My Father’s Notebook

My Father’s Notebook1:

Pemahaman yang Kini melalui yang Lalu

Bramantio

Dia bertanya lagi padaku dalam perjalanan pulang,“Mengapa kau tidak shalat?”Kuberi tahu dia bahwa aku akan menjelaskan masalah itu nanti. Aku banyak belajar dari buku-buku yang diberikan Dr. Bahlul. Saat ini aku tak ingin banyak bicara tentang Tuhan.

—Kader Abdollah, My Father’s Notebook

 

Prolog

Michael Riffaterre dalam Semiotics of Poetry2 menyatakan bahwa karya sastra menyatakan konsep-konsep dan hal-hal melalui ketidaklangsungan. Dengan kata lain, karya sastra menyatakan sesuatu dan mengandung arti lain. Ketidaklangsungan tersebut tidak serta-merta menjadi milik mutlak karya-karya yang kaya metafora. Novel My Father’s Notebook karya Kader Abdollah yang mengusung realisme, ternyata juga mengandung ketidaklangsungan-ketidaklangsungan melalui permainan tanda di dalamnya.

My Father’s Notebook mengisahkan kehidupan Ismail yang setelah melarikan diri dari Iran dan menetap di Belanda, berusaha memahami buku catatan ayahnya yang ditulis dengan huruf paku. Novel ini sejak awal telah menyajikan petunjuk-petunjuk tentang yang akan disampaikan dan cara pembacaannya. Pertama, kisah para pemuda Kahfi—yang diambil dari Alquran—yang tertidur di dalam gua dan ketika bangun mendapati bahwa mereka tertidur selama tiga ratus tahun, memperlihatkan adanya tafsir yang tidak hanya satu atas suatu peristiwa,
Nanti (ada orang yang akan) mengatakan, “Jumlah mereka tiga orang, yang keempat adalah anjingnya.
Dan yang lain mengatakan, “Jumlah mereka lima orang, yang keenam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap yang gaib. Dan yang lain mengatakan, “Jumlah mereka tujuh orang.” Tidak ada yang mengetahui bilangan mereka. Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya (hlm. 3—4).

 

Kedua, novel ini memiliki dua narator, Ada dua orang yang terlibat, saya dan Ismail. Saya adalah pembawa cerita yang serbatahu. Ismail adalah putra Aga Akbar, seorang penderita bisu-tuli.
Meskipun serbatahu, saya tidak mampu membaca catatan Aga Akbar. Jadi, saya akan membawakan cerita sampai kelahiran Ismail, kemudian sisanya biarlah dia yang melanjutkan. Tetapi, saya akan kembali di akhir cerita. Sebab, Ismail tidak bisa menguraikan bagian terakhir buku catatan ayahnya (hlm. 4—5).

Petunjuk kedua tersebut memberikan semacam bocoran kepada pembaca berkaitan dengan narasi novel ini yang menyerupai cerita berbingkai. Berdasarkan hal tersebut, pembacaan akan lebih mudah dilakukan karena telah ada pemahaman bahwa ada dua narasi di dalam novel ini, yaitu narasi My Father’s Notebook dan narasi “My Father’s Notebook”.3 Meskipun demikian, tidak seperti petunjuk pertama yang sifatnya lebih jelas—dalam hal menyatakan bahwa novel ini dapat dibaca melalui beragam perspektif dan memiliki acuan pada hal-hal di luar teks—petunjuk kedua justru menyisakan pertanyaan mengapa harus ada dua narator? Anehnya lagi, narator yang serbatahu pun ternyata memiliki keterbatasan sehingga harus menyerahkan sebagian narasi kepada Ismail. Pertanyaan tersebut akan mendapat jawaban ketika ketidaklangsungan di dalam My Father’s Notebook terurai.

