Iluminasi

Iluminasi

Bramantio

Taksi biru memasuki gerbang perumahan, melaju tiga blok, belok kiri, melaju tiga blok, belok kanan, melaju tiga blok, dan berhenti di depan rumah di salah satu sudut persimpangan jalan. Pengemudi dan Bimo keluar dari taksi lalu berjalan menuju bagian belakang taksi untuk mengambil barang di bagasi. Setelah menurunkan barang Bimo membayar ongkos dan menolak kembaliannya. Taksi biru berlalu bersama pengemudinya. Bimo juga tidak berlama-lama berdiri di bawah terik matahari. Bimo membawa ransel dan travel bag memasuki halaman rumah. Setibanya di depan pintu Bimo menekan bel satu kali. Terdengar bunyi serupa dering telepon dari dalam rumah. Bimo mengusap peluh di dahinya. Pintu terbuka.
“Apa kabar, Do?”
“Puji Tuhan.”
Keduanya memasuki rumah. Renaldo menutup pintu dan menguncinya.
“Mengapa tidak menelepon dulu? Aku bisa menjemputmu.”
“Kupikir hari ini kamu ada kelas.”
“Kalau pun ada, aku bisa saja bolos, kan?” kata Renaldo sambil menggerakkan sepasang alisnya.
Mereka berjalan melewati ruang tamu dan sampai sebuah ruangan dengan televisi luas melekat di dinding utara, sofa hitam berbentuk L di sisi yang lain, dan bingkai-bingkai yang berisi lukisan bergaya kubisme dengan warna-warna mencolok memenuhi ketiga sisi dinding yang lain. Lampu bulat besar berwarna putih susu menggantung di pusat langit-langit.
“Sepi,” Bimo menjatuhkan diri di sofa.
“Mama menemani papa ke luar kota. Biasa, urusan kantor. Alice ke gunung dan minggu depan baru kembali. Bagaimana perjalananmu?”
“Membosankan. Memang, ada perempuan yang duduk di sampingku mengajakku berbincang-bincang, tapi tetap saja membosankan. Ia tidak cantik. Lagipula,” Bimo tersenyum, “tangannya tidak besar,” katanya sambil mengangkat kedua tangannya yang terbuka ke arah dalam di depan dada lalu menggerak-gerakkannya maju-mundur.
“Kamu tidak pernah berubah.”
“Ya begitulah. Aku pun tidur hampir setengah pernerbangan.”
Renaldo berkacak pinggang sambil menggeleng.
“Aku masukkan dulu barangmu ke kamar.”
“Biar aku saja,” Bimo bangkit dari sofa lalu mengusung kedua tasnya.
“Mandi saja dulu, lalu kita makan.”
“Ide bagus.”
Selama sisa hari itu mereka saling bercerita berbagai macam hal. Kedua sepupu itu menghabiskan masa kecil bersama lalu berpisah selepas sekolah dasar.

Ketika hujan mulai turun, sesudah makan malam, Renaldo dan Bimo beralih ke Play Station. Mereka bermain selama hampir satu jam Satu ketika,
“Giliranmu.”
Renaldo tersentak. Ia memainkan controller beberapa saat lalu berhenti.
“Ada apa?”
“Entahlah.”
“Kita bermain belum lama. Seingatku kamu tidak pernah puas kalau bermain PS kurang dari dua jam. Lagipula, kamu sedang dalam posisi kalah.”
Renaldo hanya tersenyum.
“Ya sudah kalau begitu.”
Bimo mematikan Play Station dan televisi.
“Aku periksa pintu dulu. Kamu langsung ke kamar saja,” kata Renaldo sambil memadamkan lampu ruangan.
“Oke.”

