Alif-Lam-Mim

Alif-Lam-Mim

Bramantio


Ini adalah tulisan tentang permainan yang dilakukan oleh tiga huruf dalam aksara hijaiyah: alif, lam, dan mim. Pada awalnya saya pikir yang berikut ini tidak perlu dibicarakan sebagai pura-puranya pembuka di dalam tulisan ini, tetapi lalu saya kembali berpikir dan memutuskan untuk menulisnya di sini; ya, sedikit tentang latar belakang dan sepetak ruang yang membingkai alif, lam, dan mim, yaitu aksara hijaiyah, atau bisalah disebut aksara Arab. Berbeda dengan setiap huruf dalam aksara latin yang penuh pada dirinya sendiri, aksara hijaiyah baru bisa memenuhi kodratnya dalam membentuk kata ketika didampingi oleh salah satu tanda diakritik: fathah untuk menghasilkan bunyi “a”, kasrah untuk “i”, dhomah untuk “u”, dan sukun untuk mematikan huruf; serupa dengan aturan pada aksara hanacaraka Jawa dan aksara dewanagari Sansekerta. Berkaitan dengan hal tersebut, setiap huruf dalam aksara hijaiyah memiliki empat kemungkinan bunyi utama. Dan ternyata, tiga huruf alif, lam, dan mim tidak sekadar memiliki kemungkinan-kemungkinan tersebut, tetapi memiliki kaitan yang saya pikir luar biasa.

Setiap orang bisa memilih caranya masing-masing. Tidak ada cara baku. Saya pun akan menulis seperti berikut ini untuk sekadar mempermudah alur berpikir dalam membicarakan alif, lam, dan mim.

Kata pertama sebagai hasil permainan alif, lam, dan mim yang muncul di dalam pikiran saya adalah “alam” (a-la-m). Jangan tanya mengapa “alam”, bukan yang lain. Sederhana saja, saya pikir “alam” adalah yang terbesar di antara sejumlah variasi kata yang dapat dibentuk alif, lam, dan mim. Saya memahami alam sebagai sintesis ruang dan waktu, ya, sintesis ruang dan waktu, yang bisa menampung apa pun, kecuali Tuhan, tentu saja. Ah, sebenarnya pembicaraan tentang Tuhan yang tidak muat oleh ruang dan waktu bisa dibicarakan lain waktu, tetapi saya tidak tahan untuk tidak menulis tentang hal tersebut di sini. Jadi, mari sedikit keluar jalur permainan alif, lam, dan mim; singkat saja kok. Begini: di dalam agama yang saya anut, yang pada akhirnya menjadi keyakinan saya, Tuhan dipahami sebagai entitas yang tidak ada duanya. Tidak ada duanya di sini mengacu pada sejumlah gagasan yang salah satunya adalah Tuhan sebagai yang mahabesar; “maha” dalam pengertian “paling” di antara segalanya. Karena Tuhan mahabesar, secara logika tidak ada yang melebihinya. Dan mengingat ruang dan waktu adalah ciptaan-Nya, yang lagi-lagi secara logika tidak mungkin lebih besar daripada-Nya, Tuhan pun tidak muat di dalam ruang dan waktu. Jadi, saya pikir, sekali lagi, Tuhan tidak berada di dalam “alam”. Ok, kembali ke pembicaraan tentang alam. Sebagai sebuah sintesis ruang dan waktu yang menampung apa pun, alam tentu saja tidak sekadar dipahami sebagai sesuatu yang kasatmata. Yang tidak terlihat, terendus, terdengar, terecap, dan teraba indera pun adalah alam. Dengan kata lain, yang ada tidak hanya alam ini, tetapi juga alam itu, tidak hanya di sini, tetapi juga di situ, di sana, dan bahkan nun jauh di sana yang tidak terjangkau logika. Lahirnya pemahaman yang demikian tentu saja tidak serta-merta ada dalam sekejap, tetapi terbentuk oleh proses yang berlangsung sepanjang hidup manusia, melalui sejumlah pengetahuan, yang kemudian bermuara pada kata kedua yang dibentuk oleh alif, lam, dan mim.