Novel yang terdiri atas tiga bagian ini—“Gua”, “Tanah Baru”, dan “Gua”—mengusung banyak isu, di antaranya relasi ayah dan anak laki-lakinya, relasi Timur dan Barat, relasi tradisi dan modernitas, ketuhanan dan keberagamaan, keperempuanan, sejarah revolusi Iran, dan hal-hal lain di luar teks itu sendiri atau intertekstualitas, seperti mitos, dongeng, puisi-puisi Persia dan Belanda, ayat-ayat Alquran, dan Max Havelaar. Tulisan ini tidak akan membicarakan hal-hal tersebut secara spesifik, tetapi bertujuan mengurai ketidaklangsungan-ketidaklangsungan di dalamnya sehingga saya harapkan dapat memberi tawaran alternatif pembacaan atas My Father’s Notebook.

Oposisi Biner: Langkah Awal Mengurai Ketidaklangsungan

Seperti telah saya sampaikan, My Father’s Notebook mengusung isu-isu yang apabila diletakkan di dalam kerangkan berpikir tertentu akan memperlihatkan oposisi biner. Pada bagian inilah apa dan bagaimana oposisi biner tersebut akan diuraikan sekaligus memberi pijakan untuk analisis selanjutnya.

Oposisi biner yang tampak menonjol di dalam novel ini berkaitan dengan relasi tradisi dan modernitas. Hal tersebut salah satunya tampak pada peristiwa pembangunan jalur kereta api pada masa Reza Shah yang dihadapkan pada masalah “keharusan” untuk meruntuhkan mitos sumur keramat,
Kembali ke masa ketika jalur kereta api belum dibangun, pada hari-hari sebelum kereta api hadir, daerah di seputar sumur diselimuti misteri […]

Kereta api membuat semuanya berubah. Sumur itu biasanya sama dengan ketakterjangkauan, tetapi semuanya tak lagi benar. Sulit ditentukan apakah kereta api telah mengurangi nilai keramat tempat tersebut atau menjadikannya makin keramat (hlm. 82).

Bagian tersebut dan bagian-bagian lain yang mengisahkan pembangunan jalur kereta api yang melintasi sumur keramat memperlihatkan adanya pertentangan antara tradisi dan modernitas. Puncaknya adalah ketika Reza Shah benar-benar tidak lagi peduli pada segala macam bentuk tradisi yang dianggapnya takhayul.

Situasi menjadi tak terkendali. Seperti yang sudah kita saksikan, Reza Shah bertekad memodernisasi negara. Sesudah melarang pemakaian cadar di tempat-tempat umum, antek-anteknya mulai menangkapi wanita-wanita berjilbab di jalan-jalan Teheran dan memenjarakan mereka.
[…]
Reza Shah sama sekali tidak ragu. Sudah saatnya menyingkirkan para imam dengan semua omong kosong takhayulnya, dengan semua lelaki suci yang asyik membaca buku di dalam sumur.
“Singkirkan sumur itu!” perintahnya. “Tutup sumurnya! Timbun, dan pulangkan para peziarah!” (hlm. 86).

Bagian-bagian tersebut secara jelas memperlihatkan bahwa pada akhirnya tradisi kalah oleh modernitas; yang bersifat tradisional adalah liyan dan harus disingkirkan. Hanya saja, ketika dibaca lebih jeli, masih tampak adanya ketegangan atau tarik-ulur antara tradisi dan modernitas. Sumur keramat tidak begitu saja kehilangan pamornya ketika telah dibangun jalur rel kereta api,
Zaman sumur keramat pun telah berlalu. Sang Mahdi telah menghilang. Sumur itu kosong. Merpati liar membuat sarang di tepinya. Ular beracun bergelung di balik batu, menunggu dengan sabar sampai burung-burung merpati itu pergi, lalu melata ke dalam sumur dan memakan telur mereka. Merpati pulang, melihat sarangnya yang kosong, dan menangis (hlm. 294).

Bagian tersebut mengingatkan saya pada ayat di dalam Alkitab—semoga saya tidak keliru—yang intinya “Tulus seperti merpati, cerdik seperti ular.” Merpati dan ular di bagian yang mengisahkan sumur tersebut tentu tidak sebatas ular yang memakan telur merpati. Hal tersebut adalah sebuah siklus yang meskipun tampak kejam, tetap perlu ada untuk memelihara keseimbangan; yang saya tekankan di sini adalah keseimbangan. Sejalan dengan itu, Reza Shah yang memangsa rakyatnya sendiri, bagai ular memangsa telur merpati, adalah sebuah ketidakseimbangan. Akibatnya, terjadi perlawanan dari rakyatnya, terjadi tarik-ulur antara tradisi dan modernitas.

