Politik Pengharapan

Kemenangan Obama dan Bangkitnya Politik Pengharapan

Yesaya Sandang

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”

(Amsal Salomo)

Sejarah baru telah ditorehkan di negeri Paman Sam. Untuk kali pertama seorang yang berlatar belakang minoritas dan pada awalnya tidak diunggulkan berhasil memangku jabatan publik tertinggi, sang Presiden. Terpilihnya Barack Hussein Obama sebagai Presiden Amerika Serikat menciptakan gempa politik yang getarannya terasa ke seluruh penjuru dunia. Sebuah fenomena yang mengundang decak kagum sekaligus membawa kita merenungkan maknanya. Terpilihnya Obama membuka sebuah lembaran baru dan angin segar bagi dinamika politik, bukan saja bagi Amerika Serikat, tetapi juga bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia yang politiknya masih dirundung awan gelap.

Harapan dan Perubahan

Harapan (hope) dan perubahan (change) adalah dua kata kunci yang membawa Obama mencapai tampuk pimpinan tertinggi negara adidaya satu-satunya di muka bumi ini. Harapan yang bagi setiap insan tersimpan di relung terdalam dirinya, yang disadari atau tidak, memiliki peran yang begitu krusial dalam pergumulan hidupnya. Sebagai insan spiritual, kita membawa pengharapan kita di dalam doa. “Hendaklah engkau menaruh pengharapanmu pada sang Khalik,” demikian selarik seruan yang tidak jarang kita dengar dalam khotbah-khotbah para pemuka agama. Dalam realitas hidup sehari-hari, kita kadangkala menghadapi suatu keadaan dengan cemas-cemas penuh harap. Dengan demikian, tampak jelas bahwa harapan memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita.

Pada titik itulah gagasan tentang perubahan menemukan pasangannya, belahan hakikatnya. Demi terwujudnya perubahan, perlu adanya harapan. Perubahan yang ditawarkan bukanlah janji-janji kosong belaka, tetapi menjelma sebuah kemungkinan ketika kita sadar bahwa ada harapan untuk mewujudkannya. Harapan bukan sesuatu yang serta-merta termanifes bagi individu. Ia bisa saja terpendam dan terkurung bahkan habis tergerus ketika realitas hidup demikian kejam. Kejamnya kehidupan dapat menciutkan harapan seseorang, tetapi ia senantiasa ada di sana menanti bangkit kembali. Pada titik nadir semacam ini diperlukan gebrakan untuk kembali menggugah harapan yang terpendam.

Hal itulah yang dilakukan Obama dalam segenap proses kampanye yang ia lakoni dan pada akhirnya menjadi kunci kemenangannya. Dalam pengamatan saya, Obama membingkai visi dan misinya dengan menggugah salah satu inti eksistensi manusia, yaitu pengharapan. Inilah yang membedakannya secara diametral dengan lawannya, John McCain. Obama berhasil menyentuh nurani para pemilihnya, yang dengan dahsyatnya juga menyentuh banyak orang di seluruh penjuru dunia. Ia berhasil menyakinkan para pendukungnya bahwa harapan itu sungguh ada dan dengan demikian harapan atas masa depan yang lebih baik menjadi dimungkinkan.

Politik Pengharapan

Ya! Kita bisa! (Yes! We Can!), demikian seruan para pendukung Obama pada perayaan kemenangannya, merupakan bentuk afirmasi bahwa ia terpilih bukan saja karena platform program-program yang diajukannya, tetapi juga keberhasilannya merebut hati para pemilihnya untuk bersama-sama mewujudkan perubahan, mewujudkan masa depan yang lebih baik. Hal ini mengingatkan saya pada sepenggal kalimat, “Menggerakan massa yang pasif menjadi aktif.” Dalam konteks ini, saya pikir Obama berhasil melakukannya. Ia tidak saja memecahkan rekor dukungan dana terbesar dalam sepanjang sejarah kampanye presiden, tetapi juga berhasil membawa sebuah pergerakan massif di negerinya, terbukti misalnya dari jumlah relawan yang terlibat dalam keseluruhan proses kampanyenya.

Tanpa berpretensi menyanjung secara berlebihan, kemenangan Obama ini kiranya dapat dipandang sebagai secercah asa bagi dinamika politik di tengah-tengah alam demokrasi. Demokrasi sejatinya membuka jalan bagi terjadinya politik yang berpengharapan, dan dengan demikian selalu ada kemungkinan terciptanya perubahan yang fundamental. Politik pengharapan memiliki keyakinan dan keteguhan pada sebuah kemungkinan yang lebih baik. Dalam bahasa Alan Badiou, politik dengan demikian bukanlah “everything is possible,” tetapi “something else is possible.” Artinya, terdapat suatu upaya subjektif untuk terus mempertahankan pluralitas sambil terus-menerus memastikan perubahan ( Robet&Agustinus, 2008 )

Masih Ada Harapan

Mungkin ada sebagian kalangan yang menanggapi dengan sinis dan skeptik jika peristiwa kemenangan Obama ini diparalelkan dengan keadaan kita di Indonesia. Saat ini kita masih menyaksikan dinamika politik yang sarat dengan politik pencitraan, hiruk-pikuk komoditas, huru-hara komunalisme, serta kekerasan dan korupsi di mana-mana. Di satu sisi, demokratisasi yang sementara terjadi tampaknya masih sebatas pada instalasi prosedur dan belum masuk seluruhnya pada dimensi yang lebih substansial. Di sisi lain, perubahan yang dinanti-nanti belum juga terwujud. Hal ini adalah sebuah keadaan yang dapat membawa kita pada kelelahan sosial (social fatigue). Di sinilah pentingnya momentum kemenangan Obama bagi kita. Kita kembali diingatkan bahwa sesungguhnya apa pun yang sementara terjadi, masa depan Indonesia yang lebih baik sungguh ada dan harapan atas hal tersebut tidak akan pernah hilang. Tinggal pertanyaannya untuk Anda dan saya sekarang adalah: Maukah kita semua bahu-membahu mewujudkan perubahan tersebut? Dan dengan setia dalam pengharapan terus-menerus mengusahakannya demi Indonesia yang adil dan makmur bagi seluruh warganya.


About this entry