Seribu Tahun Lagi

Seribu Tahun Lagi

Bramantio

Pesawat telepon menyalak lagi
Ada amarah meruak meriah
Mengalahkan angkuhnya dentang lonceng jam angker di sudut
Minimal sepuluh kali setiap menit sepanjang tiga jam menuju tengah malam
Tak juga ada sesobek kain gading melambai retak
Kucabut saja kabel hidupnya?
Kau selalu begitu
Membuatku bosan
Apa lagi?
Masih ada materi perkuliahan yang tersisa?
Ah, sudahlah, tak perlu kaululuskan aku!
Sudahi saja omong kosongmu!
Betapa bodoh orang-orang sok pintar!
Relakan aku sendiri
Di dalam gelap kamar mimpi liar
Di antara himpitan empuk bantal-bantal aneka wajah penuh hangat setia
Di tepi malam tak berumur panjang diincar pagi
Menanti apa-apa siapa-siapa yang mungkin datang membawa riang terang
Mengingat yang lalu
Meraba yang akan
Menafsir hidup
Mengurai makna
Seandainya ada fasilitas percepatan memutar roda kehidupan ke seribu tahun mendatang
Dan kulihat diriku berkalang tanah


About this entry