Heartbreak Hotel

Heartbreak Hotel

Bramantio

 

Siang itu setelah mengurus barang-barang di kamar kost yang telah saya tempati selama dua tahun untuk dikirim ke kota asal saya, saya berdiri cukup lama menunggu taksi di tepi jalan yang tidak pernah lengang dari lalu-lalang kendaraan bermotor dan manusia. Hampir dua puluh empat jam telah berlalu sejak peristiwa itu. Sebuah peristiwa yang menutup satu hari yang penuh kesan. Awan mendung menggelembung di sana-sini menabiri bundar matahari hingga sinarnya hanya selarik-selarik tidak lagi bertenaga membakar apa-apa siapa-siapa. Ada gundah yang menyelinap lalu mengendap di dada saya. Saya tahu penyebabnya. Semua hanya masalah waktu, pikir saya. Saya pun menghentikan taksi, memasukinya, lalu menjawab pertanyaan pengemudinya: Senayan City. Apa yang akan saya lakukan di Senayan City? Mengapa saya memilih Senayan City? Akankah ada kabar gembira menanti saya di Senayan City? Entahlah. Itu urusan nanti. Yang penting saya bisa berjalan-jalan. Sendiri, seperti biasa. Butuh waktu lebih lama daripada yang saya pikir untuk mencapai tujuan. Tetapi, pada keadaan saya saat itu, apalah artinya lebih singkat atau lebih lama, toh gundah itu masih ada di sana. Akhirnya saya sampai di Senayan City. Setelah turun dari taksi lalu memasuki mall, tentu saja setelah menjalani pemeriksaan singkat yang seolah sekadar formalitas di pintu masuk, saya berjalan ke sana-ke mari tanpa tujuan, hanya menikmati udara sejuk, melihat-lihat sekilas apa pun yang tertangkap mata, dan berpikir ini-itu. Pada satu waktu saya menelepon seorang teman. Tidak lama. Lalu berjalan-jalan lagi. Setelah merasa cukup, cukup karena tidak ada lagi yang bisa dilihat-lihat dan cukup bosan, saya memutuskan menyeberang menuju Plaza Senayan. Hal yang sama berulang. Berjalan ke sana-ke mari tanpa tujuan, melihat-lihat sekilas, dan berpikir ini-itu. Saya sempat berpikir untuk mengisi perut di food court, tetapi saya urungkan. Saya hanya merasa tidak mungkin menikmati makanan apa pun, Donner Kebab pun tidak, dalam keadaan seperti itu. Saya pun melanjutkan berjalan-jalan hingga kembali merasa cukup. Ke mana lagi ya? Ah, Ratu Plaza sekalian. Saya pun keluar dari Plaza Senayan, berjalan melintasi pelataran parkir, melewati pintu kecil di tembok pembatas, dan memasuki Ratu Plaza. Saya kemudian berpikir memasuki gerai demi gerai untuk mencari, menemukan, membeli pengganti ponsel saya yang telah bertugas selama lima tahun lebih. Saya tidak akan berpikir seperti itu seandainya ia tidak mulai banyak masalah. Saya pun menemukan dan membelinya tanpa terlalu lama mencari dan mempertimbangkan ini-itu. Saya melihat jam tangan saya lalu memutuskan pulang dengan bus Transjakarta saja. Setelah membeli karcis dan menunggu selama beberapa menit, bus pun tiba. Saat itu saya berpikir bisa cepat tiba di rumah. Tetapi, pikiran itu berubah ketika saya tiba di halte transit. Antrean penumpang memanjang mulai halte sampai jembatan penyeberangan. Saya bertanya pada diri sendiri, “Apakah jembatan ini sengaja didesain menahan beban sebesar ini?” Saya yakin tidak. Lalu saya membayangkan jembatan itu mulai berderak-derak di sana-sini lalu runtuh dan orang-orang terjatuh untuk kemudian mendarat dengan sangat tidak mulus di mobil-mobil yang pada saat itu sedang melintas mebuahkan bunyi logam penyok dan bahkan hingga beberapa batok kepala pecah berantakan berceceran di permukaan aspal jalan untuk kemudian digilas ban-ban mobil yang pengemudinya asyik bertelepon atau mengetik sms atau berkelana di dalam pikirannya sendiri terpengaruh musik yang didengarnya melalui iPod sehingga terlambat menyadari peristiwa itu dan merah pun memanjang mematri garis-garis permukaan ban pada aspal yang masih menyimpan panas sepanjang hari. Saya mulai merasa tidak nyaman, gerah, dan pening hingga pada satu titik memutuskan keluar dari antrean dan meninggalkan halte. Bukan, bukan karena bayangan itu, tetapi karena memang tidak menyukai keramaian. Malam itu saya akhirnya tidak pulang. Saya berkeliling lagi hingga malam semakin larut. Larut menurut saya, tentu saja, bukan menurut para manusia dugem. Saya sempat menelepon orang rumah untuk berkirim kabar sekadarnya. Saya pun memutuskan menginap di hotel. Hmmm, sendiri di kamar hotel. Saat itulah saya tersenyum sendiri karena teringat salah satu lagu Whitney Houston yang pernah dinyanyikannya bersama Faith Evans dan Kelly Price:

This is the heartbreak hotel….

Here I sit trying not to cry
Asking myself why you do this to me

All I really wanted was some of your time
Instead you told me lies
When someone else was on your mind
What you do to me
Look what you did to me
I thought that you were someone who would do me right
Until you play with my emotions and you made me cry
What you do to me
Can’t take what you did to me

Yang terjadi pada saya tentu tidak serupa benar dengan lagu itu. Tidak ada airmata malam itu. Hanya gundah yang masih mengendap. Semua hanya masalah waktu. Bagi saya, yang terpenting adalah saya telah mengungkapkan perasaan saya dan ia tahu yang saya rasakan kepadanya. Itu saja.


About this entry