Hal senada juga tampak pada operasional gender di dalam masyarakat setempat. Pada suatu ketika Ismail dipaksa menari di depan umum dengan memakai wig dan rok, dan hal tersebut membawa dampak yang sangat menyakitkan bagi kehidupannya dan ayahnya,
Hanya Tuhan dan kepala sekolah yang tahu bahwa kostum dan wig itu bukanlah bagian dari kesepakatan semula. Yang harus kulakukan hanyalah menari seperti seorang pelajar laki-laki dari Paris. Hal itu sendiri sudah menjadi langkah besar, sebuah kemajuan besar, di kota yang masih sangat konservatif ini.

[…]
Rokku yang pendek tersibak ke atas memperlihatkan celana dalam katunku yang berwarna putih. Penonton pun terbahak, bersiut dan mengejek. Walikota menepuk lututnya kegirangan.
[…]
Hari itu telah merubah [sic!] kehidupanku dan ayahku secara drastis. Selama bertahun-tahun setelahnya, anak-anak di desaku tak pernah memberi kami ketenangan barang sedikit pun. Mereka bahkan mengejarku dalam mimpiku […] (hlm. 179—182).

Ismail dan ayahnya harus menanggung pahitnya kehidupan karena ulah seorang kepala sekolah yang berkuasa. Ismail dan ayahnya menjadi liyan berkaitan dengan “keterjerumusan” mereka ke dalam keperempuanan. Hal tersebut—pembedaan peran yang tidak dapat ditawar lagi antara laki-laki dan perempuan—pada dasarnya bersifat memperkuat bagian sebelumnya tentang profesi Akbar sebagai perajin permadani, “Ketahuilah, Nak, menenun karpet sebenarnya bukanlah pekerjaan yang cocok untuk kita. Bahkan, para wanita di rumah kita pun tidak menenun. Ini adalah kegiatan yang dilakukan penduduk biasa, para petani yang tak punya pekerjaan lain pada malam-malam musim dingin yang panjang” (hlm. 98). Lebih lanjut, ketika Akbar memutuskan membawa keluarganya pindah ke kota, masalah profesi tersebut juga kembali mencuat, dan kali ini yang mempermasalahkannya adalah Tina, istri Akbar, “‘Semoga Allah melindungi kita,’ kata Tina. ‘Aga Akbar, sang pesulap, telah menjadi seorang penjahit wanita!’ Dia masuk ke gudang dan menguncu pintu’” (hlm. 149). Dengan begitu, hal-hal yang berkaitan dengan keperempuanan dianggap sebagai liyan, baik oleh masyarakat umum maupun oleh perempuan sendiri.

Berkaitan dengan kedudukan perempuan di dalam masyarakat, novel ini lagi-lagi menghadirkan oposisi biner. Pada bagian-bagian awal diperlihatkan kedudukan perempuan yang seolah-olah tidak memiliki pilihan; mereka sepenuhnya menjadi objek dan nilainya tergantung pada hal-hal yang bersifat materi dan fisik, “Para wanita langsung bersiap dan mulai bekerja. Namun, sebelum lama, antusiasme mereka melayu. Tak satu pun calon memenuhi syarat yang diajukan keluarga. Seorang wanita punya ayah pengemis, yang lain punya kakak pencuri, yang ketiga dadanya rata, yang keempat begitu pemalu hingga tak berani menemui mereka” (hlm 63). Meskipun demikian, kedudukan perempuan yang seperti itu kemudian diposisikan dengan perempuan-perempuan tangguh dan memiliki keberanian dalam memilih dan menetukan nasibnya sendiri. Hal tersebut tampak pada sosok Jamilah dan Lonceng Emas. Hanya saja, tidak berhenti di situ, oposisi biner kembali terjadi antara Jamilah dan Lonceng Emas dengan Tina. Pada bagian tersebut kembali tampak pertentangan antara tradisi (diwakili Tina) dan modernitas (diwakili Jamilah dan Lonceng Emas).

