Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900)

Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900)

“Manusia Super” (Ubersmansch), dan Kehendak Untuk Berkuasa

Oleh Yesaya Sandang

Nietzsche lahir di Rocken, Prusia (berdekatan dengan Leipzig) pada tanggal 15 Oktober 1844. Nama Friedrich Wilhelm diambil dari nama raja Prusia (Friedrich Wilhelm IV) yang tanggal lahirnya bertepatan dengan hari kelahiran Nietzsche.Ia meninggal di Weimar pada tanggal 25 Agustus 1900 karena pneumonia.Nietzsche dilahirkan ditengah-tengah keluarga penganut Protestan Lutheran yang sangat saleh. Ayahnya adalah seorang pendeta dan sangat menaruh harapan besar pada anaknya agar kelak ia dapat menjadi seorang pendeta. Sebagai seorang yang berasal dari keluarga pendeta, tak heran kalau Nietzsche sangat tekun membaca Alkitab. Membaca adalah salah satu kegemaran utama Nietzsche, meskipun hal ini menyakitkan matanya yang lemah.

Pada masa kecilnya Nietzsche dikenal sebagai anak dengan perangai yang halus, bahkan oleh teman sebayanya ia sering dijuluki sebagai “pendeta kecil” dan beberapa diantara mereka menggambarkannya sebagai”seorang Yesus yang hidup kesepian di biara”. Pada masa-masa ini Nietzsche gemar menyendiri dalam kesunyian sambil membaca dan merenung. Ia tumbuh menjadi sangat pemalu, sangat lemah lembut dalam tata pergaulan dengan orang-orang disekelilingnya, tidak banyak bicara dan pada umumnya memberikan kesan sebagai seorang yang lemah dan letih.

Pada tahun 1854, Nietzsche masuk Gymnasium di kota Naumburg, namun empat tahun ia pindah ke sebuah sekolah asrama Lutheran. Di sana, Nietzsche sudah membaca karya-karya para sastrawan dan pemikir besar, dan ia sangat mengagumi kebudayaan Yunani kuno, maka pada saat itu ia sangat meminati Plato dan Aeschylum. Kemudian pada tahun 1864 Nietzsche memulai studi di Universitas Bonn, dan pada tahun 1865 ia belajar filologi di kota Leipzig di bawah bimbingan Profesor Ritschl. Di kota inilah ia menemukan buku Scopenhauer, “Die Welt als Wille und Vorstellung”.Di kota ini juga pada usianya yang kedelapan belas Nietzsche kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan dan Ia mulai mencari-cari dan berusaha menemukan tuhan baru.

Pada masa berkuliahnya ini Nietzcshe pernah menjalani suatu periode pesta pora sensual bersama teman-teman perempuannya. Ia pun menjalani kehidupan yang penuh dengan simbol kejantanan seperti merokok dan mabuk-mabukan. Namun periode ini tidak berlangsung lama, di kemudian hari ia meninggalkan itu semua.Nietzsche juga pernah mengikuti wajib militer, dan karena hal ini keasikan studinya sempat terputus. Wajib militer yang dijalaninya tidak berlangsung lama, karena terjatuh dari kuda dan terluka dia kembali ke Leipzig dan meneruskan studinya. Sekitar tahun 1869 ia menjadi dosen di Universitas Basel atas permintaan dari Profesor Ritschl, dan pada di usianya yang kedua puluh lima ia ditunjuk menjadi pimpinan filologi di Universitas Basel setelah meraih gelar doktor dibidang filsafat (Ph.d). Mulai 1873 Nietzsche mulai aktif mempublikasikan tulisan-tulisanya. Pada tahun 1877 ia melepaskan keprofesorannya, dan sejak itu ia mengembara, terutama di Swiss dan Italia.

Ia menerbitkan empat buah esai dengan satu judul umum Unzeitgemasse Betrachtungen (Kontemplasi-kontemplasi tak aktual). Kemudian menyusul Menschliches, Allzumenschliches (Manusiawi, Terlalu Manusiawi). Dan tentunya karya besar dari Nietzsche seperti Also Sparch Zarathustra (Demikianlah Sabda Zarathustra/Zoroaster), Ecce Homo (Lihatlah Manusia), Der Antichrist (Sang Antikristus) dan beberapa karya lainnya. Menjelang akhir hidupnya Nietzsche menderita sakit jiwa dan hidup menyendiri, ia dibawa ke Sacshen dirawat oleh Ibunya dan saudarinya Elizabeth dengan setia merawatnya sampai ia meninggal.

Manusia Super dan Kehendak untuk Berkuasa

Filsafat Nietzsche terdiri dari aforisme dan bukan merupakan suatu sistem filsafat yang sistematik. Walaupun tidak sulit untuk membaca aforisme itu, yang terdiri dari kalimat-kalimat pendek tetapi yang sulit adalah mengerti maksud atau arti kalimat tersebut. Pemikiran Nietzsche dikenal sangat kritis,tajam dan menyakitkan,penuh dengan pendapat yang sangat kuat mengenai masalah-masalah sensitif, seperti perang, perempuan, nasionalisme. Gayanya penuh dengan pertimbangan nilai dimana ia menyatakan ‘ya’ atau ‘tidak’, penerimaan atau penolakan.

