Bajaj dan Kesenangan Tidak Terduga

Bajaj dan Kesenangan Tidak Terduga

Bramantio

 

Malam itu termasuk dalam hari-hari terakhir saya di Jakarta dan sekitarnya. Sepanjang hari langit mendung, tetapi hujan terlalu jaim untuk turun dan mengakui kerinduannya pada bumi serupa bara dalam sekam yang mendamba kesejukan meskipun sesaat. Angin pun hanya sesekali berhembus lemah dan tidak mendatangkan kabar gembira bagi tubuh-tubuh berpeluh bercampur debu dan asap kendaraan. Beberapa saat setelah saya menyelesaikan rangkaian tiga rakaat, ponsel saya bergetar tanpa bunyi. Seorang teman menelepon. Tidak bisa datang, katanya. Baiklah, kata saya. Kami pun berbicara ke sana-ke mari hingga pada akhirnya sepakat untuk bertemu di kediamannya. Naik bajaj saja, katanya. Dan saya pun duduk di dalam bajaj, di belakang sopir berkaos abu-abu pudar yang begitu lihai memainkan kemudi dan menyatutubuh dengan bajajnya sehingga sanggup berkelit gesit dari jebakan yang tanpa sengaja dipasang kendaraan-kendaraan lain. Ini bukan kali pertama saya berbajaj di ibukota. Tetapi, segalanya ternyata tidak serupa benar dengan pengalaman saya pada masa-masa yang telah. Tentu saja, setiap hal selalu memiliki keunikaannya sendiri, setiap peristiwa adalah rangkaian gerak dalam seruang waktu yang membuat usang peristiwa sebelumnya, dan siapa-siapa atau apa-apa yang berperan di dalamnya pun datang dan pergi atau sekadar berganti peran. Bukan perbedaan itu yang saya rasakan, bukan pula karena suhu udara yang tanpa suara lantang menyeru raksa untuk turun perlahan menjauhi garis penanda lebih panas di tabung termometer yang hanya tergantung di dinding-dinding tertentu dan tidak bisa disaksikan semua mata, tetapi lebih pada yang saya rasakan selama berbajaj. Seperti senyum yang tidak terbentuk oleh lengkungan menanjak landai di kanan-kiri sepasang bibir merah muda merekah darah madu, seperti kesegaran yang tidak hadir bersama segelas besar minuman dingin berwarna menggoda untuk disentuh, diraba permukaan berembunnya, lalu diteguk tandas tanpa perlu sedotan, seperti loncatan bocah-bocah dengan tangan terangkat tinggi-tinggi atau terentang lebar-lebar yang tidak dipicu oleh hadiah-hadiah impian pada peringatan hari kelahiran. Mungkinkah sejatinya perasaan itu disebabkan olehnya? Mungkinkah sesungguhnya benar adanya bahwa segala sesuatu adalah tentang hati, pikiran, dan cinta?


About this entry