Ada dua peristiwa lain yang turut memperkokoh keliyanan sekaligus kekuatan perempuan di dalam masyarakat patriarkhi, baik di Timur yang diwakili Iran, dan Barat yang diwakili Belanda,
Sayangnya, tidak ada wanita kuat, sehat, dan cantik di Gunung Saffron yang mau menikah dengan Akbar.
Jadi, untuk mendapatkan kehangatan dia beralih ke wanita penghibur, dan mereka menerimanya dengan senang hati (hlm 58).

Yang kusuka dari wawancara itu bukanlah diskusi tentang peran ibu itu, melainkan tentang masalah psikologinya. Di sepanjang wawancara yang berlangsung lama tersebut, pangeran [William-Alexander] nyaris tak menyinggung soal ayahnya. Dia tak pernah bisa menyebut nama lengkap ayahnya. Seakan-akan ayahnya bukanlah anggota keluarga kerajaan, seakan-akan dia adalah hantu, sekadar bayangan (hlm. 224).

Kutipan pertama memperlihatkan bahwa—terlepas dari anggapan negatif yang melekat pada mereka—para perempuan penghibur menyediakan diri mereka untuk memenuhi kebutuhan Akbar—yang tidak bisa dipenuhi oleh budaya (patriarkhi) dengan berbagai macam aturan mainnya tentang calon istri Akbar. Sedangkan kutipan kedua memperlihatkan peran ibu yang lebih dominan dalam tumbuh-kembang anak sehingga peran ayah pun seolah-olah tidak lagi penting di mata sang anak.

Yang Lalu dan Yang Kini dalam Bingkai Pascamodernisme

Pada bagian sebelumnya telah saya uraikan oposisi-oposisi biner yang terdapat di dalam My Father’s Notebook. Melalui oposisi-oposisi tersebut tampak adanya jarak antara tradisi dan modernitas. Semua peristiwa seolah-olah tampak mengarah pada modernisme. Meskipun demikian, keseluruhan novel ini ternyata bermuara pada pascamodernisme.

Era pascamodernisme ditandai dengan mengaburnya “batas-batas” yang pada era modernisme begitu mengakar di dalam pola pikir dan kehidupan manusia. Bentuk-bentuk grand narrative dipertanyakan kembali, empirisme dan rasionalisme tidak lagi menjadi standar kebenaran, oposisi biner dibongkar, pluralitas dan heterogenitas dirayakan, segala yang telah dilupakan diingat kembali, segala yang telah dipinggirkan dirangkul kembali. Pascamodernisme adalah gerakan pemikiran yang menggantikan sekaligus memperluas modernisme melalui penolakan sekaligus peminjaman pemikiran-pemikiran dasar modernisme. Misalnya, modernisme menempatkan rasionalitas dan obejektivitas sebagai sesuatu yang sangat penting dan ideal, sedangkan pascamodernisme mempertanyakan kembali hal-hal yang dianggap ideal tersebut.4

