagaimana menghadirkan kembali begitu banyak hal melalui tenunan kata dari bahasa yang perbendaharaannya terbatas dan tidak sekaya realitas. Bersastra berarti mengeksplorasi kemungkinan berbahasa untuk mencapai bentukan-bentukan estetis yang menghasilkan efek-efek tertentu pada pembaca. Eksplorasi yang demikian pun pada perjalanannya dapat pula dipahami sebagai usaha merawat bahasa, memberi kehidupan kedua bagi kata-kata yang telah terasing atau  dianggap mati, dan bahkan menciptakan konstruksi-konstruksi baru untuk memperkaya khazanah bahasa suatu bangsa.

 

Menulis dapat berawal dari banyak hal: pengalaman pribadi atau orang lain, sebuah pertanyaan tentang hal-hal sederhana yang dekat dengan keseharian, rasa ingin tahu, pembacaan atas buku-buku, media audio visual, atau bahkan atas kehidupan itu sendiri, dan gairah untuk menyingkap tabir yang menjadikan sejumlah hal serupa teka-teki silang sengkarut. Setiap lema atau entri pendek dalam sebuah kamus bahasa pun dapat menjadi embrio sebuah tulisan. Masa lalu yang setia hadir menyesaki ingatan juga merupakan materi yang sesungguhnya tidak pernah usang untuk ditulis ulang selama disajikan dengan perspektif yang segar.

Hakikat menulis adalah menulis, sebuah tindak komunikasi melalui media berupa aksara, penanda bebunyian, atau simbol-simbol tertentu yang bisa bermakna tidak sekadar satu. Jadi, yang penting menulis saja dulu dan tidak perlu terlalu merasa terbebani oleh hal-hal pascapenulisan. Sebuah kalimat hari ini memiliki kemungkinan menjadi cikal-bakal atau menjadi salah satu unsur pembangun sebuah tulisan yang lebih besar pada suatu hari nanti. Berkaitan dengan hal itu, tradisi mencatat apa pun menjadi penting dalam proses penulisan karena gagasan adakalanya serupa kelebat bintang jatuh yang cemerlang, tetapi tidak membekaskan apa pun di langit ingatan beberapa detik setelah kemunculannya.

Selama proses penulisan adakalanya seseorang menemui jalan buntu yang dikenal dengan sebutan writer’s block. Meskipun demikian, bukan berarti tulisan tersebut benar-benar kehilangan peluangnya untuk terus tumbuh, lahir, dan melanjutkan hidup di tengah-tengah para pembacanya di kemudian hari. Seorang penulis, diakui atau tidak, pada beberapa titik selama proses penulisannya memerlukan jeda untuk rehat sejenak sekaligus membangun jarak dari tulisannya. Hal ini tidak sama dengan tindakan melarikan diri, tetapi lebih pada semacam usaha untuk menyegarkan diri sekaligus melihat dengan lebih menyeluruh hal-hal yang telah ditulisnya. Di sisi lain, seorang penulis pun semestinya menyadari bahwa ia tidak boleh terus-menerus dalam kondisi atau melakukan refreshing. Salah satu hal yang menjadikan seorang penulis dapat mengondisikan dirinya produktif adalah dengan menetapkan deadline penyelesaian tulisannya. Setiap akhir adalah sebuah awal yang baru. Ketika sebuah tulisan berhasil diselesaikan, secara otomatis penulis pun akan memasuki sebuah tahap “siap menulis” lagi dengan mengoptimalkan kembali kinerja pancaindera, pikiran, dan kemampuan berbahasanya.

Nalar Sastra

Tulisan seimajinatif apa pun dan interpretasi atas sastra tidak semestinya mengabaikan nalar. Nalar di sini tidak dalam pengertian masuk akal atau tidak masuk akal dalam perspektif realitas, tetapi lebih pada kecermatan dalam pengolahan data, kekonsistenan dalam berbahasa, dan keruntutan dalam menafsir. Di dalam sebuah cerita, sebuah dunia, hal-hal kecil dan sepele bisa jadi justru memiliki peran besar dalam memperindah atau menghancurkan strukturnya. Lebih lanjut, sastra memang memiliki ruang-ruang terbuka untuk diisi oleh pembacanya, tetapi bukan berarti pengisiannya boleh sesuka hati. Pengisian ruang-ruang terbuka atau interpretasi sastra harus tetap berdasar pada sastra, bukan pada keinginan dan harapan pembaca. Hasilnya pun semestinya dapat dikembalikan kepada teks. Dengan begitu, menulis dan membaca sastra tidaklah sesederhana yang mungkin selama ini dibayangkan oleh sebagian orang. Menulis dan membaca sastra memerlukan kejernihan nalar atau katakanlah latihan terus-menerus untuk menjernihkan nalar.

Epilog

Sastra merupakan sebuah dunia yang diciptakan oleh pengarang untuk kemudian diciptakan kembali oleh pembacanya. Senantiasa ada jarak yang kadang terbentang begitu jauh antara yang diniatkan oleh pengarang dengan yang berhasil ditangkap dan dipahami oleh pembaca karena masing-masing menulis dan membaca dengan pengalamannya yang tidak pernah sama persis. Bersastra menjadi sebuah laku pengoptimalan berbahasa sekaligus penghormatan atas bahasa. Sastra memang tidak bisa melakukan hal-hal gigantik dan kasatmata untuk mengubah wajah dunia secara material, tetapi sastra mampu memperluas cakrawala pengetahuan hingga ke sisi-sisi yang tidak terduga, menggerakkan pikiran untuk menelusuri riwayat segala sesuatu, menghembuskan pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan, memijarkan rasa yang mungkin telah terpinggirkan oleh kehidupan industrial mekanik robotik, mewariskan ingatan dari satu generasi ke generasi berikutnya berabad-abad kemudian, dan dengan caranya yang unik mengingatkan manusia pada kemanusiaannya. Dunia dalam sastra adalah sebuah dunia alternatif yang memiliki potensi untuk membebaskan baik pengarang maupun pembacanya.

~Bramantio


About this entry