Renaldo berada di kamarnya. Ia berdiri di depan wastafel untuk cuci muka dan menggosok gigi. Setelah membasuh mukanya ia becermin. Ia memerhatikan wajahnya dengan seksama. Ketika tatapannya tepat pada bayangan sepasang matanya, ia merasakan sensasi. Semuanya hanya berlangsung dalam tiga detik, tapi yang ia rasakan seolah tanpa akhir. Ia segera menuju kamar Bimo. Ia mengetuk pintu.
“Bim?”
Pintu terbuka.
“Ada apa?”
Renaldo masuk.
“Kamu pucat, Do.”
“Aku melihat bayangan.”
“Hantu?”
“Bukan. Seperti visi.”
“Visi? Kamu pernah mengatakan….”
“Ya. Aku memang sudah lama tidak mengalaminya dan aku mengira itu sudah hilang. Ternyata, aku baru saja mengalaminya lagi.”
Renaldo diam sambil mengatur nafas lalu melanjutkan.
“Dua kali.”
“Gila! Yang benar saja!”
Renaldo menatap Bimo dan Bimo tahu Renaldo tidak sedang bercanda.
“Waktu kita main PS dan baru saja ketika aku selesai cuci muka.”
“Apa yang kamu lihat?”
“Tidak jelas.”
“Jadi, masih seperti dulu?”
“Begitulah.”
Renaldo menjatuhkan diri di kursi di sudut kamar. Ia mengangkat kaki kirinya lalu menyilangkan dan menumpukannya ke paha kanannya, sedangkan Bimo tetap berdiri sambil berpikir dan tidak melepaskan pandangannya dari Renaldo.
“Kamu masih menyimpan kartu-kartu itu?”
“Kurasa masih ada di gudang.”
“Kita ambil.”
“Kita akan melakukannya lagi?”
“Ya dan harus. Seingatku, kebanyakan visimu berkaitan dengan sesuatu yang buruk.”

Mereka menaiki tangga sempit menuju gudang di atas rumah. Renaldo membuka pintu gudang yang tidak terkunci dan melangkah masuk, Bimo mengikutinya. Renaldo menyalakan lampu. Sebuah jendela besar dengan kaca kusam di seberang mereka membingkai langit malam. Di sudut kanan dalam berdiri lampu tiang dengan tudung yang sudah miring. Di sampingnya berdiri cermin oval sebesar pintu dengan kaki penyangga. Di sisi mereka berjajar bentuk-bentuk mengotak dan membundar yang berselimut kain putih. Lantai gudang dipenuhi kardus-kardus persegi dan persegi panjang dengan tutup terplester.
“Di mana kamu menyimpannya?”
“Aku lupa. Yang pasti, aku memasukkannya ke kotak pemberianmu.”
“Kotak jelek berukir buatanku itu?
“Ya.”
Keduanya mencari kotak yang dimaksud Renaldo dengan membuka-tutup kardus-kardus. Udara mulai terisi debu.
“Ini dia!” seru Renaldo.
“Mengapa tidak sejak tadi?!”