Bagian pembuka novel ini, yaitu tentang kisah para pemuda Kahfi telah memperlihatkan ketidakstabilan makna. Dengan kata lain, bagian tersebut adalah sebuah bentuk pendobrakan atas falogosentrisme5 sehingga sebuah peristiwa tidak lagi sepenuhnya dipahami sebagai peristiwa itu sendiri, tetapi juga siapa yang terlibat, melalui sudat pandang apa dan siapa peristiwa itu dilihat, dan sebagainya. Hal tersebut diperkuat dengan adanya dua narator di dalam novel ini, dan narator yang serbatahu pun ternyata memiliki keterbatasan. Narator serbatahu di dalam novel ini berbeda dengan narator serbatahu di novel-novel lain; hal ini barkaitan dengan tataran narasi di dalam novel ini. Tataran pertama dan terjauh adalah tataran narasi buku catatan Akbar—dapatlah di sini saya menyebutnya meta-metateks. Meta-metateks ini kemudian dibaca oleh Ismail sebagai narator kedua di dalam narasi tataran kedua—metateks—dan sekaligus menghubungkan meta-metateks dan teks. Dan terakhir adalah narasi tataran ketiga dan paling dekat dengan pembaca—teks itu sendiri. Narator pada narasi tataran ketiga sebenarnya tidak menarasikan keseluruhan cerita dari sudut pandangnya, tetapi berpijak pada sudut pandang Ismail yang berpijak pada sudut pandang Akbar, sehingga narator serbatahu di dalam novel ini terbatas pengetahuannya. Karena itu pula bagian yang dinarasikan oleh narator serbatahu ditandai dengan bab berjudul “Gua”—yang memunculkan kesan gelap dan terbatas—di bagian awal dan akhir novel, sedangkan bagian yang dinarasikan Ismail ditandai dengan bab berjudul “Tanah Baru”—yang memunculkan kesan luas dan terang. Lebih lanjut, yang tampak sebagai ketidakserbatahuan narator serbatahu tersebut dapat dibaca sebagai sebuah pendobrakan atas kekuasaan absolut—apa pun makna kekuasaan absolut di sini. Dengan kata lain, pendobrakan atas grand narrative.

Bentuk narasi novel ini yang terdiri atas teks dan metateks juga merupakan representasi pascamodernisme. Teks (My Father’s Notebook) yang berada di kekinian bertemu dengan metateks (“My Father’s Notebook”) yang berada di kelaluan. Masuknya yang lalu ke yang kini melalui penulisan ulang catatan Akbar yang dilakukan Ismail adalah sebuah bentuk pengaburan batas-batas. Segala bentuk oposisi biner di dalam novel ini pun pada dasarnya tidak lagi berada pada tataran yang sama ketika ia berlaku pada masa lalu karena semuanya dilihat melalui perspektif kekinian,
Segala sesuatu di buku ayahku tua: gunung-gunungnya, sumurnya, guanya, relief huruf-huruf kunonya, bahkan rel kereta apinya. Itulah sebabnya aku tak berani menuliskan kisahnya di atas kertas. Tak bisa kubayangkan aku akan menulis sebuah novel di tanah yang baru ini.
Kulihat tanggul dan laut di depanku. Setidaknya laut itu sudah tua, meskipun jujur saja, laut ini sudah tak lagi seperti laut, tetapi hanya sebagian kecil dari laut yang sudah dikeringkan oleh orang-orang Belanda. Seperti aku, sebuah noktah kecil budaya Persia kuno, dikelilingi bendungan orang Belanda.
Mungkin mantan laut ini bisa menolongku.Kota tempatku tinggal ini masih baru, tetapi sisa-sisa peninggalan penghuni lama tersebar di seputarku. Itulah tepatnya yang kubutuhkan (hlm. 133).

Hal tersebut adalah semacam alat yang digunakan Ismail untuk menemukan kembali pijakan setelah sekian waktu terombang-ambing sejak pelariannya dari Iran. Dengan membaca, menerjemahkan, dan menulis kembali catatatan ayahnya, Ismail dengan sendirinya merunut kembali ingatan tentang kehidupannya di Iran hingga ia meninggalkan negerinya menuju Jerman lalu Belanda. Melalui hal itu, Ismail mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang latar belakang yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Ia menyatakan, “Ketika orang-orang berpengaruh itu sudah tiada, semuanya malah bertambah buruk. Mereka kembali dalam hidup kita dengan jauh lebih kuat. Mereka menghantui kita dalam tidur. Bahkan dari kuburannya, ayah mengirimkan bayangannya ke komputerku” (hlm. 227). Relasi Ismail dan ayahnya inilah yang memiliki pengaruh besar bagi Ismail dalam memahami identitasnya. Namun kali ini, ketika ayah berbalik untuk menyalamiku, aku tak ada di sana.