“Kehendak untuk berkuasa”,”Wille zur Macht” merupakan pusat dari filsafat manusia Nietzsche. Titik awalnya adalah ketiadaan Allah. Bagi Nietzsche Allah telah mati, dan kitalah pembunuhnya. ”…Whither is God? He cried; I will tell you. We have killed him-you and i. All of us are his murderers”. Bagi Nietzsche kepercayaan akan Allah mempermiskin hidup manusia. Kepercayaan akan surga setelah kematian memerosotkan martabat dan nilai eksistensi manusia sekarang. Dalam Ecce Homo ia menulis “Penyingkapan topeng moralitas kristen merupakan peristwa yang tiada bandingnya…Segala sesuatu yang sampai saat ini disebut “kebenaran” dikenali sebagai bentuk tipuan yang paling merugikan, jahat, paling hina, dalih suci untuk “memperbaiki” umat manusia sebagai kelicikan untuk menghisap kehidupan sendiri dan membuatnya kekurangan darah. Moralitas sebagai Vampirisme…”

Nietzsche dengan tajam mengkritik agama Kristen, Allah Kristen dan menyebut moralitas Kristen sebagai moralitas budak (herdenmoral). Bagi Nietzsche kekristenan hanya membuat manusia menjadi lembek dengan ajaran ajaran kasih, tidak membalas, mencintai musuh, dan memaafkan. Altruisme tidak dapat diterima bagi Nietzsche, dalam kehidupan yang dibutuhkan bukan belas kasih melainkan kekuatan. Untuk melawan moralitas budak tersebut Nietzsche menempatkan Moralitas Tuan (heerenmoral). Moralitas ini membenarkan kekuatan dan kekuasaan. Moralitas tuan adalah ungkapan kehendak untuk berkuasa. Demikian berangnya Nietzsche pada agama kristen sehingga ia menyebutnya sebagai sesuatu yang lebih merugikan daripada kejahatan apapun. ”Apa yang lebih merugikan daripada kejahatan apapun?- Berbelas kasih secara nyata dengan mereka yang cacat dan lemah- agama Kristiani“.

Dengan matinya Allah, bagi Nietzsche telah terbuka peluang untuk datangnya sang Manusia Super (Ubersmensch). Manusia super adalah manusia baru yang kembali ke semangat kekuasan, yang telah bebas dari belenggu sistem nilai dan moralitas lama serta secara bebas mewujudkan Kehendak Untuk Berkuasa. Manusia Super adalah manusia yang kuat, berani, berbudi luhur, berbudaya, estetik, bebas, yang tidak dihadang oleh belas kasih dengan yang lemah, dan yang seperlunya bertindak kejam. Manusia Super adalah manusia yang sepenuhnya menghayati, atau lebih tepatnya membiarkan diri diresapi oleh kehendak untuk berkuasa. Dari Scopenhauer, Nietzsche mendapat gagasan bahwa kehendak adalah hakikat realitas, tetapi berbeda dengan Scopenhauer, Nietzsche tidak ber-metafisik. Ia tidak berbicara tentang alam noumenal dan fenoumenal, melainkan ia melihat di mana saja ada hidup, di situ ada kehendak untuk timbul, tumbuh, dan menjadi besar, mempertahankan diri, menjadi kuat, dan berkuasa. Seluruh kehidupan manusia yang penuh dengan paradoks dan kompleksitasnya, hakekatnya adalah kehendak untuk berkuasa. Kehendak berkuasa bukan hanya merupakan hakekat hidup tetapi bagi Nietzsche itu juga merupakan solusi hidup, suatu conditio sine qua non terhadap hidup manusia. ” A solution for all its riddles? A light for you, too, you best-consealed, strongest, most interpid, most midnightly men? – This world is the will to power – and nothing besides! And you, yourselves are also this will to power – and nothing besides!”.

Bagi Nietzsche manusia tidak perlu tenggelam dalam ketakutan yang tak perlu, bahkan sang manusia super tak kenal kata takut. Ada benarnya, bahwa jika kita hendak berkuasa maka segala bentuk ketakutan harus sirna. Nietzsche berkata “ What is good? You ask. To be brave is good”. Manusia super harus berani, karena keberanian adalah kebajikan. Untuk menjadi tangguh manusia harus sanggup menggatakan YA terhadap semua tantangan yang dihadapi dan mengatasinya, “ Brave is who knows fear but conquers fear, who sees the abyss, but with pride”.
Dalam Antichrist kembali Nietzsche menekankan apa itu yang baik dan yang buruk bagi sang manusia super. Yang baik adalah apa saja yang meningkatkan perasaan kuasa, kehendak untuk berkuasa, dan kekuasaan sendiri dalam manusia, dan yang buruk adalah segala sesuatu yang berasal dari kelemahan. Kemudian kebahagiaan adalah manakala perasaan berkuasa bertambah, dan ketika dapat mengatasi perlawanan yang ada untuk menjadi lebih berkuasa. Seseorang yang hendak menuju pada suatu bentuk ketangguhan, keunggulan harus berani mendobrak dan memusnahkan nilai-nilai lama yang sarat akan kelemahan. Ia harus menerjang segala sesutu yang sudah ditegakan oleh orang sebelumnya. Ia perlu melakukan pembongkaran. “whoever must be a creator in good and evil, verily, he must be annihilator and breaks values.”