Mereka berada di sebuah ruangan yang hanya berisi tanaman-tanaman bonsai dalam pot persegi panjang putih, topeng-topeng kayu polos di dindingnya, dan permadani besar merah marun menutup lantainya dengan bantal-bantal bundar di atasnya. Mereka berdua duduk saling berhadapan di permadani. Renaldo meletakkan kotak yang dibawanya di depannya lalu membukanya. Ia mengeluarkan tumpukan kartu. Perhatian Renaldo dan Bimo hanya tertuju pada tumpukan kartu.
“Lakukan,” kata Bimo.
Renaldo mengambil tumpukan kartu, mengocoknya sembilan kali, lalu membaginya menjadi sembilan tumpukan. Ia mengambil tumpukan pertama dan mengubah tumpukan itu menjadi satu deret menyamping, yang terdiri atas sepuluh kartu, dengan bagian muka masih di bawah, mengambilnya satu, meletakkannnya di depannya, lalu memasukkan sisanya ke kotak. Ia terus melakukan hal serupa sampai tumpukan terakhir.
“Selesai. Kamu saja yang membaca kartu-kartu itu,” Renaldo menghela nafas.
“Mengapa?”
Renaldo tidak menjawab. Wajahnya memperlihatkan kengerian. Bimo mengambil satu. Kartu pertama bergambar sehelai bulu putih,
“Feather, mewakili segala yang terbang,” Bimo berkata lalu menurunkan kartu itu lalu melanjutkan dengan kartu-kartu berikutnya.
Kartu kedua bergambar bulan sabit kuning,
“Moon, mewakili malam.”
Kartu ketiga bergambar awan kelabu,
“Cloud, mewakili hujan.”
Kartu keempat bergambar cangkang kerang coklat muda,
“Shell, mewakili pantai dan laut.”
Kartu kelima bergambar sebuah persegi panjang hitam,
“Darkness, mewakili kekacauan pikiran manusia.”
Kartu keenam bergambar boneka beruang coklat tua,
“Doll, mewakili anak-anak.”
Kartu ketujuh bergambar jam pasir hijau,
“Time,” Bimo menatap Renaldo, “kita tidak memiliki banyak waktu, Do.”
Kartu kedelapan bergambar burung hitam, gagak,
“Raven, mewakili kematian,” Bimo berhenti sesaat karena tidak percaya atas yang dilihat dan diucapkannya. Ia kembali menatap Renaldo.
“Inilah yang aku takutkan, Bim.”
Kartu terakhir bergambar lingkaran putih,
“Illumination, mewakili daya manusia.”
Kesembilan kartu telah terbaca. Renaldo dan Bimo harus merangkainya menjadi satu makna.

Suara Renaldo dan Bimo kembali mengisi ruangan tempat bermain Play Station. Renaldo duduk di sofa, sedangkan Bimo di lantai dengan bersandar pada sofa.
“Kamu paham maknanya?”
“Entahlah. Mungkin. Mungkin juga tidak. Selalu seperti itu, kan?” kata Bimo sambil melihat kartu-kartu di tangannya.
“Tadi katamu kebanyakan visiku mengacu pada sesuatu yang buruk.”
“Ya.”
“Lalu, menurutmu apa?”
“Pikirkan tentang sesuatu yang dapat terbang dan bisa mendatangkan bencana.”
“Meteor.”
“Meteor ya?” Bimo mengusap hidungnya dengan ibu jari kanan ke arah kiri lalu mengusap dengan buku telunjuk ke arah sebaliknya, “Aku rasa bukan.”
“Meteor terbang dan meteor mendatangkan bencana. Apa lagi?”
“Do, meteor tidak terbang.”
“Apa?”
