Ikan

Ikan

Bramantio


Ikan jantan berenang-renang di dalam air sepi lukisan cat minyak monokrom biru pada kanvas berpigura seluas tiga kali tiga meter. Hampir tiga tahun sejak tangan kanan tuhannya menciptanya tak sekali pun ia berbagi rasa dengan apa-apa siapa-siapa. “Mungkinkah tuhan menciptaku hanya untuk memuaskan hasrat seninya? Mungkinkah tuhan menciptaku hanya untuk menjadi objek sepi tontonan entah berapa banyak mata silih-berganti?”

Suatu hari di awal Februari ia melihat laki-laki pemilik rumah bercinta habis-habisan dengan perempuan bukan pemilik rumah di atas sofa di bawah lukisan. “Awas kakimu! Jangan sampai menjatuhkan lukisan!” kata laki-laki pemilik rumah di antara sengal nafasnya. Ia melihat keduanya berkilau basah oleh keringat. “Mereka menjadi seperti aku.” Ia ingin bercinta seperti itu. “Tapi, dengan siapa?” Ia pun hanya bisa melihat sambil mengingat setiap gerakan dan posisi, membayangkan kelak ia bercinta seperti itu.

Suatu hari di awal Mei ia melihat hal terindah yang bahkan tak pernah ia bayangkan. Ikan betina merah menyala menjadi penghuni baru rumah itu. Sebuah jambangan beling berbentuk bola bergaris tengah satu meter yang menjadi rumah-air ikan betina terletak di sisi yang berseberangan dengan lukisan sehingga ia bisa memandangi ikan betina kapan pun selama apa pun. Hanya saja, ia merasa ikan betina tak pernah sedikit pun memberi perhatian kepadanya. Hal itu benar-benar membuatnya pusing sendiri. “Bagaimana ini?” Ia terus-menerus memikirkan cara untuk mendapatkan perhatian ikan betina. Ia berenang naik-turun ke kiri-kanan berputar-putar ke setiap sisi sudut lukisan, tapi selalu nihil. Ia juga mencoba mendobrak keluar lukisan, tapi selalu gagal. “Mungkinkah karena aku tak hidup di tempat yang sama dengannya? Mungkinkah cinta hanya bisa menyentuh, tapi tak bisa menyatukan perbedaan?” Ia bertanya kepada tanaman-tanaman-air biru, mereka diam. Ia bertanya kepada karang-karang-air biru, mereka diam. Ia bertanya kepada aliran pita-pita-air biru. Ia bertanya kepada gelembung-gelembung-air biru, mereka diam. Semua diam. Ia pun diam.

Suatu hari di awal Agustus ia melihat laki-laki pemilik rumah bertengkar habis-habisan dengan perempuan pemilik rumah. “Jadi, sudah selama itu?! … Kaubawa perempuan itu ke rumah ini?! … Kalian bercinta di rumah ini?! … Di sofa itu juga?! … Ooo, pantas sofa itu tak lagi nyaman kududuki. Ternyata….” Perempuan pemilik rumah dengan kalap melempar asbak beling yang disambarnya dari meja tak jauh dari tempatnya berdiri. Asbak melayang cepat menuju laki-laki pemilik rumah. Laki-laki pemilik rumah merunduk rendah. Asbak tak mengenai sasaran. Asbak terus melayang menyeberangi ruangan, menghantam sudut kanan bawah lukisan, pecah berantakan, jatuh berderai ke lantai marmer. Tak puas dengan asbak, perempuan pemilik rumah meraih vas-bunga beling di meja yang sama lalu melemparnya ke laki-laki pemilik rumah. Vas bernasib sama seperti asbak, menghantam sudut kanan bawah lukisan, pecah berantakan, jatuh berderai ke lantai marmer. Sebelum perempuan pemilik rumah melempar benda-benda lain, laki-laki pemilik rumah telah meninggalkan rumah.

