Etika Lingkungan

sfssfPendekatan “Stewardship and Co-Operation” sebagai Alternatif Solusi terhadap Permasalahan Lingkungan Hidup.

Yesaya Sandang

Kata alam atau lingkungan hidup secara etimologis mengacu pada kata nature yang berasal dari bahasa latin nascere, yang berarti “to be born”, “to come into being”. Secara etimologis kata ini mengungkapkan pada dirinya sendiri bahwa alam dan lingkungan hidup merupakan sesuatu anasir yang terbuka sebagai sebuah potensi untuk dikembangan. Dalam arti mengembangkan, maksudnya adalah dalam relasi manusia dengan alam adalah untuk mengaktualisasikan segala potensinya, untuk menuju pada sesuatu yang baik dari dalam dirinya sendiri, dan juga untuk menjadikannya lebih baik.[1]

Akan tetapi selama perjalanan hidup umat manusia dimuka bumi ini, relasi antara manusia dan alam tidaklah seharmonis sebagaimana yang diharapkan. Ambil contoh di Indonesia yang belakangan ini dirundung bencana alam secara beruntun, yang disebabkan oleh eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan ekonomi yang tidak mengindahkan keutuhan fungsi ekosistem. Profesor Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia menyatakan bahwa karena hal tersebutlah maka kita terpuruk dalam persoalan bencana alam selama ini.[2] Artinya karena ulah kita sendirilah bencana-bencana yang sebenarnya dapat diantisipasi tetap terjadi dan memakan korban yang tak terkira.

Sejak berabad-abad lamanya, manusia telah bergumul dengan dengan masalah antara dirinya dan alam. Semenjak jaman purbakala kala sampai pada saat keemasaan para filsuf Yunani, dan kemudian terus bergerak maju sampai pada era pencerahan dan kemudian masuk kepada modernitas, alam selalu mendapat perhatian yang sentral didalam khasanah permenungan para filosof.

Dalam bukunya “Man’s Responsibility for Nature”, John Passmore menelisik mengapa hingga saat ini, relasi antara manusia dan alam masih menyisakan banyak masalah. Passmore membagi 4 permasalahan yang tengah dihadapi manusia dewasa inikedalam 4 kategori sebagai berikut :[3]

1.Pollution / Polusi

2.The Depletion of natural resource / penipisan sumber daya alam

3.The Destruction of species / musnahnya berbagai jenis spesies akibat ulah manusia

4.over population / populasi umat manusia yang semakin banyak

Keempat hal tersebut merupakan problema yang nyata, yang saat ini menjadi kekuatiran bersama para pemerhati dan aktifis lingkungan hidup diseluruh dunia. Masalah tersebut berakar pada pola pikir yang menomorsatukan manusia diatas alam, sehingga bagi manusia alam adalah sesuatu yang harus ditaklukan. Pola pikir ini dapat kita temukan sepanjang tradisi Barat (western) berkembang. Tradisi dimana manusia kemudian menjadi lalim (despot) terhadap alamnya, karena pendasaran metafisis yang keliru.[4] Berabad-abad lamanya manusia dalam pola pikir tersebut mengeksploitasi alam berdasarkan anggapan bahwa ia telah dibenarkan dalam perintah yang diberikan Tuhan kepada manusia yang diciptakannya :”Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di muka bumi (Kejadian 1:28).[5]

Merawat dan Bekerjasama dengan Alam

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya manusia dapat keluar dari masalah yang sedemikian adanya? Disinilah apa yang diutarakan oleh John Passmore mencoba menjawab problema tersebut. Bagi Passmore persoalan tersebut membutuhkan sebuah jawaban yang segera dan aplikatif. Dimana prespektif filosofis yang coba diajukannya merupakan sebuah alternatif yang membumi. Dalam hal ini ia mengkritik pendahulunya yaitu Aldo Leopold, yang mencoba mengajukan sebuah etika baru bagi manusia sebagai pengangan atau katakanlah sebagai pendekatan untuk menghargai alam, yaitu “Land Ethics”. Passmore berpendapat bahwa tidaklah dibutuhkan etika baru, yang mana sebenarnya etika tersebut sudah ada didalam atau tertanam didalam masyarakat itu sendiri. Hanya saja terdapat arogansiyang mana menyebabkan manusia bersikap lalim terhadap alam.[6] Mengikuti Teilahard de Chardin, Passmore mengutarakan bahwa tradisi pemikiran Barat yang berakar pada pendasaran metafisis, memiliki dua kesalahan mendasar. Pertama “ in the first place it has supposed nature to be static, created once and for all by God at the creation”, dan kedua “… was to suppose that in order to save themselves men must free themselves from, must rise above, the world.” [7]