“Meteor tidak terbang, tapi jatuh. Jadi, tidak mungkin meteor. Yang muncul adalah Feather, bukan Gravity.”
“Susah sekali!”
“Jangan salahkan aku.”
“Bagaimana kalau rudal?”
“Bisa. Tapi, apa mungkin? Untuk saat ini negara kita tidak sedang berkonflik dengan negara lain.”
“Haruskah negara kita? Bisa juga terjadi di negara lain, kan?”
“Aku tahu, tapi kalau terjadi di negara lain, kita bisa apa? Apalagi rudal.”
“Kamu bilang kita harus cari tahu, dan itulah yang kita lakukan sekarang. Tidak penting dengan yang bisa kita lakukan. Aku cuma tidak ingin terus-terusan dipusingkan dengan semua ini.”
“Coba ingat! Setiap kali kamu mendapatkan visi tentang sesuatu yang buruk, kamu selalu memiliki kemungkinan untuk mencegahnya. Benar, kan?”
Diam sesaat.
“Ya, kamu benar,” Renaldo mengangkat kaki kirinya lalu menyilangkan dan menumpukan ke paha kanannya sehingga telapaknya menghadap Bimo.
“Turunkan kakimu!”
Renaldo menurunkan kaki kirinya lalu ganti menyilangkan kaki kanannya ke paha kiri. Ia merasa kurang nyaman, tapi tetap duduk dengan kaki seperti itu.
“Jadi, sekarang kita persempit ke peristiwa yang sekiranya bisa kita kurangi kemungkinan terjadinya, bahkan hilang sama sekali.”
“Ng… bagaimana kalau kecelakaan pesawat terbang?”
“Kurasa itu yang paling mendekati. Terus apa hubungannya dengan The Doll?”
“Mungkin saja pesawatnya jatuh di bangunan tempat panti asuhan atau taman bermain anak-anak.”
“Kita memiliki Moon. Panti asuhan masih mungkin, tapi taman bermain mana yang penuh dengan anak-anak pada waktu malam? Selain itu, kita juga memiliki Shell. Memang ada panti asuhan di pantai atau di laut?”
“Mungkin. Panti asuhan dan taman bermain anak-anak ikan.”
Bimo menatap Renaldo dan Renaldo tahu arti tatapan Bimo. Renaldo tersenyum dengan telunjuk dan jari tengah teracung di depan dadanya.
“Ayolah! Tidak bisakah kita bercanda sedikit? Aku bisa gila kalau begini terus.”
“Bisa lebih gila kalau kecelakaan itu benar-benar terjadi dan kita diam saja, padahal kita mungkin bisa melakukan sesuatu.”
“Jadi, kita sudah sampai pada kesimpulan bahwa itu kecelakaan pesawat terbang kan?” kata Renaldo.
“Kurasa begitu.”
“Lalu kita bisa apa? Ini bukan tentang orang yang akan jatuh dari tangga. Ini kecelakaan pesawat terbang. Kita tidak bisa menghentikannya.”
“Kita bisa memperingatkan mereka.”
“Tapi, bagaimana? Kamu juga harus ingat. Kita pernah melakukannya. Kecelakaan kereta api tiga tahun lalu. Mereka menganggap itu omong kosong.”
“Tetap harus dicoba. Kita hubungi bandara.”
Bimo menelepon. Beberapa kali ia berdebat dengan para penerima telepon di seberang. Akhirnya, ia meletakkan gagang telepon.
“Bagaimana?”
“Mereka menutup teleponnya.”
“Tidak harus terjadi malam ini, kan?”
“Ya. Tapi, mungkin juga malam ini karena kita memiliki Time.”
“Masih ada satu setengah jam sebelum tengah malam. Menurutmu apa lagi yang bisa kita lakukan?”
“Bagaimana kalau pergi ke pantai?”

