Pelabuhan

Pelabuhan

Bramantio

Laki-laki tua duduk tegak di perahu kecil. Pandangannya menerawang ke sungai luas dan langit luas yang keduanya kelabu. Tak ada ikan-ikan yang berenang hilir-mudik di sungai. Tak ada burung-burung yang terbang mondar-mandir di langit. Tak juga ada arak-arakan awan putih. Ia mendekap tubuh rentanya erat-erat untuk menghalau dingin yang tak tertahan sempurna selapis kemeja dan celana panjang putihnya. Kaki telanjangnya menjejak mantap permukaan kayu lembab yang tak pernah tenang sepenuhnya karena gerak air. Tak ada kata-kata yang berkeliaran di ruang antara laki-laki tua dan jurumudi yang berdiri kukuh rapuh di haluan perahu sambil menaik-turunkan galah pelaju menembus air sungai hingga dasar. Kecipak air yang merambat di perut perahu menjadi satu-satunya suara di dalam kekelabuan itu.

Jika ditanya tentang tanggal kelahirannya, ia tak pernah bisa menjawabnya. Sistem penanggalan pada saat kelahirannya memang sudah ada, tapi sama sekali tak berarti bagi kedua orangtuanya, juga baginya pada akhirnya. Ibunya dulu hanya mengatakan kelahirannya seiring berubahnya jingga senja menjadi hitam malam, ketika rembulan tak lagi pucat, ketika bintang-bintang tak lagi pudar. Bapaknya dulu hanya mengatakan kelahirannya sejalan dengan kembalinya burung-burung ke sarang, ketika para dali berputar-putar memenuhi langit beraroma malam, ketika kelelawar-kelelawar meninggalkan peraduan menuju gemelap kehidupan malam.

Ketika ia setinggi kambing kurban, ia melihat raksasa-raksasa putih berambut api datang ke kotanya dari tanah seberang nun jauh di sana. Awalnya ia begitu mengagumi sosok raksasa-raksasa putih berambut api dan bercita-cita menjadi salah satu di antara mereka; menjadi tinggi dan besar dan putih. Setiap berpapasan dengan raksasa-raksasa putih berambut api hatinya berdebar-debar karena terjadi sebuah pertarungan di dalam dirinya antara keinginan untuk berkenalan dan perasaan takut. Kekagumannya tak bertahan lama setelah ia melihat dan merasakan meskipun belum memahami, keresahan yang tergambar kuat pada wajah ibu, bapak, dan orang-orang di sekitarnya setiap jarak antara mereka dan raksasa-raksasa putih berambut api semakin dekat.

