Scenes from a Memory by Dream Theater

images

Psikoanalisa dalam Progressive Rock

Yesaya Sandang

Progresive rock sebagai aliran musik merupakan sebuah fenomena yang unik. Dalam kategori progresive, musik rock bukan saja merupakan musik yang hanya mengandalkan lengkingan suara yang keras dalam jalinan lirik yang dangkal serta hingar bingar distorsi dan tempo statis. Progresive rock hendak keluar dari pakem rock pada umumnya dan memberi sentuhan tersendiri. Kekhasan progresive rock terletak pada kompleksitas dari keseluruhan musiknya. Progresive rock mengedepankan skill bermusik yang sangat tinggi dengan tingkat komposisi yang canggih, ditunjang dengan kedalaman lirik yang mana memiliki konsep yang berkesinambungan (concept album) dan tempo yang dinamis- tidak statis.

Dream Theater[1], band yang mengusung aliran progresive rock dalam albumnya Metropolis Part 2 : Scenes of a Memory, mencoba menggarap satu tema besar yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh musisi manapun. Tema tersebut adalah psikoanalisa. Scenes of a Memory dirilis pada tahun 1999, dalam album tersebut terdapat 12 track dengan susunan sebagai berikut :

Act 1
Scene One:

Regression (2:06)
Scene Two:

I. Overture 1928 (3:37)
II. Strange Deja Vu (5:13)
Scene Three:

I. Through My Words (1:02)

II. Fatal Tragedy (6:49)
Scene Four:

Beyond This Life (11:22)
Scene Five:

Through Her Eyes (5:29)
Act 2
Scene Six:

Home (12:53)
Scene Seven:

I. The Dance of Eternity (6:13)
II. One Last Time (3:47)

Scene Eight:

The Spirit Carries On (6:38)
Scene Nine: Finally Free (12:00)

Mendengarkan album ini membuat kita serasa berada di dalam suatu adegan teaterikal besar yang terbalut dalam jalinan musikalitas. Secara utuh album ini hendak bercerita dari prespektif orang pertama. Seorang pria yang bernama Nicholas yang menjalani sebuah proses hipnoterapi untuk mengatasi persoalan yang tengah dihadapinya. Nicholas terus menerus dihantui oleh mimpi buruk tentang seorang gadis yang bernama Victoria, seorang gadis dari masa yang sangat lampau. Melalui hipnoterapi ia dibawa pada satu keadaan regresi (regression), suatu keadaan menelusuri alam bawah sadar. Dalam proses terapinya tersebut diketahui bahwa gambaran yang dimimpikan Nicholas bercerita bahwa Victoria dibunuh dalam sebuah pembunuhan yang kejam, karena terlibat cinta segitiga. Melalui proses ini pada akhirnya Nicholas dapat terbebaskan dari persoalannya tersebut.

Overall, Secara musikalitas album ini sangat luar biasa. Komposisinya dibangun dan terjalin dengan sangat apik. Dalam album ini terasa benar ciri Progresive Rock pada pola bermusiknya, Mereka menunjukan kelasnya dalam mengelaborasi beraneka ragam warna musik dengan skill yang tinggi. Nuansa keras, lembut kemudian menggelora dan kembali pada ketenangan terasa jelas dalam album ini. Alur musik yang dibangun benar-benar menggugah. Ditambah jalinan lirik yang disampaikan memiliki rmakna yang mendalam dalam satu rangkaian cerita besar. Masing-masing personel betul-betul menyatu dengan instrumennya masing-masing. Setiap elaborasi instrumen membawa aura tersendiri yang saling mengisi dan melengkapi menghasilkan keutuhan album yang ultim. James LaBries sang vokalis dengan suaranya yang khas secara konstan terus dapat menjaga performanya dan sangat menjiwai setiap lirik seakan akan dia adalah Nicholas yang sedang di terapi, dan pada gitar John Petrucci tak henti-hentinya memukau dan memberikan semacam aura tersendiri pada alur cerita. Gebukan drum Mike Portnoy juga sangat bertenaga walau terkadang pada saat-saat tertentu kehilangan daya kelembutannya. Pada keyboard Jordan Rudess tidak terlalu mendominasi, tetapi kehadiran tetap terasa, sedangkan permainan John Myung sang bassis, begitu jernih dan sangat dinamis memberikan nuansa temaramnya orang yang sedang diterapi.

Dari album ini dapat dilakukan suatu refleksi terhadap kehidupan manusia. Hidup manusia kerap kali dihantui oleh mimpi-mimpi buruk yang datang dari masa lalunya, yang membuat manusia tersebut mengalami stagnasi. Diperlukan suatu katarsis atau pelepasan ketegangan untuk akhirnya manusia tersebut dapat bebas dan lepas dari belenggu yang menghimpit hidupnya. Dalam proses tersebut setiap person perlu melakukan semacam penelusuran kembali terhadap masa lalu, untuk mencari letak simpul yang perlu diurai. Karena terkadang apa yang tak dapat terurai dan lepas akan membuat manusia menjadi tertekan. Hidup di bawah bayang-bayang semacam itu tentu tak mengenakan. Pengalaman buruk yang bersifat traumatis akan tetap tinggal sebagai sebuah memori, dan jika tidak dapat dipulihkan bisa membawa dampak yang negatif. Melalui Scenes from a Memory kita menemukan bahwa sejatinya setiap manusia dapat terbebaskan dari belenggu masa lalu untuk mencapai kedamaian hidup.

“You are once again surrounded by a brilliant white light. Allow the light to lead you away from your past and into this lifetime. As the light dissipates you will slowly fade back into consciousness remembering all you have learned. When I tell you to open your eyes you will return to the present, feeling peaceful and refreshed.” (end of scenes eight : the spirit carries on)



[1] James LaBrie – vocals, John Myung – bass, John Petrucci – guitars and vocals, Mike Portnoy – drums, percussion, and vocals, Jordan Rudess – keyboards


About this entry