Hujan masih turun, tapi tidak sederas sebelumnya. Jalanan telah sepi dari kendaraan. Mobil yang mereka tumpangi melaju mulus. Dalam setengah jam Renaldo dan Bimo sudah bisa melihat pantai. Renaldo terus mengemudikan mobilnya sampai mendekati laut.
“Kamu yakin ini diperbolehkan?”
“Aku tidak peduli!”
Renaldo mematikan mesin mobil.
“Aku harap semuanya tidak benar,” kata Renaldo
“Kalau ternyata benar?”
“Aku harap pesawat itu jatuh ke air.”
“Kurasa tidak ada bedanya.”
“Iya juga. Kemungkinan terburuk adalah pesawat itu mengalami kerusakan pada mesin dan hanya bisa meluncur tak terkendali. Dengan kecepatan seperti itu, sama saja jatuh di permukaan yang keras.”

Hujan benar-benar berhenti, tapi langit masih berawan. Renaldo duduk di kap mobil dan menumpukan kedua kakinya pada bemper. Bimo bersandar di pintu kiri sambil memandang langit. Mereka terhanyut dalam lamunan masing-masing.
“Jam berapa?” tanya Bimo tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“23.30,” Renaldo hanya melirik
Hening lagi.
“Aku melihat sesuatu,” Bimo menepuk lengan kiri Renaldo.
“Itu pesawat terbang,” kata Renaldo.
“Dan… tanpa lampu.”
Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam memandang pesawat terbang yang tampak samar diterangi cahaya lemah bulan.
“Kamu benar. Tidak ada yang bisa kita lakukan,” Bimo berkata lirih.
“Dari tadi kamu yang meyakinkan aku kita bisa melakukan sesuatu.”
“Aku keliru.”
“Tidak, Bim.”
Bimo melepaskan pandangannya dari pesawat terbang.
“Ingat katu terakhir?”
“Illumination.”
“Kartu itu mewakili daya manusia, dan itu kamu, Bim.”
“Apa?”
“Illumination adalah ideku. Sejak awal Illumination hanya mengacu kepada kamu.”
Renaldo turun dari kap mobil.
“Selama ini Illumination tidak pernah muncul karena kita tidak pernah benar-benar membutuhkanmu,” Renaldo merasa Bimo akan mengajukan pertanyaan, “Aku baru menyadarinya ketika duduk di kap mobil. Semua peristiwa buruk yang pernah terjadi bisa dicegah tanpa melibatkan kemampuanmu. Hanya saja, orang-orang tidak pernah mendengarkan kita,” Renaldo menatap sekilas ke arah pesawat terbang yang semakin rendah. “Tapi, yang ini lain. Pesawat itu mungkin telah terbang dari tempat yang jauh berjam-jam yang lalu sehingga kita tidak mungkin memperingatkannya,” Renaldo menatap Bimo, “Illumination telah muncul. Kamu harus menggunakan kemampuanmu.”
“Kamu gila!” Bimo menggerak-gerakkan tangan kanannya dengan jemari terentang di depan wajah Renaldo, “Kamu sadar, kan? Ini pesawat terbang!”
“Kamu harus mencobanya, Bim! Setidaknya kurangi kecepatannya!”
Bimo tidak bisa berkata apa-apa. Ia benar-benar bingung, tapi ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Ia melihat sekilas ke arah pesawat terbang sambil merogoh saku-saku celananya. Ia mengeluarkan dompet, ponsel, dan sapu tangan, lalu menyerahkannya ke Renaldo. Bimo berlari mendekati laut. Sementara itu Renaldo juga mengeluarkan dompet dan ponsel dari saku celananya lalu melemparkannya bersama dompet, ponsel, dan saputangan Bimo ke jok belakang. Ia lalu berlari mendekati Bimo. Kecepatan pesawat terbang mulai berkurang dan semakin pelan ketika mendekati permukaan laut.
“Usahakan bagian perut mendarat terlebih dulu!”
Pesawat terbang mengambang di udara di permukaan laut.
“Tahan jangan sampai tenggelam! Aku akan berenang mendekatinya.”
Renaldo berlari ke air lalu menceburkan diri ke laut. Ia berusaha berenang secepat mungkin mencapai pintu pesawat. Pesawat terbang masih cukup jauh dari pantai. Pintunya mulai terbuka dan sayup-sayup terdengar suara tangis anak-anak. Bimo yang berada di pantai mulai merasa lelah. Arak-arakan manusia yang memakai rompi penyelamat mulai mendekati pantai. Suara tangis semakin jelas terdengar. Ketika mereka semakin dekat, Bimo memutuskan melepaskan pesawat terbang. Air laut memasuki badan pesawat terbang dengan deras melalui lubang hangus di bagian perut pesawat. Pesawat terbang perlahan tenggelam. Bimo berjalan mendekati mereka dan berusaha membantu menepikan anak-anak. Tafsiran Renaldo dan Bimo benar, tidak kurang setengah dari seluruh penumpang pesawat adalah anak-anak.

Para petugas pengawas pantai berdatangan dengan mobil-mobil bersirine. Pantai menjadi begitu meriah. Di tengah keriuhan itu Bimo merasakan sesuatu. Ia memandang ke arah riak-riak kecil di tempat tenggelamnya pesawat terbang. Ia tidak melihat apa-apa, tapi ia tahu ada sesuatu di sana. Ia segera menceburkan diri ke laut.

