Singing the Blues Too Long

Singing the Blues Too Long*

Yesaya Sandang

Semasa kanak-kanak, kira-kira ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, saya mendengarkan sebuah musik yang diputar oleh ayah saat sedang dalam perjalananan. Seingat saya, pada waktu itu musik yang menyentak keluar terdengar begitu janggal (maklum saja pada saat itu saya sedang menggandrungi musiknya Michael Jackson). Suara-suara yang terdengar begitu lirih, diiringi bunyi gitar listrik yang kasar. Di kemudian hari baru saya mengetahui bahwa yang saya dengar pada saat itu lebih dikenal sebagai musik blues. Ayah saya bukan seorang musisi, walau demikian ia memiliki minat yang amat dalam pada musik-musik yang lazim dinikmati pada masa mudanya (eranya rock jadul semisal Deep Purple dan Led Zeppelin).  Minatnya terhadap musik-musik tersebut rupa-rupanya berimbas kepada anak-anaknya, termasuk saya. Sejak kecil kami dianjurkan untuk mengikuti kursus alat musik sesuai dengan keinginan kami. Beranjak remaja, saya kemudian masuk ke sebuah tempat kursus gitar yang bernama Vidi Vici. Pada masa itu saya banyak belajar tentang fundamental permainan gitar yang berfokus pada teknik-tenkik permainan gitar klasik.

Selepas dari kursus yang hanya saya jalani selama 1,5 tahun, saya mulai menginjak bangku sekolah menengah. Pada fase ini mulai timbul minat pada instrumen gitar listrik. Konon, katanya gitar listrik akan merusak permainan gitar klasik yang sudah saya pelajari (berdasarkan pengalaman pribadi, saya kira ini ada benarnya, karena terdapat perbedaan teknik yang tidak dapat dipertemukan). Walau demikian, hal tersebut tidak mengurungkan niat saya kala itu untuk mengambil kursus gitar listrik di Chic’s Music. Pada saat itulah saya mulai berkenalan dengan genre musik yang bernama blues. Entah mengapa sejak saat itu saya mulai jatuh hati dengan musik tersebut. Saya mendapati bahwa terdapat nuansa emotif yang terkandung di dalam setiap tarikan nada yang keluar dari melodi-melodi blues. Dari sinilah kemudian hari timbul keingintahuan tentang apa sebenarnya musik blues tersebut.

Blues sebagai genre musik dijelaskan oleh beberapa kamus-kamus dan eksiklopedi sebagai salah satu jenis musik Afro-Amerika. Walaupun kata blues sudah umum digunakan sejak masa Ratu Elizabeth dengan makna mendung dan bermuram durja,tetapi kata blues sendiri diperkenalkan secara resmi oleh Washington Irving, penulis cerpen pada awal abad ke-19, yang berarti suasana hati yang murung, suram, serta kepedihan yang mendalam. Blues sendiri pada praktiknya kemudian merupakan cerminan dan ekspresi riil dari penderitaan yang berat dan kehidupan yang melarat dari orang-orang Afro-Amerika pada masa perbudakan di Amerika. Pada masa perbudakan itulah para budak yang notabene adalah orang Afro- Amerikamulai menyanyikan lagu-lagu yang bersyair penyiksaan, penganiyayaan, yang merupakan luapan jiwa yang menderita dan tertekan. Jadi, blues saat itu adalah cerminan kesedihan, walaupun nanti dalam perkembangannya muncul blues-blues yang bervariasi. Dalam perjalanannya selain para budak, blues juga mendapat kontribusi dari penjara di daerah selatan Amerika, yang kebanyakan napinya adalah orang Afro-Amerika. Pada akhirnya, kebanyakan orang kulit hitam pada saat itu menjadi sangat akrab dengan musik blues.

Komposisi musik blues pada awalnya adalah akulturasi dari dua warna musik yaitu Afrika dan Eropa. Lebih jauh lagi dalam perkembangannya, komposisi blues secara langsung maupun tidak telah memengaruhi aliran-aliran musik lainnya seperti jazz, rock, dan sebagainya. Beberapa literatur dan artikel yang saya telusuri menyebutkan bahwa lagu blues pertama yang dikomposisikan secara profesional (direkam) dan dipublikasikan adalah “Dallas Blues” pada tahun 1912 oleh Hart Wand. Sedangkan pola-pola baku blues sudah mulai dipopulerkan oleh seorang komposer berkulit hitam bernama W.C. Handy pada tahun 1911-1914. W.C. Handy sendiri juga mengeluarkan beberapa lagu blues seperti “Memphis Blues” (1913) dan “St.Louis Blues”. Tetapi, lagu blues yang pertama-tama dikomersilkan dan dipublikasikan semuanya masih berbentuk instrumental.

