Cantik

Cantik

Yesaya Sandang

Mungkin tidak dapat didefinisikan secara tepat apa itu kecantikan, karena kecantikan itu tentatif-relatif-subjektif bagi tiap individu. Ia (cantik) adalah sebuah ada yang dipersepsi, persepsi yang datang tidak dengan sendirinya, melainkan lewat suatu proses bentukan pemahaman. Dengan demikian, kecantikan adalah sebuah aposteriori personal, yang kemudian dikontemplasikan menuju kedalaman, kedalaman atas hakikat kecantikan.

Kecantikan secara umum merupakan suatu perspektif subjektif dari setiap individu. Perspektif subjektif ini meliputi aspek kognitif dan afektif yang melalui suatu proses pengolahan personal. Yang hendak disoroti dari sini adalah situasi kontemplatif terhadap kecantikan yang sedang dialami si subjek. Lebih lanjut, diktum kecantikan dapat dirumuskan sebagai berikut: Kecantikan hanya dapat ditemukan oleh orang yang dalam dirinya sendiri punya pengalaman yang bisa mengenali wujud bermakna dalam satu benda atau karya seni tertentu dengan getaran atau rangsangan keindahan. Sekali lagi, jelas bahwa persoalan kecantikan adalah pengolahan kognitif dan afektif individual.

Persoalannya kemudian adalah, jika kecantikan tidak lagi personal, tidak lagi dikontemplasikan, melainkan larut dalam suatu realitas semu, suatu pencitraan semu yang massal dan fatal. Kecantikan menjadi bagian dari jejaring imajiner yang lebih dikenal sebagai simulakrum. Kecantikan menjadi terselubung kabut dan kemudian menjadi tidak terlihat karena perspektif subjektif dari masing individu yg melihatnya dikooptasi oleh sebuah prespektif “umum” tentang apa itu cantik yang ternyata adalah bentukan suatu kondisi pada suatu masa demi kepentingan-kepentingan tertentu. Pemahaman keindahan menjadi dangkal, ia tidak lagi komprehensif dalam setiap dimensinya, karena ia kehilangan unsur kontemplatifnya yang personal dari masing-masing individu, kecantikan tidak lagi otentik. Hal ini menyebabkan situasi keterjebakan individu pada “banalisasi kecantikan“.

Setiap individu perlu kembali merenung sejenak, menarik diri dari kerumunan, dan mulai merefleksikan apa sesungguhnya arti kecantikan. Walau kecantikan (mungkin) tidak dapat dijelaskan, yang perlu diperhatikan adalah kecantikan tidak dapat dikategorikan ke dalam tolok ukur tertentu. Lebih ekstrem lagi, tidak ada dan tidak akan pernah ada patokan atau standarisasi terhadap apa yang cantik dan tidak cantik. Sesungguhnya segala sesuatu cantik adanya. Selamat berkontemplasi.

”Forma bonum fragile est“

Keindahan itu sesuatu yang baik yang mudah rapuh

(Ovid, Ars am, 2, 113)


About this entry