Artinya manusia menganggap alam itu statis dibuat sekali dan untuk selamanya, sehingga kemudian manusia beranggapan bahwa alam tersebut haruslah ditaklukan, mereka harus bebas dan terpisah daripadanya. Dari sinilah kemudian Passmore menyakini bahwa untuk keluar dari pandangan ini manusia harus menemukan dirinya berbalik untuk melihat bahwa alam adalah sebagai sesuatu yang menjadi, dan menyadari bahwa mereka harus dapat bekerja sama dengan alam daripada berusaha untuk menaklukannya yang ternyata usaha penaklukan tersebut malah berujung pada persoalan yang berkepanjangan, yang dampaknya juga dirasakan oleh manusia itu sendiri.

Bagi Passmore permasalahan lingkungan hidup yang menyeruak memerlukan aksi nyata, yang bertitik tolak dari prespektif yang memungkinkan perubahan.[8] Prespektif yang ditawarkannya adalah alam sebagai sesuatu yang menjadi dan oleh karenanya perlu dirawat, dan jika hendak digali kekayaannya haruslah melalui sebuah pendekatan kerjasama, bukannya penaklukan. Passmore tidak hendak menjadi naïf melihat realita bahwa hidup manusiapun memiliki ketergantungan dari alam, akan tetapi hal tersebut harus disikapi secara bijak, yaitu dengan menghargai alam. Pandangan metafisis sebenarnya menyediakan prespektif semacam ini, hanya saja hal tersebut tidak dielaborir lebih jauh dan kerapkali terhalang oleh pertimbangan yang mengesampingan alam itu sendiri. Etika baru tidaklah mencukupi, tetapi diperlukan sebuah perluasan paradigma bahwa alam dalam relasinya dengan manusia bersifat resiprokal, ada semacam timbal balik dan ketersalingan. Adalah lebih baik untuk melihat dari prespektif bahwa alam adalah mitra kerja manusia dalam mewujudkan kesejahteraan keduannya, dari pada menaklukannya secara membabi buta, hanya untuk menyakini bahwa manusia lebih superior atas dasar pertimbangan yang beraneka macam.[9]

Epilog

Dalam terminologi etika lingkungan terdapat berbagai macam tawaran untuk menjawabab persoalan lingkungan hidup. Semuanya hendak keluar dari paradigma barat yang selama ini didominasi oleh prespektif metafisis ataupun dualisme yang memisahkan manusia dari alam. Persoalannya sekarang adalah jikalau manusia tidak mau merusak dasar-dasar eksistensinya sendiri, ia harus berubah. Perubahan tersebut tidak cukup didasari pada etika baru semata, melainkan perlu dikembangkan suatu sikap dan kesadaran baru tentang alam sebagai lingkungan hidupnya yang perlu dirawat dan dijalin relasi yang tidak menghancurkan. Hal ini menuntut pertanggungjawaban dari setiap individu terhadap kelestarian alamnya.

Pendekatan Stewardship dan Co-operation with Nature hadir sebagai sebentuk alternatif solusi untuk menjawab persoalan tersebut. Melalui pendekatan tersebut manusia diajak untuk keluar dari prespektif lama dan merengkuh sebuah prespektif baru yang mengajak manusia untuk menghormati alam. Kemudian melalui prespektif itu juga kita diajak untukmerasa bertanggung jawab terhadap kelestarian alam, sekaligus adanya kesadaran mendalam dan permanen, bahwa kita sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam. Sehingga alam seharusnya dijaga dan dirawat dan dalam pengelolaannya sudah sepatutnya kita bekerjasama dengan alam.


[1] Lihat John Passmore, Man’s Responsibility for Nature, Ecological Problem and Western Tradition, Duckworth, London, 1974, p 32.

[2] Lihat Emil Salim, Penataan Ruang untuk Korporasi, Harian Kompas, 29 Maret 2007 , hal 6

[3] John Passmore, Ibid, p ix

[4] lihat part one “the tradition” pada John Passmore, ibid

[5] lihat juga Magniz-Suseno, Berfilsafat dari Konteks, Gramedia, Jakarta, 1999, hal 225

[6] Passmore, ibid, p 5

[7] Passmore, ibid, p 34

[8] Passmore, ibid, p 194

[9] “… we can still recognize that it is better to look first at the way things in nature and help them to work more effectively than try to ride rough-shod over them merely in order to demonstrate the superiorty of rationalty defined in wholly mathematical, or wholly economic, terms”, Passmore, ibid, p 39


About this entry