Lanang

Lanang

Bramantio

Dua tahun berlalu sejak hari itu. Penantian yang seolah tak ada akhir. Kenangan yang tak pernah larut dalam waktu. Sepi yang menusuk-nusuk. Airmata yang tak untuk dibagi. Tawa yang hanya untuk ditelan sendiri. Bayangan yang selalu mengusik. Pertemuan kembali.

Dua tahun yang lalu anak lanangku berpamitan. Ia berniat meninggalkan rumah untuk mengadu nasib. Begitu istilahnya. Mengadu nasib. Mengapa ia tak memilih memadu nasib saja? Mengadu nasib pasti tak pernah mudah. Memadu nasib tentu lebih banyak manisnya. Ia tak berniat kembali ke rumah hingga ia benar-benar merasa mapan. Waktu itu aku benar-benar ingin mencegahnya. Aku merasa… Entahlah. Ibunya pergi belum genap setahun sebelumnya. Tanah kuburannya pun bagiku masih terasa hangat. Mungkin selamanya akan seperti itu. Berat rasanya ditinggalkan dua orang tercinta pada saat yang tak berselang jauh. Bagaimana pun, aku tak kuasa menghentikan langkahnya. Ia memiliki impian. Ia ingin mewujudkan impiannya. Dan impian itu juga menjadi impianku. Bukankah setiap orangtua selalu mengharapkan yang terbaik untuk anaknya? Bukankah kebahagiaan anak adalah juga kebahagiaan orangtua? Selama itu pula aku menghabiskan waktuku sendirian di rumah. Membaca buku-buku lama. Mengguntingi artikel-artikel menarik di koran. Yang tak menarik pun kadang tak bisa lolos dari guntinganku karena mungkin aku membutuhkannya suatu hari nanti untuk menelusuri kembali jejak waktu. Mengurus taman mini di belakang rumah. Menguras kolam dan menggerus lumut yang mungkin sudah terlalu tebal dan tampak menjijikkan. Kadang keluar untuk membeli makanan. Kadang duduk beberapa lama di beranda untuk menanti penjual makanan lewat. Kadang masak sendiri. Rasa pun tak lagi penting. Rumah kecil itu terasa besar. Dan sepi. Ia benar-benar menepati kata-katanya. Ia tak pernah pulang menjengukku. Ia juga tak mengizinkankaku datang menjenguknya. Alamatnya pun aku tak tahu. Kabar darinya hanya singgah melalui telepon. Juga uang bulanan kirimannya yang disertai catatan pendek: Pak, aku baik-baik saja. Aku berharap demikian pula keadaan Bapak. Kata orang, akan datang waktunya ketika anak menemukan jalannya sendiri dan orangtua harus ikhlas. Ikhlas… Ternyata tak mudah untuk menjadi ikhlas.

Awal pekan. Senin pagi yang cerah. Stasiun Gambir. Hijau yang tak pernah tua. Kereta malamku dari telah memasuki stasiun. Pada awalnya ia memintaku naik pesawat saja. Tapi, aku lebih memilih naik kereta. Jika aku memenuhi permintaannya, itu adalah pertama kalinya aku naik pesawat. Aku merasa takut setiap membayangkannya. Tak menjejak bumi. Padahal aku masih hidup. Timbul dan tenggelam dalam awan. Sungguh mengerikan. Lebih-lebih aku pergi sendirian. Seharusnya keretaku tiba satu setengah jam yang lalu. Tapi, ya begitulah. Selalu terlambat. Dalam hitungan jam. Bukan menit. Atau tetap menit? Bukankah satu setengah jam adalah sembilan puluh menit? Ah kereta… Orang-orang mulai berdiri. Meraih barang-barang bawaan di rak-rak di sisi kanan-kiri kereta. Segalanya menjadi lebih riuh. Para kuli stasiun mulai memasuki kereta untuk menawarkan jasanya. Orang-orang keluar dari kereta. Orang-orang celingukan mencari kerabat. Bersalaman. Berpelukan. Bercakap-cakap sambil berjalan menuju pintu keluar. Kereta kosong. Nyaris kosong. Aku beranjak dari kursiku. Meraih tas tanggung di rak. Lalu berjalan keluar kereta. Di mana ia?
“Pak,” seorang laki-laki menyapaku dari arah kiri.
“Saudara siapa?”
“Ini aku, Pak. Anakmu.”
Anakku? Aku menatapnya. Lama. Dalam.

Unbelievable! Apakah aku bermimpi? Daydreaming? Tidak, tidak, tentu saja tidak. Ini semua nyata. As real as all those never-ending files on my office-desk! Bapak datang. Tetapi, bukan itu yang membuatku sulit memercayainya. Nope. Dua tahun kami tidak saling bertatap muka. Dan kini ketika kami bertemu kembali, Bapak ternyata tidak mengenaliku. How come? Bahkan ketika aku meraih tangan kanannya untuk kucium, aku merasakan getar penolakan. Sebuah jarak yang tidak terbentuk oleh ukuran meter. Gosh! Kedua mata yang begitu teduh itu terus-menerus memandangiku dengan cara yang tidak pernah kukenal. Menyelidik. Curiga. Bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Aku tidak mau terlalu ambil pusing. Aku meraih bahunya dan mengajaknya berjalan bersisian denganku menuju pelataran parkir.

Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam. Aku memandanginya. Masih tak percaya. Masih ragu tentang kebenaran ia adalah anakku. Garis wajahnya masih sama. Ia masih bocah yang pernah terluka di pelipis kanannya ketika pertama kali belajar mengayuh sepeda beroda dua. Luka itu masih terpatri di sana. Ia masih bocah yang menyimpan lesung pipi. Juga belahan di dagu yang kini tak sejelas sebelumnya karena tertabiri semu jejak janggut yang tercukur bersih. Ia masih bocah yang suka menepuk-nepuk paha kirinya ketika tangan kirinya tak sedang terikat dan terbebani oleh apa pun. Tapi, banyak hal yang begitu berbeda. Rambut hitamnya yang tebal tak lagi berbelah kanan dan tersisir rapi ke arah kiri. Helai-helai itu kini mencuat-cuat bagai rerumputan basah di taman yang terlalu bandel untuk tunduk kepada bumi. Kedua cuping telinganya yang tak pernah tua timbul-tenggelam di antara bayang-bayang helai-helai rambut yang jatuh tajam tak beraturan. Kemeja biru muda yang dari kejauhan tampak berharga tak murah. Yang dua tahun lalu tak mungkin dikenakannya dengan cara dan rasa yang sama. Sehelai dasi dengan warna biru yang lebih gelap ditingkahi garis-garis putih melintang membuatnya semakin gagah. Ah, benarkah ia anakku? Tubuh kerempengnya yang dulu benar-benar lenyap di dalam semua itu. Belum lagi celana hitam beserta ikat pinggang berkepala logam persegi. Dan tentu saja sepasang sepatu dengan ujung persegi yang kilapnya aku yakin membuat malu lantai stasiun yang berdebu. Wangi yang begitu segar menyelimuti tubuhnya. Kulitnya pun kini lebih putih lebih bersih. Ah, masih kuingat wajahnya dulu setiap pulang sekolah yang meskipun tak legam tampak begitu kusam oleh minyak bercampur debu jalanan yang terpanggang sempurna oleh terik matahari.

Oh, Bapakku tersayang, Bapakku tercinta, mengapa masih saja Bapak memandangiku dengan cara seperti itu? Is there something wrong with me? What is it? Tell me. I won’t ask. Karena cepat atau lambat aku pasti mengetahui jawabannya.

Mobil berhenti di depan pagar batu setinggi sekitar satu meter. Rumah tipe empat lima. Halaman selebar beberapa langkah. Pot-pot aneka ukuran aneka tumbuhan. Petak-petak batu untuk jalan mobil dan manusia. Kanopi hijau yang tak pernah tua. Kami memasuki rumah. Ah, nyaman sekali. Tak banyak ruang. Tak banyak barang. Kamar untukku hanya memuat tempat tidur, almari berpintu ganda dengan cermin, dan meja serta kursi di sudut. Juga sebuah lampu berkaki tunggal setinggi orang. Aku duduk di tepi tempat tidur. Memandangi sekelilingku. Menerawang ke luar melalui jendela berdaun tunggal dan berteralis kotak-kotak memanjang. Hijau lagi. Selalu hijau. Selalu segar. Mengingatkanku pada taman mini di belakang rumah kami. Segalanya begitu indah. Pertemuan ini. Anak lanangku yang tampak begitu makmur. Mobil yang melaju tanpa deru. Rumah kecil yang damai. Kamar mungil yang hangat. Tapi, mengapa aku merasa gundah?

Hari keduaku di rumah ini. Ia selalu meminta maaf karena belum sempat mengajakku berkeliling Jakarta. Tak apa, kataku. Kedatanganku adalah untuk menemuinya, bukan untuk menikmati asap knalpot dan terik matahari. Juga berbagai tempat yang hanya akan menguras isi dompet. Ia berangkat ke kantor pagi buta dan pulang larut malam. Sekalian, Pak, daripada terjebak macet berkepanjangan, katanya. Aku pun kembali ke rutinitasku. Membaca buku-buku koleksinya. Mengurus rumah. Membereskan apa pun yang bisa kubereskan. Membersihkan apa pun yang memang menanti uluran tangan. Seluruh ruangan. Tak terkecuali kamarnya. Saat itulah beberapa lembar foto terjatuh dari dalam sebuah buku ketika aku memindahkannya untuk membersihkan debu di meja kerjanya. A Home at the End of the World, begitulah yang tertulis di sampul muka buku itu. Aku memunguti foto-foto itu. Lalu melihatnya satu per satu. Ia dan seorang laki-laki. Ia dan seorang laki-laki lagi. Lagi-lagi laki-laki itu. Dan lagi. Laki-laki yang sama sejak foto pertama hingga yang penghabisan. Di pantai di sisi nyiur bongkok nyaris sujud mencium pasir putih. Di sebuah tempat berlatar belakang gunung membiru berselimut kabut. Di tangga batu sebuah bangunan yang tampak kuno. Di sebuah meja. Duduk saling berseberangan mengapit sebuah kue tart dengan lilin berbentuk angka tiga lengkap dengan api mungilnya. Di rumah ini. Di kamar ini. Senyum itu. Kebahagiaan itu. Inikah yang membuatnya memintaku untuk tak datang menjenguknya?