Renaldo yang merasa sudah cukup dengan usahanya untuk membantu anak-anak mulai mencari Bimo. Panggilannya tidak mendapat tanggapan. Ia tahu ia tidak mungkin bertanya kepada orang-orang yang pikirannya masih diliputi Darkness. Ia memutuskan kembali ke mobil. Mobil kosong. Ia mendengar suara perempuan panik di tengah kerumunan.
“Joseph! Joseph! Di mana kamu?”
Renaldo berlari mendekat.
“Ada apa?”
“Anakku! Aku tidak melihatnya!”
“Mungkin sudah dibawa oleh pengawas pantai.”
“Tidak ada,” katanya sambil berurai air mata.
“Di mana ia terakhir kali di dalam sebelum pesawat terbang jatuh?”
“Oh, Tuhan!” perempuan itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, “Ia mengatakan akan ke toilet. Aku tidak melihatnya sampai aku menyadarinya beberapa saat yang lalu. Aku kira ia sudah keluar,” perempuan itu semakin tidak terkendali.

Semuanya menjadi jelas bagi Renaldo. Ia tahu ke mana Bimo pergi. Ia berniat menyusulnya. Tapi, sebelum ia menceburkan diri ke laut, dari tempat di sekitar tenggelamnya pesawat terbang, muncul sebuah lidah air yang menjulang tinggi kemudian membentuk setengah lingkaran tidak sempurna dengan ujung mengarah ke pantai. Renaldo memerhatikan ujung lidah air. Ia melihat seseorang di sana. Ketika ia belum sempat memikirkan yang akan dilakukannya, air itu telah menghujam ke arahnya. Anak laki-laki yang tampak pucat kedinginan mendarat di pelukannya. Ia membawanya ke kerumunan dan meletakkannya di pasir pantai. Para petugas pengawas pantai mengambil alih. Setelah menyadarkannya ia diserahkan kepada ibunya. Mereka berdua menangis.

Renaldo mengamati Joseph dan ibunya yang tangisnya mulai reda. Seorang pengawas pantai memberinya selimut. Renaldo merapatkan selimut ke tubuhnya sambil berjalan mendekati Joseph dan ibunya.
“Dia baik-baik saja?”
“Kurasa begitu,” sambil mengusap kepala Joseph yang berada dalam dekapannya.
Joseph memutar kepalanya dan memandang Renaldo.
“Hai. Bagaimana keadaanmu?”
“Oke,” jawab Joseph lirih.
Setelah mengambil nafas Renaldo kembali bertanya,
“Apa yang terjadi di sana?”
Joseph memandang ibunya sesaat lalu kembali memandang Renaldo.
“Seseorang membukakan pintu toilet yang macet.”
“Laki-laki atau perempuan?” Renaldo melanjutkan.
“Laki-laki.”
“Apakah dia baik-baik saja?”
“Hidungnya berdarah.”
Renaldo semakin cemas.
“Di mana dia sekarang?” tanya ibunya.
“Ia berkata ia sudah lelah dan tak bisa membawaku ke pantai dengan berenang.”
“Dia berkata seperti itu?” ibunya merasa heran.
“Ya. Lalu ia mengatakan aku tidak usah takut, aku akan baik-baik saja, seseorang di pantai akan menyelamatkan aku,” Chris menelan ludah, “Ia melepaskan tangannya dan mendorongku menjauh darinya. Aku seperti terbang.”
“Terima kasih,” Renaldo mengakhiri pembicaraannya. Ia tahu Bimo telah menggunakan kemampuannya yang lain untuk berbicara dengan Chris.

Renaldo kembali ke air dan mematung. Pandangannya menerawang jauh ke tengah laut.
“Do.”
Ia mendengar seseorang memanggil namanya. Suaranya pelan. Ia mencari-cari. Tidak ada siapa pun.
“Do.”
Ia baru sadar suara itu suara Bimo. Ia melihat tubuh Bimo tergeletak beberapa langkah di depannya. Ia bergegas menghampirinya. Bimo berusaha bangkit.
“Bim! Kukira….,” Renaldo tidak melanjutkan kata-katanya.
“Kali ini kita berhasil.”


About this entry