Epilog

Hidup memang tak pernah mudah. Kehidupan manusia senatiasa diliputi pelbagai macam kerumitan. Terkadang sangat kompleks dan penuh dengan paradoks. Ada persoalan baik dan buruk, ada tegangan benar dan salah. Manusia harus menentukan pilihan terus menerus, karena hidup yang tak mudah ini memang menawarkan berbagai macam pilihan. Manusia harus memilih hidup yang bagaimana yang akan dijalaninya. Akan tetapi apakah benar manusia hidup dalam suatu pilihannya sendiri, jika segala sesuatunya telah diatur sedemikian rupa. Manusia menjadi terkekang, tak lagi bebas, bahkan untuk mengenali dirinya sendiri. Agama yang dianggap sebagai tuntunan bagi hidup manusia dirasa tak lagi dapat menjawab persoalan hidup yang berat dan keras. Agama hanya menjadi sekedar janji-janji kosong yang melemahkan kehidupan manusia, dengan segala ajaran ”kebaikan“nya.

Terlepas dari seluruh kritikan yang diarahkan pada Nietzsche dan hujatan, sekiranya perlu dipahami bahwa sebenarnya ia hanya hendak berkata jujur. Filsafat Nietzsche jangan melulu diartikan sebagai bentuk sarkasme terhadap realitas dan agama. Dalam Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche mengatakan ”Silence is worse; all truhts that kept silent becomes poisonous“. Itulah mengapa Nietzsche demikian jujurnya mewartakan bagaimana manusia harus hidup, ia hanya mengungkapkan apa yang dianggapnya benar dan dengan gayanya. Ia tak ingin menjadi munafik terhadap kehidupan. Jika agama memang hanya sekedar ritual-ritual dan pengajaran yang keliru, dan tak berdampak dalam masyarakat, lantas bagaiamana? Jika hidup memang berat dan menyedihkan, lantas kenapa? Manusia harus tetap menghayatinya. Amor fati ujar Nietzsche, maksudnya manusia tidak sekedar tabah menanggung keharusan (sekalipun keharusan tersebut adalah Factum Brutum/ keharusan menderitaan), melainkan juga mencintainya. “My Formula is Amor Fati….not only to bear up under every necessity, but to love it” , demikian diungkapkan oleh Nietzsche.

Melalui Manusia Super/Unggul, dan kehendak untuk berkuasa, Nietzsche hendak menyadarkan manusia dari selubung kepalsuan yang sebenarnya mematikan eksistensi manusia. Ketika manusia tidak menyadari bahwa ia memiliki kehendak, maka hidupnya hanya sekedar berjalan tak menentu arah, bak kambing dicocok hidungnya. Nietzsche meradikalkan konsep ini dengan kehendak untuk berkuasa sebagai wujud dari manusia yang “adi luhung”, yang genuine. Dengan demikian sang manusia super tersebut dapat menghadapi seluruh rintangan hidup ini. Kritik Nietzsche terhadap kemunafikan “agamawi” masih relevan hingga saat ini. Hanya saja mungkin tak perlu sampai harus membunuh Tuhan, seperti halnya yang diutarakan oleh Nietzsche.

Dibandingkan dengan Scopenhauer yang pesimis, Nietzsche sebenarnya dapat dianggap lebih optimistik dan juga seorang vitalis, karena gairahnya yang luar biasa terhadap kehidupan manusia, terutamanya manusia super. Apa yang coba disampaikan Nietzsche penuh dengan gairah, walau disampaikan secara ganas, tetapi gamblang dan gemilang, tetapi juga dianggap gila bagi sebagian orang. Tetap bagaimanapun juga Nietzsche memberikan kontribusi yang besar dalam sejarah umat manusia. Kita tercelikan bahwa ada dimensi lain dalam mengahadapi realita hidup ini. Yang tetap harus dapat dipertanggung jawabkan dihadapan kemanusiaan itu sendiri.

Pustaka Acuan
Abidin,Zainal, Filsafat Manusia, Memahami manusia melalui Filsafat, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002
Budi Hardiman, Filsafat Modern, dari Machiavelli sampai Nietzche, Gramedia Pustaka Utama, 2004
Cahoone, Lawrence, From Modernism to Postmodernism an Anthology, Blackwell Publisher, 1996
Hasan,Fuad, Berkenalan dengan Eksistensialisme, Pustaka Jaya, Jakarta,2005
Smith,Linda, Ide-ide,Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang, Kanisius, Yogyakarta, 2000
Magniz-Suseno, Franz, 13 tokoh Etika, sejak zaman Yunani sampai abad ke-19, Kanisius,1997
__________________, 13 model pendekatan Etika, bunga rampai teks-teks etika dari Plato sampai dengan Nietzsche, Kanisius,1998


About this entry