“Fakir” untuk “Miskin”

“Fakir” untuk “Miskin”

Bramantio

 

Entah sejak kapan frasa “memberantas kemiskinan” dan semua variannya muncul dalam kehidupan. Saya pikir, tidak mungkin memberantas kemiskinan karena miskin dan kemiskinan adalah pelengkap dalam sebuah dualitas yang dibentuknya bersama kaya dan kekayaan. Kata “miskin” pun memiliki kisaran yang luas sebagai bentuk yang merepresentasikan segala sesuatu yang dekat dengan “kurang” dan “kekurangan”. Dengan begitu, secara otomatis, “yang lebih” tentu akan menganggap “yang kurang” sebagai “miskin.” Lalu, mungkinkah kelak frasa itu akan tergantikan oleh frasa yang lebih tepat? Menjadi semacam kertas yang kelak koyak lalu terlempar ke keranjang sampah. Sejauh ini, yang bisa saya usulkan adalah kata “fakir.” Di dalam tradisi Islam, kata “fakir” memiliki perbedaan yang cukup mendasar dengan “miskin.” Kata “miskin” mengacu pada keadaan seseorang yang hidup serba pas-pasan, ia memiliki pekerjaan, tetapi hasil yang diperolehnya hanya cukup untuk bertahan hidup dalam kondisi minimal, sedangkan “fakir” mengacu pada keadaan seseorang yang benar-benar tidak mampu membiayai kebutuhan pokok hidupnya sehingga harus mengandalkan bantuan orang lain. Jika dilihat melalui perspektif yang demikian, “memberantas kemiskinan” memang tampak memiliki jangkauan yang lebih luas. Hanya saja, pada saat yang sama, frasa tersebut juga mengandung kemustahilan, sebuah cita-cita utopis. Dengan demikian, berkaitan dengan frasa tersebut, bukankah “fakir”menjadi sesuatu yang lebih realistis? Jadi?


About this entry