Kata kedua tersebut adalah “ilmu” (i-l-mu). Ilmu adalah muara pengetahuan. Kok bisa muara? Memang apa bedanya? Mungkin ada yang bertanya seperti itu. Jawaban atas pertanyaan hipotetikal tersebut tidak akan saya rumuskan berdasakan etimologi kata “ilmu”, tetapi berdasarkan serpihan-serpihan tentang yang pernah saya baca di sejumlah buku filsafat ilmu yang masih betah bertahan di dalam ingatan saya. Begini: pengetahuan dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang datang dan bisa “ditangkap” oleh indera, sekali lagi indera, yang tentu saja tidak terbatas pada panca indera, melalui pengalaman. Jadi, apa pun bisa menjadi pengetahuan. Berbeda dengan pengetahuan yang tampak bebas lepas, ilmu memiliki sejumlah ciri didasarkan pada jawaban atas ketiga pertanyaan pokok, yaitu tentang yang ingin kita ketahui, cara kita mendapat pengetahuan tersebut, dan nilai gunanya bagi kita, yang secara berturut-turut dapat juga dinyatakan sebagai ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Secara sederhana, dasar ontologi ilmu adalah fakta empiris, yaitu fakta yang dapat dialami langsung oleh manusia. Ruang lingkup kemampuan indera manusia, termasuk peralatan yang dikembangkan sebagai alat bantu, membentuk yang dikenal sebagai dunia empiris. Selanjutnya, dasar epistemologi ilmu berkaitan dengan cara atau alur berpikir khusus, yang tentu saja berhubungan dengan metode ilmiah. Dan terakhir, dasar aksiologi ilmu adalah bebas nilai. Maksudnya, ilmu dapat bernilai positif sekaligus negatif tergantung individu pemakainya. Dengan begitu, jelaslah yang saya maksud pengetahuan bermuara pada ilmu. Dalam kaitannya dengan alam, ilmu adalah sarana untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang alam. Tidak heran jika ada yang berwasiat untuk mencari ilmu sejak dalam hangat ayunan buaian ayah-bunda hingga menjelang dingin liang kubur. Jadi, ilmu penting untuk dimiliki. Sebagai sesuatu yang dimiliki, tentu saja ada subjek pemiliknya, yaitu kata ketiga yang dibentuk oleh alif, lam, dan mim.

Kata ketiga di dalam permainan tiga huruf tersebut adalah “alim” (a-li-m). Saya yakin, banyak yang memahami “alim” sebatas pada orang yang memiliki kedekatan dengan hal-hal religius dan tidak neko-neko. “Alim” sebenarnya memiliki jangkauan yang lebih luas, yaitu orang berilmu; jangan pula memahami “berilmu” di sini sebatas pada hal-hal gaib. Dengan begitu, sebenarnya juga tidak salah jika terjadi reduksi makna “alim” seperti yang telah saya sampaikan, karena hal tersebut memiliki alasan: orang menjadi tidak neko-neko karena ia berilmu, karena ia memiliki sejumlah pengetahuan tertentu yang membuatnya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang diri dan apa pun di sekitarnya.

Kata keempat, sekaligus terakhir yang sejauh ini bisa saya temukan, di dalam permainan alif, lam, dan mim adalah “ulama” (u-la-ma). Dan saya pikir, saya tidak perlu menjelaskan kata ini. Kita pun tahu bahwa kata ketiga dan keempat sering kali dipakai bersama dalam kesatuan “alim ulama,” yang menunjukkan kesatuan penguasaan ilmu duniawi dan akhiratiah.

Untuk mengakhiri tulisan tentang permainan alif, lam, dan mim ini, bisa saya katakan bahwa permainan tiga huruf tersebut bukan sembarang permainan. Mereka bermain di dalam sebuah lapangan, atau katakanlah medan makna, khusus yang melahirkan sejumlah kata yang saling berkelindan dengan cara yang tidak sembarangan pula. Alam, ilmu, alim, dan ulama, diakui atau tidak, menjadi sebuah rangkaian penting dalam riwayat manusia.



About this entry