Ia melihat beling-beling asbak dan beling-beling vas pada akhirnya bisa menyatu di antara mahkota-mahkota mawar segar meskipun dalam keadaan tak utuh lagi. Ia masih ingat betapa keduanya selalu bercakap-cakap. “Seandainya saja aku menjadi dirimu,” kata asbak dengan suara parau suatu kali. “Mengapa kau berkata seperti itu?” tanya vas bunga dengan suara bening. “Karena kau adalah sarang keindahan, sedangkan aku….” keluh asbak. “Tak perlu kau merisaukan hal itu. Bukankah setiap kita memiliki tugas masing-masing? Janganlah kau menganggap rendah tugasmu menampung segala yang tak lagi diinginkan. Kau mengatakan aku sarang keindahan. Tidakkah kau menyadari dirimu juga sarang keindahan?” kata vas. “Apa maksudmu?” tanya asbak. “Setiap puntung rokok yang apinya telah sekarat adalah keindahan. Setiap abu yang gugur lalu terbawa angin sepoi adalah keindahan. Setiap kematian jiwa-jiwa adalah keindahan,” kata vas. “Bagaimana bisa?” tanya asbak. “Kematian adalah kemerdekaan dan kemerdekaan adalah yang terindah,” kata vas. Asbak memandang vas. Vas memandang asbak. “Tahukah kau? Sejak awal pertemuan kita, aku telah memendam rasa kepadamu,” kata asbak. “Ya, aku tahu. Begitu pula aku kepadamu,” kata vas. “Kuingin memelukmu,” kata asbak. “Kuingin kau memelukku,” kata vas. Tapi, mereka menyadari hal itu tidak mungkin terjadi. “Jika kelak aku terlahir kembali, aku tak mau menjadi asbak. Aku ingin menjadi angin agar aku bisa memelukmu dan menebarkan aroma keindahan yang bersarang di dalam dirimu,” kata asbak. “Amin,” kata vas. Asbak dan vas tak perlu menanti kelahiran kembali karena keduanya kini telah menyatu. Hal itu membuatnya iri. “Aku bisa gila, aku bisa gila, aku bisa gila.” Ia berputar-putar terus-menerus tak tentu arah sampai suatu ketika matanya menangkap selarik goresan pada sudut kanan bawah. Ia menghampiri goresan itu. Setelah mengamatinya baik-baik, ia mulai menggigiti goresan itu hingga selarik goresan menjelma sebait robekan menjelma puisi kemerdekaan. Air-minyak mengalir keluar melalui lubang itu. “Aku harus keluar!” Ia pun menerobos keluar bersama air-minyak, “Aku datang,” merambat di sepanjang dinding, “Aku datang,” berenang tersendat-sendat di dunia bermatra tunggal, “Aku datang,” menyeberangi ruangan, “Aku datang,” mencapai rumah-air ikan betina.

Keesokan harinya anak bungsu pemilik rumah menangis habis-habisan karena tak mendapati ikan betina di dalam rumah-airnya. Air jambangan telah berubah warna menjadi biru. Anak bungsu pemilik rumah tak tahu kemarin telah terjadi peristiwa yang tak biasa. Setelah berusaha meyakinkan ikan betina, ikan betina pun mau menerimanya, dan untuk pertama kalinya air dan minyak menyatu sempurna dalam tarian sepasang ikan dari dua dunia. Ia pun memboyong ikan betina ke dalam lukisan.

Hari-hari berikutnya seisi rumah dibuat heran dengan lukisan itu. “Aneh,” kata cermin bundar di dinding. “Kok bisa ya?” kata jam antik berdiri yang di salah satu sudut ruangan. “Entahlah,” kata guci besar di sudut lain ruangan. “Rame! Rame! Rame!” kata boneka-boneka-bocah porselen di dalam almari kaca. “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan… aaah… pusiiing!” kata lampu kristal yang menggantung di tengah-tengah ruangan. “Aku pun tak akan sanggup menghabiskannya,” kata kucing peliharaan pemilik rumah. Ikannya tak lagi hanya satu, tapi dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, dan terus bertambah menyesaki lukisan. Warna monokrom biru pun telah berubah menjadi ungu.

Suatu hari di akhir Desember. Tujuh jam selepas tengah malam. Matahari terbit lebih awal lebih panas daripada bulan-bulan sebelumnya. Lukisan monokrom ungu tak mampu lagi menampung ikan-ikan yang tak pernah berhenti berkembang biak sehingga hancur berantakan memuntahkan isinya. Air ungu dan minyak ungu dan ikan-ikan ungu mengalir tanpa henti dari dalam lukisan, menjebol pintu-pintu dan jendela, membanjiri komplek perumahan hingga seluruh kota, memenuhi selokan-selokan, sungai-sungai, dan terus melanda sampai ia dan ikan betina mencapai laut. “Inilah kemerdekaan! Inilah keindahan!” katanya.


About this entry