Kulihat Bapak duduk dalam gelap di atas sofa di depan televisi. Aku bimbang antara kembali ke kamarku atau menemaninya. Ketika ia menyadari kehadiranku, ia hanya menoleh sedikit ke arahku lalu kembali menerawang entah ke mana. Aku pun duduk di sampingnya. A perfect picture of father and son. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir kami. Detik jam yang sering kali terabaikan lamat-lamat menemukan pendengarnya. Suara-suara malam yang begitu jauh tiba-tiba terasa tidak berjarak. Udara bisu yang merambat pelan menjelma gelombang kebekuan. Aku melirik Bapak. Ingin aku bertanya apakah Bapak baik-baik saja? Tetapi, aku tahu Bapak tidak baik-baik saja. Ingin aku bertanya tentang yang Bapak pikirkan. Pada saat yang sama aku tahu yang Bapak pikirkan. Aku hanya ingin memastikan. Is it about all those pics? Aku yakin Bapak telah melihatnya karena susunannya tidak lagi sama seperti ketika terakhir kali kusentuh. Tetapi, aku tetap diam. Kuraih tangan kanan Bapak dengan tangan kiriku. Kudekap erat di atas lembutnya permukaan sofa. Jemari yang telah uzur. Kulit keriput yang menyimpan puluhan tahun suka duka fana. Tulang-tulang yang merapuh. Kuku-kuku yang bergurat-gurat halus. Urat-urat tua yang menonjol berseliweran. Semua teraba sempurna oleh jemariku. Semua terasa oleh setiap detak di dadaku. Satu-satu. Mengeja rasa. Bapak menghela nafas panjang. Sepasang mata yang begitu teduh itu telah tertabiri oleh bening. Yang kelak retak. Lalu runtuh. Dan mengalir pelan menuju bumi. Irama itu lagi. Dan aku pun tidak bisa berkata selain: Pak, aku masih anakmu yang dulu dan selalu seperti itu. Tabir beningku pun retak. Lalu runtuh. Dan mengalir pelan menuju bumi.

Apakah kau masih pergi ke gereja? tanya Bapak ketika sarapan. What a question?! Of course I still! Benarkah aku tampak begitu berubah hingga cukup layak untuk menerima pertanyaan seperti itu? I always have God in my heart, in my mind, in my soul, in my body, in my everything. I always love Him. Bahkan cintaku mungkin jauh lebih besar daripada tahun-tahun yang telah. Dan mengertilah, Bapak. Manusia tidak dicipta untuk terus-menerus menjadi sosok yang sama. Aku berubah karena memang demikianlah yang seharusnya terjadi. Atau pertanyaan itu sebenarnya berkaitan dengan foto-foto itu? I’m tired with all this. This is my choice. My right. My life.

Ia pergi begitu saja tanpa berpamitan dan mencium tanganku. Aku merasakan getar kemarahan yang teredam. Di dadanya. Di dadaku. Apa salahku bertanya seperti itu? Aku hanya mengingatkannya. Aku tak ingin ia jauh dari-Nya setelah ia jauh dariku. Aku tak lagi bisa menjaganya. Siapa lagi yang bisa menjaganya di tengah hiruk-piruk kota ini selain Dia? Ah, ia benar-benar berubah. Sangat berubah. Aku tak perlu memintanya kembali duduk di meja makan ini. Ia bukan lagi bocah kecilku yang dulu. Aku hanya membereskan piring-piring dan gelas-gelas yang tak tuntas menyelesaikan tugas. Seperti piring-piring dan gelas-gelas itu, aku pun merasa gagal menjadi bapak baginya. Benarkah? Mungkinkah aku merasa gagal hanya karena ia tak seperti yang selama ini kubayangkan dan kuharapkan? Bukankah ia bahagia dengan kehidupannya sekarang? Seharusnya aku pun berbahagia untuknya. Entah siapa yang pernah berkata bahwa kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua. Kini aku mengerti, kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua hanya apabila kebahagiaan anak adalah seperti yang dibayangkan dan diharapkan orangtua.

Di sepanjang perjalanan aku terus-menerus berusaha mencerna kata-katanya: Pak, inilah sebenar-benarnya cinta. Kini aku berada di Stasiun Gambir lagi. Menunggu kereta yang akan membawaku pulang.


About this entry