Menunggu sambil Mencari. Mungkinkah?

Menunggu sambil Mencari. Mungkinkah?

Bramantio

Bertahun-tahun yang lalu ketika saya untuk kali pertama mendengarkan lagu Anggun, “Yang Kutunggu”, semua terasa biasa saja. Biasa saja dalam pengertian tidak ada sesuatu yang mengganggu. Hanya saja, keserbabiasaan itu berubah. Ternyata ada satu yang mengganggu dan membuat saya bertanya-tanya tentang yang sebenarnya dilakukan oleh si “aku.” Pada bagian inilah saya merasa terganggu:

Yang aku tunggu masih kucari…

Secara tata bahasa, kalimat itu berterima karena memenuhi syarat minimal terbentuknya kalimat. Keberterimaannya ternyata menjadi sesuatu yang perlu dipikirkan kembali ketika saya mulai menyentuh sisi logikanya. Kalimat itu merangkai dua kata kerja membentuk satu-kesatuan. Harus diakui, kata kerja pertama, yaitu “tunggu”, tidak lagi menjadi kata kerja, melainkan kata benda setelah dirangkai dengan “yang aku.” Hanya saja, ketika saya melihat bagian “cari” dalam “masih kucari”, hal itu menimbulkan paradoks, yang meskipun tidak keterlaluan, tetap saja mengganggu pembacaan. Penyebabnya, “menunggu” dan “mencari” adalah dua kata yang saling bertolak belakang dalam hal sifat yang mereka miliki, “menunggu” bersifat pasif, sedangkan “mencari” aktif. Dengan begitu, timbul pertanyaan, mungkinkah seseorang pada saat yang bersamaan menunggu dan mencari? Saya pikir, dalam kerangka umum hal tersebut tidak mungkin, lebih-lebih yang ditunggu dan yang dicari adalah sosok yang sama. Tetapi, hal tersebut ternyata mungkin ketika sepasang peristiwa tersebut dilekatkan pada peristiwa khusus, misalnya:

Saya berdiri tidak jauh dari pintu kedatangan domestik bandara. Akhirnya saya akan bertemu ia lagi setelah sekian lama berpisah dan hanya berkirim kabar melalui telepon dan sms. Setelah hampir setengah jam menunggu, saya mendengar pengumuman melalui pengeras suara tentang kedatangan pesawat yang ditumpanginya. Beberapa belas menit kemudian orang-orang satu per satu keluar dari ruangan setelah mendapatkan kembali bagasi mereka. Saya mendekat ke pagar pembatas lalu mulai celingukan mencari-cari. Memang tampak kurang kerjaan meskipun memang tidak ada hal lain yang harus saya lakukan pada waktu itu. Saya sebenarnya bisa tetap berdiri bersandar pada pilar bersama beberapa orang yang lain sambil terus menunggu sosoknya tertangkap oleh mata saya. Tetapi, saya memilih mencari-carinya. Saya hanya tidak ingin kehilangan momen. Yah, apa pun momen itu.

Begitulah… Menunggu dan mencari pada saat yang bersamaan ternyata bisa saja terjadi. Khususnya bagi orang-orang yang dilanda kerinduan dan apa pun yang melibatkan bocah-bocah Cupid.


About this entry