Suatu pagi untuk pertama kalinya bapaknya mengajaknya berperahu di sepanjang Kali Mas. “Akan kuperlihatkan sesuatu yang luar biasa kepadamu,” kata bapaknya. Bapaknya bermata pencaharian sebagai pencari ikan sungai yang dijualnya di kawasan perdagangan di Heerenstraat. Bapaknya juga menjual hasil tangkapannya di Handelstraat dan Sosieteitstraat setelah terjadi pemekaran kawasan perdagangan. Apabila ikan-ikan yang diperoleh tak banyak, bapaknya sekali waktu juga bekerja sebagai kuli bongkar-muat di Toko Delima milik Boerhanuddin. Ibunya juga tak tinggal diam di rumah karena setiap pagi sampai menjelang siang ia berjualan nasi pecel—lengkap dengan tahu, tempe, juga telor rebus dan daging empal serta rempeyek kacang, teri, atau udang yang bisa dipilih pembeli—di Oosterkade Kali Mas, tak jauh dari perkampungan orang-orang Arab, Cina, dan Melayu. Sebelum pagi itu bapaknya sudah sering mengajaknya berkeliling kota menaiki sepeda kebo; melihat rumah-rumah elit Eropa di kawasan Gubeng sampai Sawahan, melihat kereta api-kereta api datang dan pergi di stasiun di depan Benteng Prins Hendrik yang pada salah satu bagian dindingnya tak jauh dari loket tertanam lempengan logam bertuliskan 10 december 1889, dan melihat Jembatan Petekan yang bisa membelah naik-turun—layaknya air Laut Merah dalam kisah Nabi Musa yang pernah dituturkan ibunya kepadanya—ketika ada kapal atau perahu yang melintas di bawahnya. Bapaknya melakukan semua itu untuk menjauhkan sejenak anak semata wayangnya dari keresahan orang-orang di sekitarnya, tak terkecuali pagi itu. Hari itu menjadi hari yang terus dikenangnya sampai berpuluh-puluh tahun sesudahnya. Ada keraguan pada dirinya ketika bapaknya menyuruhnya menaiki perahu yang terapung di sungai yang airnya bergelombang kecil. Ia menatap sepasang mata bapaknya yang selalu sama seperti ketika ia menatapnya untuk pertama kalinya; sesaat setelah melihat terang dunia ia melihat sepasang lingkaran hitam bening mata bapaknya. Selama ia belum mampu berkata-kata ia senantiasa berbicara kepada sepasang mata bapaknya. Ia tak pernah berkata-kata kepada sepasang mata ibunya meskipun ia memiliki lebih banyak kesempatan untuk melakukan hal itu; ketika ibunya memandikannya dalam sebuah bak besar—yang terbuat dari seng tebal yang bagian bawahnya mulai berkarat—di tepi sumur, ketika ibunya membelai-belai kepalanya yang ditumbuhi rambut-rambut halus sambil menyusui atau menyuapinya. Sepasang mata bapaknya tak pernah berkata apa-apa, tapi yang ia rasakan setiap menatapnya adalah keyakinan; keyakinan segalanya akan baik-baik saja. Ia pun melangkahkan kakinya menaiki perahu. Di belakangnya bapaknya menaikkan sepeda kebo-nya ke perahu dan meletakkannya dalam posisi tidur, menaiki perahu, mendorong perahu menjauhi tepi sungai dengan dayung tunggalnya, lalu mendayung beberapa kali untuk memutar perahunya dan mengarahkannya ke muara sungai. “Cak!” seru seorang laki-laki yang duduk di perahu tak jauh dari mereka sambil melambaikan tangan kanannya. Laki-laki berkumis tebal kawan bapaknya itu adalah tukang tambang yang sedang menunggu penumpang untuk diseberangkan sambil menghisap nikmat asap pekat berat lintingan klobot berisi racikan tembakau dan cengkih kering; mereka menyebutnya rokok kretek—sebuah onomatopea—karena bunyi yang dilahirkannya setiap panjangnya menyusut oleh bara yang merembet ke pangkalnya oleh hisapan empunya. Rokok kretek selalu menjadi pilihan utamanya meskipun terkadang ia harus membayar kenikmatannya dengan titik-titik lubang pada permukaan celana atau sarungnya karena tepercik bara, adakalanya ia juga menghisap rokok kelembak harum kemenyan, tapi tak sekali pun ia menghisap rokok putih karena tak mau menikmati asap pembakaran kertas yang menyaru tembakau. Bapaknya membalas dengan melambaikan tangan kananya sambil tersenyum, sementara tangan kirinya tetap memegang dayung. Perahu bergerak searah arus sehingga bapaknya tak perlu terlalu banyak mengerahkan tenaga. Ia tertawa kecil menikmati perjalanannya sambil sesekali melihat ke arah bapaknya yang mendayung pelan di belakangnya. Ia melihat para lelaki liat berkilat keringat terpapar matahari pagi memanggul karung-karung goni dan peti dari perahu-perahu ke gudang-gudang besar dan kecil yang berderet di sepanjang Westerkade dan Oosterkade Kali Mas. Satu kali perahu menjadi sedikit liar karena berpapasan dengan perahu yang lebih besar yang menciptakan ombak. Ia berpegangan erat-erat pada selapis kayu tempat duduknya; ada geletar di dadanya, tapi penglihatannya terus tertuju pada perahu besar itu sampai ke titik yang jauh. “Perahu itu datang dari muara di depan sana, menyusuri sungai ini sampai Jembatan Merah. Bahkan, ada juga yang pergi lebih jauh sampai Sidoarjo, Mojokerto, Gresik, Jombang, dan Lamongan,” kata bapaknya ketika melihat ketertarikannya pada perahu besar itu.

