Estetika dalam Jarak

Estetika dalam Jarak:
Kajian pemikiran Edward Bullough
Yesaya Sandang

Malvin Rader dalam bukunya Modern Book of Esthetics an Anthology mengategorikan seni dalam tiga bagian, yaitu 1. Subjek seni sebagai penghasil karya seni, dan seni sebagai proses kreatif yang dari sana dibahas pemikiran di balik karya seni dan pemikiran seputar estetika, 2. Objek seni di mana dibahas output proses kreatif tersebut, dalam hal ini karya seni itu sendiri, dan 3. Subjek seni lainnya yang dalam hal ini diartikan sebagai penikmat seni, baik individu maupun masyarakat, yang dari sini dibahas seputar pemikiran di balik seni dan estetika dari prespektif penikmat (spectators).

Dalam konsepsi trikotomi seni dan estetika Malvin Rader ini menarik kemudian untuk memahami apa yang dibahas oleh Edward Bullough melalui tulisannya “Psychical Distance’ as a Factor in Art and as an Aesthetic Principle.”(1)  Oleh Malvin Rader, tulisan Bullough ini ditempatkan pada bagian ketiga dari buku yang dieditnya (spectators). Sehingga dengan demikian kita dapat memahami apa yang coba dibahas oleh Bullough dengan konsep kuncinya yaitu “Psychical Distance”/Jarak Psikis, dari sudut pandang subjek sebagai penikmat seni (spectator of art).

Bullough memulai pembahasannya dengan mengintrodusir konsep distance/distansi/jarak dalam kaitannya dengan seni dan estetika, yaitu:(2)

1. Actual spatial distance or represented spatial distance
Pada model ini yang dimaksud adalah jarak sesungguhnya antara karya seni dan penikmat seni danatau jarak yang mewakili karya seni atau proses kreatif dari sang seniman dengan sang penikmat karya seni tersebut. Pada model ini dapat dipahami bahwa sesungguhnya di dalam setiap karya seni terdapat jarak yang membentang dalam pola korelasi untuk menikmati atau memahami karya seni tersebut secara apa adanya dan secara langsung.

2. Temporary distance
Temporary distance yang dimaksud Bullough adalah bukan hanya adanya jarak ruang antara suatu karya seni dan penikmat seni, melainkan juga terdapat jarak waktu yang mewakili karya seni tersebut dengan sang penikmat seni. Akan tetapi, apa yang coba dibahas Bullough secara lebih jauh bukan kedua hal tersebut yang nyata-nyata dapat ditolerir secara apa adanya, melainkan yang menjadi penting adalah

3. Psychical distance
Yaitu jarak yang bukan saja ada, tetapi jarak harus diambil oleh sang penikmat seni yang mewakili kualitas estetik dari sebuah karya seni. Dalam menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan jarak psikis tersebut, Bullough menggunakan ilustrasi kabut di tengah laut untuk menjelaskan titik pangkal pengalaman estetis. Melalui ilustrasi tersebut Bullough menjelaskan bahwa dalam mencoba memahami suatu karya seni dan nilai estetik yang terkandung di dalamnya, pada awalnya terjadi proses peralihan (switch) yang menghasilkan pengalaman estetis.(3)

Lebih jauh Bullough menjelaskan bahwa dalam menyaksikan suatu karya seni dengan pengalaman estetis tertentu terkait erat dengan beradanya sang penikmat seni dan sisi afektifnya, sehingga diperlukan pengambilan jarak yang cara kerjanya tak serta-merta mudah begitu saja, melainkan harus dilihat secara bipolar, yakni pada satu kutub sang penikmat seni harus dapat memisahkan dirinya dari objek seni tersebut secara langsung dalam menyikapinya dan pada kutub yang lain tindakan mengambil jarak tersebut harus dielaborasi dan dikontemplasikan, secara seimbang.

Dari sini jelas bahwa jarak psikis yang dimaksud oleh Bullough mensyaratkan sebuah pengalaman estetis dari dalam diri penikmat seni, Bullough hendak mempertajam pengalaman estetis tersebut melalui pengambilan jarak. Distansi dicapai dengan pemisahan diri dari karya seni dan pesonanya dengan selera penikmat seni melalui menempatkannya diluar lingkar tujuan dan keperluan praktis semata. Dengan distansi dimungkinkan kontemplasi terhadap karya seni tersebut, tanpa membuat pengalaman estetis tersebut menjadi impersonal melainkan memberikan nuansa yang jauh lebih mendalam dan semakin personal dalam kekhasan yang dikandung karya seni tersebut.

Ciri khas dari pengambilan jarak estetis ada pada proses. Objek seni/karya seni harus diolah sedemikian rupa dan disaring dari apa yang seolah-olah hanya tampak normal apa adanya begitu saja menjadi sesuatu yang meninggalkan pesona dan nuansa estetis yang dapat dihayati. Lebih lanjut Bullough menjelaskan tentang antinomy of distance, di mana keterarahan kontemplatif kepada objek seni akan meningkat secara proporsional jika kontemplator bebas mengadopsi suatu sikap yang lebih impersonal. Arti yang benar terdiri dari pengurangan jarak tanpa penghilangannya, yaitu daya tarik maksimum personal yang berbanding dengan jarak.(4)

Bullough juga menyebut dua kemungkinan kehilangan distansi, yaitu : terlalu berdistansi (over distance), yang dapat memunculkan sikap dingin, dan yang kedua kurang berdistansi (under distance), yang menyebabkan indetifikasi diri terlalu masuk. Distansi yang ideal seyogyanya terletak pada keseimbangannya, terletak pada tengah-tengah antara over distance dan under distance.

Epilog

Kajian estetika yang coba disajikan oleh Edward Bullough rupa rupanya memberikan prespektif yang berbeda dalam mencermati suatu objek seni yang ada dihadapkan kita. Bagi Bullough yang menjadi penting adalah suatu pemahaman kontemplatif yang mendalam dari suatu karya seni sehingga hakikatnya kita sebagai penikmat seni dapat menembus selubung kabut dan menemukan makna dari karya seni tersebut secara personal tanpa kehilangan unsur asalinya. Dengan konsepsi jarak yang dijelaskan oleh Bullough kita dapat memahami bahwa sejatinya dalam persoalan memahami sebuah karya seni, perlu suatu pendasaran tafsir dalam keberjarakan agar tercapai sebuah pemahaman personal yang tentunya dapat semakin memperkaya si penikmat/penafsir

Dalam keberjarakan, Bullough menawarkan suatu spektrum yang berbeda, alih-alih kita dipaksa untuk mendekatkan diri pada karya seni dengan berbagai cara, kita lebih diajak untuk melihat sebuah karya seni secara apa adanya dalam ruang permenungan yang personal, dan tetap mengindahkan jarak yang ada. Kenyataan bahwa memang ada jarak tidaklah menjadi sesuatu yang menghalangi, melainkan menjadi semacam katalis untuk mecapai apresiasi yang sublim terhadap karya seni tersebut.

Catatan
1. teks asli Edward Bullough dpt dilihat di web berikut ini
http://www.csulb.edu/~jvancamp/361_r9.html
2. Modern Book of Esthetics an Anthology, Malvin Rader, p 369
3. Ibid, 370
4. Ibid, 372; lihat juga Mudji Sutrisno, Teks-teks Kunci Estetika, Galang Press, Jogja, 2005.


About this entry