Malam Ini Purnama Tak Tersenyum

Malam Ini Purnama Tak Tersenyum

Bramantio

Wajah pucat satu dimensi sedang nestapa
Bukan oleh bopeng topeng usang yang diukir bintang jatuh di ruang hampa
Tapi, oleh pucuk-pucuk liuk bambu yang pernah seruling Sulaiman
Ada getar yang terlalu samar didengar
Juga gundah yang begitu lirih disentuh
Ia tak sedang menggantung di atas cermin tirta
Netra tunggal semunya benar-benar buta
Jemari penawar luka adalah impian yang tak kunjung singgah
Hanya sang bayu yang mengirimkan selapis tipis awan susu
Menyamarkan airmata selintas lalu


About this entry