Toilet

Toilet

Bramantio

Pagi itu saya berada di Bandara Soekarno-Hatta. Sepasang jarum jam tangan saya menunjukkan pukul 07.00, masih dua jam sebelum pesawat saya lepas landas dan mengantarkan saya menuju kota kelahiran saya dalam perjalanan udara sekitar satu jam. Setelah saya check-in, lalu membayar airport tax di konter yang lain, saya langsung menuju ruang tunggu keberangkatan. Sepi. Tetapi, tidak sendiri. Saya duduk di sudut ruangan. Dinding kaca di sekeliling saya tidak menyajikan apa-apa selain hijau dedaunan yang membisu tanpa gerak, selasar ruang-ruang tunggu lain, dan sedikit langit cerah tidak membiru. Saya menelepon seorang teman. Ada tawa yang menyiratkan perasaan ria di dalam pikiran dan hatinya. Saya tahu penyebab tawa itu. Bukan karena saya, tentu saja. Tidak banyak yang kami bicarakan. Ponsel pun saya masukkan ke kantong kanan celana. Saya beralih ke koran yang saya bawa. Tidak ada yang menarik, seperti biasa. Bahkan, kolom budaya pun terasa hambar. Bagaimana pun, saya tetap membacanya hingga merasa eneg sambil sesekali melihat jam tangan saya. Saya melipat koran, memasukkannya ke tas selempang, lalu mengamati orang-orang yang berdatangan dan membuat ruang tunggu lebih ramai dan berisik. Saya kembali mengambil ponsel lalu mengetik kata-kata kunci yang berkelebat di pikiran saya. Ya, kata-kata kunci, bukan kalimat-kalimat pintu. Kata-kata yang kelak menjadi embrio tulisan-tulisan saya. Setengah jam sebelum waktu boarding, saya menuju toilet, hal yang biasa saya lakukan. Dan rentetan pertanyaan itu kembali menyeruak. Siapa yang mendesain toilet ini? Tidakkah ia atau mereka berpikir ini toilet bandara internasional? Bla bla bla… Hal tersebut tentu dipicu oleh keadaan toilet yang begitu… menyesakkan. Bagi saya, toilet seharusnya mampu memberikan kenyamanan karena toilet adalah salah satu hal yang paling personal bagi manusia. Sesederhana itu. Mengapa manusia cenderung tertarik pada isu-isu besar dan melupakan hal-hal renik yang justru lebih dekat dengan mereka? Ah, entahlah. Setelah selesai dengan urusan toilet, saya pun kembali ke ruang tunggu dan duduk di tempat yang sama. Belasan menit kemudian terdengar suara tidak merdu seorang laki-laki melalui pengeras suara. Orang-orang mulai meninggalkan tempat duduk mereka. Saya pun beranjak tidak lama kemudian dan berjalan menuju pesawat sambil bertanya pada diri sendiri: Siapa yang akan duduk di samping saya?


About this entry