Gossip Girl

Gossip Girl

Bramantio

Awalnya biasa saja. Ya, awalnya biasa saja. Serena telah kembali! dan bla bla bla…. drinking, flying, kissing, talking, kicking ass (?), whateverrr… Begitulah kesan yang saya peroleh pada episode pilot Gossip Girl. Beberapa episode perdana pun lewat begitu saja tanpa sedikit pun mendapat perhatian saya. Jangankan perhatian, lirikan pun tidak. Lalu, pada satu waktu yang ternyata dengan caranya sendiri memberi saya keluangan yang berlebih meskipun selama ini senantiasa begitu melimpah, dan televisi pun menjadi sesuatu yang memiliki daya goda lebih tinggi daripada biasanya, saya kembali menyimak gosip cewek-cowok tajir tanpa ampun. Ternyata oh ternyata… Menyegarkan! Cukup dengan membaca judulnya, saya yakin penonton yang memiliki pengalaman layar kaca atas serial televisi akan langsung membayangkan hiruk-pikuk Beverly Hills 90210 dan Melrose Place, mungkin juga Popular yang tidak terlalu tenar, yang jelas bukan Dawson’s Creek, bukan pula Grey’s Anatomy atau Lost. Memang benar demikianlah adanya Gossip Girl. Bagaimanapun, ia menarik. Dengan gaya bertutur serupa Desperate Housewives yang menghadirkan narator lengkap dengan komentar-komentar asal, lucu, sinis, dan memintal benang-benang kusut-berkelindan kehidupan tokoh-tokohnya, dengan wajah-wajah opera sabun yang memotret bebas lepas keseharian para jetset, dan dengan taburan konflik yang hadir dari hal-hal sepele dan dekat dengan dunia remaja, serial ini menghadirkan kesegaran dalam kekliseannya. Siapa tokoh favoritmu? anggap saja ada yang bertanya seperti itu kepada saya. Blair Waldorf, jawab saya. Why? She’s bitchy yet charming, what else. Ada yang bilang Blair Waldorf, lebih tepatnya pemerannya, Leighton Mesteer, mirip Alexis Bledel-nya Gilmore Girls. O gimme a break! Yang benar saja! Leighton tajam, Alexis tumpul, maksud saya garis wajahnya. Bukankah Leighton justru mirip Rose McGowan? Sedangkan Alexis mirip Christina Ricci? Ah, sudahlah. Bagaimana dengan tokoh lain? tanya sosok imajiner tadi. Serena van der Woodsen biasa saja, cara bicaranya saja yang unik, seperti antara cadel dan mengulum sebentuk benda mungi yang enggan dilepehnya. Dengan booming-nya Gossip Girl, jelaslah bahwa keempat pemain The Sisterhood of the Travelling Pants telah memiliki serialnya masing-masing: Amber Tamblyn dengan Joan of Arcadia, America Ferrera dengan Ugly Betty, Alexis Bledel dengan Gilmore Girls, dan tentu saja Blake Lively dengan Gossip Girl. Archibald mirip Zac Efron, lebih classy, tentu saja. Little Jenny so innocent yet pathethic. Yang lain… entahlah. Lily van der Woodsen-lah yang justru menarik perhatian saya. Selain sudah menikah berkali-kali, ia diperankan oleh Kelly Rutherford. Hei, ini Kelly Rutherford scene stealer di Melrose Place. Ada yang ingat? Ia masih tampak seperti belasan tahun yang lalu. Ya, saya menonton Melrose Place ketika SMP, usia saya sekitar 14—15 tahun. Kesan lembut tanpa kerut itu pun masih tergambar sempurna pada sosoknya. Bagaimana bisa? Mungkinkah ia makhluk abadi yang tidak akan tua layaknya para penghuni dataran tinggi Skotlandia yang setiap kali bertemu sesamanya akan beradu pedang hingga salah satunya terpenggal? So in the end we all know that Serena’s mother is an immortal. Gossip Girl. xoxo


About this entry