“Kita telah sampai,” kata bapaknya sambil mencari sela di antara perahu-perahu besar dan kecil yang merapat di kanan-kiri Kali Mas. Ia belum pernah merasakan berada di tengah keramaian yang begitu riuh seperti saat itu. Setelah berhasil merapat dan menambatkan perahu bapaknya meraih tangan kanannya untuk membantunya turun dari perahu. Ketika bapaknya masih sibuk menurunkan sepeda kebo-nya dari perahu, di depannya melintas tiga raksasa putih berambut api berseragam pelaut yang masing-masing membawa foto-foto besar berpigura; tiga wajah di dalam foto itu menarik perhatiannya. “Beberapa tahun yang lalu mereka bertigalah yang membumikan angan-angan tentang pelabuhan ini. Tuan van Goor, Tuan de Jongh, dan Tuan Kraus,” kata bapaknya yang telah berdiri di sampingnya menuntun sepeda kebo-nya. Sejak menginjakkan kaki di kawasan pelabuhan itu kekaguman yang terpancar dari sepasang mata bocahnya tak pernah surut. Ia tak hanya menjumpai raksasa-raksasa putih berambut api dalam jumlah besar, tapi juga manusia-manusia berkulit kuning cerah bermata selarik, juga orang-orang dengan alis membelukar tebal menaungi sepasang mata hitam dalam; ibunya tak pernah mengajaknya berjualan nasi pecel tak jauh dari perkampungan Arab, Cina, dan Melayu sehingga itu semua adalah pengalaman baru baginya. Ia melihat kapal-kapal besar di kejauhan berlabuh membongkar-muat barang-barang. “Ayo naik!” ajak bapaknya sambil membantunya naik ke sadel boncengan. Mereka berkeliling menyusuri jalan-jalan pelabuhan yang masih muda—Amsterdamweg, Genuaweg, Marseileweg, Lisabonweg, Portsaidweg, Rotterdamweg, dan melihat bangunan-bangunan yang di berandanya tergantung atau terpancang papan-papan kayu bertuliskan nama kantor dagang—N.V. Droogdok Mij. Soerabaia, N.V. Fabrieken van Spoorwegmateriaal, N.V. Java Transport & Handel Mij., Oost Java Prauw Maatschappij, Orenstein & Koppel. “Seperti halnya setiap sejarah besar, pelabuhan ini tak dibangun dalam sekejap mata,” kata bapaknya.

Belasan tahun kemudian ia mengajak kekasihnya yang berdarah raksasa putih berambut api bersepeda kebo menyusuri jalan-jalan yang pernah dilaluinya bersama bapaknya. Ia mengukir nama mereka berdua pada batang tubuh pohon beringin raksasa yang lolos dari penggusuran untuk pembangunan jalan tram di sebelah barat jalan kembar Oosterkade dan Westerkade Perakweg; ia mengukirnya dengan pisau jadi-jadian yang berasal dari paku usuk yang ia pipihkan dengan melindaskannya pada roda-roda tram listrik jalur Jembatan Merah—Wonokromo yang selalu ia bawa ketika bersepeda dengan mengikatnya di rangka utama sepeda kebo-nya di bawah sadel. Namun, manusia bukanlah pohon yang menerima cinta mereka dengan tangan-tangan dahan cabang ranting terbuka luas. Tragedi klasik pun berulang; cinta ternyata tak kuasa mengatasi segalanya karena ia takluk begitu saja di bawah sepatu lars jendral besar bernama kelas sosial. Ayah kekasihnya yang bertindak sebagai kontrolir perkebunan gula di Karesidenan Pasuruan memulangkan kekasihnya ke negara asalnya setelah mengetahui dan tak menyetujui hubungan mereka. Mereka pun berpisah tanpa kata-kata perpisahan. Di tengah perjalanan kekasihnya melompat dari kapal dan menyerahkan diri ke dalam pelukan ombak laut ketika pagi masih buta dan mimpi belum sirna. Mayatnya tak pernah ditemukan. Ia yang telah merana sejak perpisahan itu semakin tenggelam dalam nestapa setelah mengetahui kabar kematian kekasihnya. Ia tak pernah kuasa membunuh cintanya kepada kekasihnya meskipun bertahun-tahun kemudian ia menikahi perempuan lain dan memiliki sebuah keluarga.

Perjalanan mereka hampir usai. Ia teringat cerita orang-orang bijak yang mengatakan ada keresahan setiap kali mendekati pelabuhan itu. Ia pun merasa heran karena hal itu tak terjadi padanya. Jurumudi membuat beberapa gerakan terakhir untuk merapatkan perahu. Mereka telah sampai. Ia merogoh saku kanan celananya untuk mengeluarkan tiga keping koin perak berkilau; satu untuk jasa jurumudi yang telah menjemputnya, satu untuk jasa jurumudi yang telah memandunya sepanjang perjalanan yang penuh kedamaian, dan satu untuk jasa jurumudi yang telah mengantarnya sampai ke tempat tujuan dalam keadaan sebaik-baiknya. Ia memberikan ketiga koin perak itu kepada jurumudi yang menerimanya dengan tangan kirinya yang keriput, sementara tangan kanannya masih menggenggam galah. Ia turun dari perahu dan melihatnya seketika. Laki-laki itu berjalan mendekatinya. Mereka bersalaman. “Selamat datang di pelabuhanku. Selamat datang di Tartarus. Aku akan mengantarmu menjumpai kekasihmu,” sambut Hades dengan senyum hangat.


About this entry