Kawan Lama dan Revolusi

Kawan Lama dan Revolusi

Yesaya Sandang

Senin 19 November 2008, hujan deras menguyur Jakarta kala malam menjelang. Pada hari itu jalan hidup kembali mempertemukan kami sahabat-sahabat lama dari bangku sekolah menengah di Melly’s Garden. Para sahabat yang telah sekian lama tidak berkumpul dalam satu forum.

Selumrahnya ketika para sahabat lama bersua, cerita-cerita mulai mengalir dengan serunya. Satu per satu dari kami mulai bertukar kabar, canda dan tawa menghiasi setiap pembicaraan kami. Hingar bingar dan lalu-lalang orang di sekitar tak terhiraukan lagi ketika kami semakin larut dalam nostalgia. Kemudian malam semakin larut dan “Bintang Merah” mulai bersinar terang, pembicaraan kami menjadi semakin hangat. Kisah hidup dalam tuturan yang sarat emosi mulai terkuak dalam satu tema sentral: pergumulan hidup.

Setiap kami berhadapan dengan problematika yang sementara menghadang dalam versi yang berbeda-beda. Masing-masing memiliki sudut pandang tersendiri dalam mengartikulasikan persoalan-persoalan yang terkuak dan juga masing-masing berbeda dalam memberikan komentar dan tanggapan sesuai dari sudut pandangnya tersebut. Adu argumentasi dan pendapat merupakan sebuah iklim yang terjalin secara hangat malam itu. Setiap kami pada akhirnya dapat memetik makna yang merupakan hasil dari proses dialog, proses komunikasi aktif. Lantas saya teringat sepenggal nats dari Ratapan, “adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.”

Di penghujung perjumpaan, kami mengakhiri pembicaraan dengan sebuah topik yang tak kalah menariknya dari pergulatan hidup. Bahkan menurut saya, sebuah topik yang merupakan bagian yang terpisahkan dari pergulatan hidup yang dihadapi manusia, yaitu REVOLUSI. D itengah-tengah pergulatan hidup yang tak berperi, terkadang timbul keinginan untuk segera lepas, segera keluar dari setiap problematika yang menghadang. Kejenuhan, frustrasi, serta kelelahan merupakan efek dari pergulatan terus-menerus yang tak kunjung tuntas. Dalam konteks ini, pembicaraan kami beralih ke kondisi Indonesia.

Dalam beberapa bagian pembicaraan kami sebelumnya (yang bisa disebut sebagai prolog ke topik ini), sempat dibahas persoalan sengketa yang terjadi antara kepentingan-kepentingan ekonomi yang sarat nuansa politis plus embel-embel “agama” dalam kasus penyerbuan kantor PGI-GMKI dan juga kasus konflik antarmahasiswa sepanjang jalur Jl. Diponegoro. Pembicaraan ini membawa kami kedalam sebuah refleksi terhadap bagaimana berkontribusi dalam problematika ke-Indonesia-an yang sejak bergulirnya reformasi 10 tahun yang lalu, masih menyimpan segudang problem yang sudah sedemikian parahnya. Lantas, terucaplah kata itu, REVOLUSI!!!!

Revolusi dalam diskusi kami malam itu tidak berdiri sendiri, tapi ia ditemani sebuah kata kunci lainnya: dekonstruksi. Revolusi dan Dekonstruksi menurut pendangan dua kawan saya merupakan dua kata kunci yang merupakan elemen penting bagi terwujudnya perbaikan di negeri ini. Mereka menyebut dirinya kaum revolusioner. Tesisnya sederhana: hancurkan semua sistem yang ada di negeri ini serta singkirkan semua kalangan yang terlibat di dalamnya lantas baru bangun kembali dari puing-puing yang ada. Oleh karena itu, tesis ini mendukung seruan potong satu generasi.

Jalan pikir revolusioner ini dapat dipahami jika kita mengerti bahwa memang kejenuhan dan skeptisisme sudah sedemikan mendarah-daging. Betapa tidak, jika kondisi yang nyata-nyata dialami dan disaksikan begitu melaratnya, begitu susah untuk bangkit, serta rasa muak akan keadaan yang serba korup yang ditimpali dengan kencenderungan mementingkan diri sendiri dan kelompokisme. Dengan demikian perubahan ke kondisi yang lebih baik dalam waktu yang singkat merupakan idaman sebagian besar orang yang sedang bergulat dengan problematika kehidupan yang demikian kejamnya.

Pertanyaannya sekarang, masih dimungkinkankah tercipta revolusi dan dekonstruksi secara total dan besar-besaran tersebut dalam waktu singkat? Kalau dimungkinkan, mau dimulai dari mana revolusi dan dekonstruksi tersebut? Kawan-kawan saya yang mewakili golongan ini memberikan argumentasinya masing-masing, mulai dari perang saudara (civil war), kudeta, gerakan massa, sampai pada model-model anarki.

Bagi kaum revolusioner, perubahan itu haruslah di sini dan sekarang juga, maka yang diperlukan adalah aksi, aksi, dan aksi. Padahal, yang luput dari argumentasi aksioner semacam itu adalah aksi memerlukan pendasaran-pendasaran yang tepat untuk membaca situasi. Itulah mengapa pada momentum reformasi 98 tidak (belum) terjadi perubahan secara radikal. Pada saat itu (hingga sekarang) perubahan yang terjadi begitu tergesa-gesa atas dasar trauma otoriterianisme, dan demokrasi yang ada masih amat belia tanpa kesiapan yang mumpuni untuk menangkal segala virus-virus yang masih hidup dan bertahan hingga sekarang. Di sisi yang lain, argumentasi dekonstrusi sebenarnya masih dapat bekerja tanpa harus memorak-porandakan tatanan yang sudah ada. Dekonstuksi dapat beroperasi pada modus-modus yang lebih sistematik danlebih mendetail tanpa perlu memakan ongkos sosial yang terlalu fatal.

Pada akhirnya, dalam diskusi malam hari itu kami semua sepakat bahwa kita memerlukan perubahan dan harus berubah menjadi lebih baik. Ada urgensi yang harus segera disikapi agar kondisi yang ada tidak semakin berlarut-larut. Kami mengakhiri perbincangan kami tentang revolusi dengan sebuah kesimpulan sederhana yang mungkin terkesan sepele akan tetapi rupa-rupanya ini merupakan poin penting yang mendesak dan mendasar. Bahwasannya untuk mewujudkan perubahan yang radikal memerlukan energi yang sama besarnya dari dalam diri yang sudah mengalami revolusi. Singkatnya, mulailah revolusi itu dari diri sendiri, kemudian bawa semangat itu ke dalam setiap komunitas yang kita singgahi sembari mempertahankan pluralitas makna yang ada agar tidak terjebak pada sindrom totaliterianisme dan otoriterianisme. Konkretnya, mulai bertindak secara lokal sambil tetap mempertahankan semangat perubahan secara global. Merevolusi diri yang ditandai dengan bangkitnya kesadaran reflektif dari masing-masing individu. Dengan demikian, tampaknya golongan revolusioner masih harus bersabar dan bertekun dalam mewujudkan perubahan, dan golongan evolusioner juga mesti mengakselerasi segenap daya dan upayanya dalam mewujudkan perubahan. Satu hal yang pasti bagi kedua golongan tersebut adalah perubahan akan terwujud demi Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera, jika keduanya bersinergi. Karena orang yang menabur benihnya dengan susah payah akan menuai hasil dengan gilang gemilang.


About this entry