Dilema Moral dalam Kompleksitas Kehidupan

gone-baby-goneDilema Moral dalam Kompleksitas Kehidupan

Yesaya Sandang

Dalam realitas kehidupan sehari-hari kita sering kali diperhadapkan pada situasi-situasi dimana persoalan baik dan buruk menjadi demikian pelik. Realitas hidup yang tak selalu mudah memaksa kita untuk bergulat dengan pilihan-pilihan moral yang tidak dengan serta merta semudah memilah antara hitam dan putih. Film Gone Baby Gone yang merupakan adaptasi dari novel karya Dennis Lehane (yang juga penulis novel Mystic River, diadaptasi kedalam film dengan judul yang sama) dengan apik mengangkat kompleksitas problematika semacam itu kedalam bentuk sinematografi. Film yang berdurasi 115 menit dan masuk pada kategori R karena memuat kekerasan, materi-materi narkotika serta kata-kata yang kasar, merupakan salah satu film debutan Ben Affleck sebagai sutradara. Film ini sendiri mendapat pujian dari berbagai kalangan khususnya kritikus film. Salah satu website kritik film independent seperti rottentomatoes.com memberikan point 94, disertai dengan ulasan-ulasan yang mengapresiasi.

Film ini dibangun dengan berlatar pada kisah hilangnya seorang anak perempuan berusia 4 tahun yang bernama Amanda. Dikisahkan bahwa Amanda adalah anak satu-satunya dari seorang ibu yang digambarkan sebagai ibu dengan kondisi yang kurang bertanggung jawab dalam mengasuh anaknya. Helena, ibu dari Amanda (diperankan secara mengesankan oleh Amy Ryan) adalah gambaran dari orang tua tunggal (tidak dijelaskan kemana sosok ayah) yang hidup dekat dengan narkotika, dimana ia kerapkali menelantarkan anaknya bahkan membawa serta anaknya kedalam ke”brutal”an hidupnya, akan tetapi disisi yang lain karakternya juga memberikan sisi-sisi keibuan dimana ia masih mencintai anaknya. Disini relasi yang hendak ditunjukan adalah bagaimana sulitnya menjadi orang tua tunggal, baik dari aspek material dan afeksi secara bersamaan. Adalah sang bibi, Bea (Amy Madigan) yang kemudian dalam proses pencarian Amanda melibatkan penyelidik swasta, Patrick Kenzie (Casey Affleck) dan rekannya Anggie Genaro (Michelle Monaghan). Melalui proses penyelidikan yang berkepanjangan, pada akhirnya Patrick menemukan bahwa ternyata hilangnya Amanda, merupakan bagian dari konspirasi antara salah satu keluarga Amanda sendiri (suami Bea, Lionel, diperankan oleh Titus Welilver) dengan pihak polisi, atas nama menyelamatkan sang anak dari kehidupan yang suram bersama ibunya yang seorang pecandu demi masa depannya yang lebih baik.

Sedari awal cerita dapat ditemui bahwa Patrick Kenzie yang merupakan tokoh sentral dari cerita ini adalah seorang pribadi yang ada dalam posisi moral Kantian. Posisi moral ini adalah posisi moral dimana apa yang baik merupakan sesuatu yang baik pada dirinya sendiri (kehendak baik), maka dengan demikian untuk mewujudnyatakan yang baik, ada dalam bentuk yang seharusnya dan diwajibkan. Membunuh adalah buruk maka untuk tidak membunuh adalah suatu keharusan yang baik pada dirinya sendiri. Jika tindakan membunuh dilakukan atas dasar dan alasan apapun (sekalipun untuk “maksud-maskud yang baik”) maka tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan. Dalam satu bagian dari Film ini pedebatan ini dapat kita saksikan pada saat Patrick berbincang dengan Remy Bressant (Ed Harris) salah satu polisi yang kemudian diketahui terlibat dalam hilangnya Amanda. Remy Bressant rupa-rupanya mengambil posisi yang secara diametral berbeda dari argumentasi Kantiannya Patrick. Bagi Remy suatu tindakan yang baik harus berpihak. Keberpihakan ini diukur dari hasil yang dibawanya, maka yang baik merupakan hasil akhir yang menentukan. Membunuh bisa saja dianggap benar, tergantung siapa korbannya. Cara-cara yang ditempuhpun dalam menegakan kebaikan dengan demikian dapat mensiasati sistem yang ada (misalnya Remy mengakui pernah menaruh bukti demi menangkap seorang penjahat yang tidak dapat dibuktikannya). Argumentasi Remy inilah yang menjadi titik pijak konspirasi yang dilakukan bersama atasannya (Kapten Polisi Jack Doyle, yang diperankan oleh Morgan Freeman) ketika menculik Amanda. Berbeda dengan Patrick yang mengacu pada prinsip moral absolute Kantian, Remy dan Kapt Jack mengacu pada prinsip yang seakan-akan terlihat lebih manusiawi: lakukan apapun yang dapat menghasilkan hasil yang terbaik demi terselamatkannya masa depan Amanda. Disinilah dapat kita temui betapa peliknya persoalan pilihan moral yang menyeruak.

Film Gone Baby Gone dalam amatan saya berhasil menyajikan dan mengemas problematika keseharian yang terjadi dalam satu bangunan plot cerita yang dinamis, sarat makna dan tidak mudah ditebak. Tak seperti kebanyakan film adapatasi buku yang mencoba memasukan semua unsur buku, tetapi kemudian malah kehilangan tema yang hendak disampaikannya. Film ini dengan apiknya menerjemahkan sebuah novel kedalam bentuk film dengan memberi penekanan pada satu tema sentral, yaitu dilemma moral tanpa terjebak kedalam kategori menggurui atau bahkan terlampau absrud. Potret realitas masyarakat urban yang menjadi latar belakang film inipun berhasil dikemas secara seperlunya agar penonton mendapatkan nuansa yang tepat untuk masuk dalam situasi dilemma moral yang ada.

Gone Baby Gone pada akhirnya dapat dikatakan sebagai film yang mengajukan sebuah studi kasus etika ditengah-tengah kompleksitas realita sosial. Sebuah cerita yang berkutub pada dua model pendekatan yang kerap kita temui dalam keseharian. Paradigma moralitas yang mencuat dalam film ini tidak diakhiri dengan sebuah konklusi. Alih-alih menyimpulkan, GBG memberikan keleluasaan penilaian pada penontonnya, dan membuat yang menilainya merenungkan kembali hakikat terdalam pandangan moralnya. Pada bagian akhir film ini, Patrick yang bertindak berdasarkan prinsip moral yang dianutnya juga mesti menanggung bagiannya, sama seperti setiap tokoh yang terlibat dalam kisah ini mesti menanggung bagian mereka masing-masing. Rupa-rupanya satu hal yang tidak dapat terelakan adalah setiap putusan dan pilihan moral ditengah-tengah dilemma yang menghampiri adalah konsekuensi-konsekuensi yang mesti ditanggung.


About this entry