Aku berdiri di samping pilar di tempat wudu, melihat orang-orang shalat.
“Mengapa kau tidak shalat?” isyaratnya. Ini bukan pertama kalinya aku mangkir dari shalat berjamaah. Aku sudah lama berhenti shalat. Semua berawal saat aku bertemu Dr. Pur Bahlul. Dia juga tidak shalat (hlm. 213).

Ismail menegaskan kepada ayahnya, “Ayah benar. Dulu aku bersujud. Kemudian aku membaca buku-buku ini dan menemukan ilmu lain […] (hlm. 215). Penegasan Ismail tersebut semakin jelas ketika ia memutuskan melanjutkan pendidikannya ke Universitas Teheran. Ia berkata kepada ayahnya, “Buku itu ibarat cahaya, lho” (hlm. 219). Ilmu pengetahuan yang dimiliki Ismail membuatnya meninggalkan agama yang selama ini diyakini dan diwariskan turun-temurun. Hal tersebut memang tampak ekstrem jika dipahami secara sempit. Sebaliknya, jika dipahami melalui perspektif yang lebih luas, hal tersebut mengandung pemikiran bahwa agama pada dasarnya adalah sesuatu yang sederhana. Agama menjadi kehilangan maknanya ketika penganutnya justru merasa menderita oleh keberagamaannya. Segala sesuatu yang pada awalnya bersifat dogmatik pun pada waktunya akan dipahami sebagai sesuatu yang senantiasa membuka ruang untuk dipertanyakan kembali. Dengan demikian, di dalam novel ini, agama sebagai grand narrative dipertanyakan bukan dalam rangka mengabaikan atau bahkan meniadakannya, tetapi justru untuk memperoleh kesejatian spiritualitas.

Yang terjadi pada Ismail pada dasarnya memiliki persamaan dengan dongen tentang Mahdi yang membaca buku dengan penerangan lampu minyak di dalam sumur. Mahdi dikisahkan pernah meninggalkan sumurnya pada satu kesempatan, tetapi pada akhirnya ia kembali ke dalam sumur untuk membaca diterangi lampu minyaknya. Hal yang sama juga terjadi pada Ismail. Pada awalnya ia membaca buku-buku, lalu pergi meninggalkan keluarganya, hingga melarikan diri ke luar Iran, dan menetap di Belanda. Ketika berada di Belanda, Ismail semakin memahami identitasnya sebagai orang Persia melalui pertemuannya dengan laki-laki tua bernama Louis. Pada satu kesempatan Ismail membantu Louis melakukan perjalanan menuju laut,

“Laut!” tiba-tiba dia berteriak. “Apa kau melihatnya!”

Aku tidak dapat melihat laut di kegelapan malam. Laut itu masihlah milik Louis, bukan milikku.
[…]
Laut adalah hal baru untukku, tidak seperti gurun pasir. Louis merasa nyaman di atas pasir yang basah, aku sangat nyaman di atas pasir yang kering. Laut, bukit-bukit pasir, ilalang dan hujan adalah miliknya, tetapi kegelapan malam adalah milikku (hlm. 256).

Di satu sisi, bagian tersebut dapat dibaca bahwa sebagai seorang imigran yang telah tinggal selama beberapa tahun di Belanda, Ismail belum sepenuhnya merasa memiliki Belanda, bahkan mungkin tidak akan pernah—tampak pada kalimat “kegelapan malam adalah milikku.” Tetapi, di sisi lain, hal tersebut justru menjadikan Ismail semakin Ismail dalam keberjarakannya dengan tanah Persia. Pada akhirnya, Ismail pun menemukan “jalan pulang” melalui buku catatan ayahnya. Melalui paralelisme tersebut, oposisi biner antara tradisi dan modernitas di sini dikompromikan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan adalah hal yang sangat penting, cahaya kehidupan. Ilmu pengetahuan di sini tidak sebatas pada segala bentuk pelajaran dan bacaan yang ada di institusi-institusi pendidikan, tetapi terlebih lagi berkaitan dengan kemanusiaan itu sendiri.