Baru pada tahun 1920 Mamie Smith merekam lagu blues disertai lirik, yang berjudul “Crazy Blues”. Pada tahun 1930 hingga 1940-an blues mulai menyebar ke seluruh bagian Amerika Utara seiring dengan bermigrasinya penduduk Afro-Amerika ke seluruh penjuru negeri. Pada era inilah (sampai tahun 1950) muncul nama-nama legendaris dalam dunia blues seperti Muddy Waters, John Lee Hooker, B.B. King (BB=Blues Boy), mereka ini semua berkulit hitam. Baru pada tahun 1960-an blues mulai “ditemukan” oleh beberapa musisi kulit putih baik di Eropa dan di Amerikasemisal John Mayall, Paul Butterfield, Fleetwood Mac, dan lain-lain. Pada momentum ini musik blues mulai didengarkan banyak orang, khususnya orang yang berkulit putih dan mulai menyebar ke berbagai belahan dunia. Hal ini disebabkan terutama karena isu ras dan warna kulit masih sangat dominan saat itu sehingga agak sulit bagi kaum Afro-Amerika untuk meyebarkan musik blues. Memasuki era 60-an dan 70-an ketika rock mulai booming, beberapa musisiseperti Erick Clapton, Jimi Hendrik, dan Eddi Van Halen menggunakan blues sebagai dasar dari beberapa bagian teknik mereka. Sementara musisi blues lainnya seperti B.B. King, John Lee Hooker tetap mempertahankan tradisi blues awal, yang kemudian memunculkan generasi blues berikutnya seperti Robert Cray, Steve Ray Vaughan (80-90an).

blues-scale1

Blues Scale ini pada dasarnya sama dengan minor pentatonik, tetapi ada nada-nada tertentu yang membedakannya. Nada tambahan tersebut dikenal sebagai “flatted fifth” (b5), atau yang lebih dikenal dengan “blues note”. Penambahan nada tersebut menciptakan suara dan tarikan nada yang khas. Biasanya ”blues note” dimainkan sebagai “passing tone”, artinyanote tersebut digunakan sebagai nada untuk menghantarkan dari nada yang satu ke nada yang lain. Dalam hal ini teknik yang biasa digunakan adalah”bending” dan “slide” walaupun tentunya ada tehnik-tehnik lainnya. Blues scale ini biasa digunakan bersama dengan minor chord, minor 7thchord atau power chord pada saat yang sama.

Seiring berjalannya waktu, perbudakan telah dihapuskan, isu rasial mulai berangsur-angsur surut lantas apa yang terjadi dengan blues? Tema-tema dalam musik blues tidak lagi melulu bercerita tentang penindasan dan penganiyayaan. Blues yang hadir kemudian banyak bertutur tentang hubungan asmara. Walau demikian, nafas “blues”nya tetap terasa. Masih dapat ditemui misalnya tuturan tentang pengkhianatan dan patah hati yang merupakan ungkapan emotif jiwa yang tertekan (Hal ini nampak dengan jelas dalam Film Black Snake Moan yang diperankan oleh Samuel L. Jackson dan Christina Ricci). Dewasa ini di tengah-tengah perkembangan industri musik, blues dalam amatan saya telah lepas dari pakem-pakem tradisionalnya. Hampir di setiap bagian genre musik yang mendominasi pasar, blues tanpa disadari sebenarnya telah meresap baik secara komposisi dan semangat. Tampaknya perjalanan panjang musik blues tidak serta-merta akan berakhir digerus oleh zaman. Blues sampai kapan pun rasa-rasanya masih akan tetap ada, karena ia lekat dengan relung-relung terdalam jiwa manusia, jiwa-jiwa yang tertekan dan tertindas.

*Judul tersebut merupakan judul lagu ngeblues yang pertama kali saya dengar, ada di album Super Blues volume 5 yang di rilis sekitar tahun 70an, dibawakan oleh RASCAL.


About this entry