Epilog

My Father’s Notebook adalah sebuah novel yang menyajikan oposisi-oposisi. Hal tersebut tampak pada narasi novel ini yang terdiri atas teks dan metateks. Kedua tataran narasi tersebut memperlihatkan adanya dua masa yang berbeda, yaitu masa lalu dan masa kini. Perbedaan yang demikian ternyata tidak sepenuhnya berarti keterpisahan. Masa kini Ismail tentu tidak bisa dipisahkan dari masa lalunya. Dengan kata lain, masa lalu Ismail, termasuk relasinya dengan ayahnya dan kebudayaan Persia, telah membentuk identitas Ismail dan menjadikannya seorang imigran di Belanda. Oposisi-oposisi tersebut pada dasarnya bukanlah penegasan atas perbedaan yang tidak terdamaikan, tetapi memperlihatkan bahwa hal-hal yang berbeda pun ternyata saling melengkapi. Hal ini sejalan dengan semangat pascamodernisme. Di dalam wacana pascamodernisme, realitas dilihat sebagai teks-teks yang berkait menjadi intertekstualitas. Segala yang telah diyakini selama ini dimasukkan sebagai teks yang dapat dibongkar dan diberi interpretasi kembali; melihat realitas dengan cara ini menghindarkan diri untuk jatuh pada fanatisme.6

Relasi antara Timur dan Barat di dalam novel ini tidak lagi berada di dalam kerangka yang menjadikan salah satu pihak lebih superior. Ismail yang berdarah Persia justru semakin menemukan dan memahami kepersiaannya ketika ia jauh dari tanah kelahirannya, yaitu ketika ia berada di Belanda.

Muara novel ini pun memberi penegasan atas semangat pascamodernisme, “Ismail selalu bercerita padanya tentang hal-hal yang besar—langit, bintang-bintang, bumi, bulan—tetapi Lonceng Emas selalu bicara padanya tentang hal-hal kecil” (hlm 389). Dengan demikian, segala yang selama ini dipahami sebagai pertentangan, menemukan tempatnya dalam kedamaian My Father’s Notebook.

Catatan:
1 Kader Abdollah, My Father’s Notebook, terj. Ah May (Jakarta: Penerbit Hikmah).
2 Michael Riffaterre, Semiotics of Poetry (Bloomington: Indiana University Press, 1978).
3 Di dalam tulisannya tentang The Quest of Holy Grail, Todorov menyatakan bahwa teks tersebut memiliki dua tataran, yaitu teks yang berisi petualangan yang sesungguhnya dan teks yang berisi deskripsi petualangan tersebut. Hal senada juga muncul di dalam genre cerita detektif, teks yang berisi investigasi dan teks yang berisi peristiwa kejahatan; dapat dilihat pada Tzvetan Todorov, The Poetics of Prose (New York: Cornell University Press, 1977).

4 “Postmodernism,” http://en.wikipedia.org/wiki/Postmodernism.

5 Falogosentrisme adalah gabungan dari falosentrisme dan logosentrisme, suatu istilah yang diajukan oleh Jacques Derrida dalam gagasan-gagasannya yang kemudian dikenal dengan sebutan dekonstruksi. Logosentrisme adalah suatu ideologi yang memperioritaskan kestabilan makna. Dalam sejarah pemikiran Barat, logosentrisme didukung oleh keyakinan pada rasionalitas manusia (Descartes) dan oleh penekanan pada bahasa lisan daripada bahasa tulisan (Saussure). Keinginan untuk mengontrol makna dan stabilitas itu, menurut Derrida berbarengan dengan orientasi yang falosentris, yang mengedepankan perspektif laki-laki atas perempuan. Jadi, falogosentrisme adalah suatu pola pikiran dan bahasa dalam sistem patriarkhi; Melani Budianta, “Pendekatan Feminis terhadap Wacana,” Analisis Wacana: dari Linguistik sampai Dekonstruksi (Yogyakarta: Penerbit Kanal, 2002), hlm. 208.

6 Gadis Arivia, Feminisme: Sebuah Kata Hati (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006), hlm. 403.