Anomali

Anomali
Bramantio

Mall itu dipadati para pengunjung yang kebanyakan adalah remaja. Mereka datang beramai-ramai, ketawa-ketiwi, dan menampilkan pentas catwalk cuma-cuma. Bagaimana tidak, mereka memakai pakaian plus aksesoris model mutakhir yang menjadi tren mode dunia saat itu.

Tapi, keramaian semacam itu tidak terjadi di sebuah counter penjualan buku. Suasananya lengang, terasa begitu nyaman dan santai. Alunan musik yang sama pelannya mengisi setiap sudut ruangan, menyapa telinga para maniak buku dan buku-bukunya sendiri yang berbaris teratur di atas rak. Di antara segelintir orang, seorang laki-laki dengan kaos putih berleher v, celana jeans biru, dan sandal flat putih model Ben Hur, berjalan dari satu rak ke rak yang lain. Berhenti sejenak, matanya mencari-cari, membolak-balik buku, mengambil beberapa, lalu berjalan lagi. Begitu seterusnya. Cukup lama ia berada di tempat itu. Cukup lama pula ia tidak menyadari sepasang mata yang sedang mengawasinya. Ketika merasa cukup dengan buku-bukunya, ia menuju kasir untuk membayarnya dan pergi meninggalkan counter itu.

Di luar counter ia berpikir, tidak lama, lalu melanjutkan perjalanannya. Ia turun dua lantai dan masuk ke Pizza Hut. Beberapa bangku di tempat itu sudah terisi, dan tidak ada yang masih muda. Seorang perempuan, pelayan tempat itu, datang menghampirinya,
“Super supreme besar dan milkshake coklat.”
“Ada lagi?”
“Tidak. Terima kasih.”
“Saya ulangi pesanan Anda. Satu super supreme besar dan satu milkshake coklat.”
“Ya.”
“Baiklah. Harap menunggu lima belas menit.”

Ketika perempuan pelayan meninggalkan laki-laki berkaos putih berleher v, seorang laki-laki lain memasuki ruangan itu. Tidak lama kemudian seorang pelayan, sekarang laki-laki, menghampirinya, dan peristiwa yang sama terulang. Mata laki-laki itu menyapu ke sekeliling ruangan. Hal serupa juga dilakukan laki-laki pertama. Mata mereka bertemu dan keduanya tersenyum canggung. Mereka saling mengenal, tapi tidak begitu akrab.

Lima belas menit kemudian laki-laki pertama beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju tempat laki-laki kedua duduk.
“Kamu Rangga, kan?”
“Oh! Aryo?!”
“Boleh aku duduk di sini?”
“Ng… tentu,” dengan sedikit gugup.
“Aku ambil barangku dulu.”

Sekembalinya Aryo mengambil barangnya, datang dua orang pelayan mengantar pesanan mereka,
“Anda duduk di sini?”
“Ya,” kata Aryo.
Keduanya menata pesanan Aryo dan Rangga di atas meja,
“Super supreme, milkshake coklat, lasagna, garlic bread, lemon tea. Silakan.”
“Terima kasih,” kata Aryo dan Rangga bersama-sama.

Setengah jam berikutnya, setelah keduanya benar-benar selesai,
“Yo.”
“Ya?”
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini?”
“Déja vu?”
“Bukan,” menggeleng.
“Lalu?”
“Oke. Selama ini kita ga begitu akrab, meskipun kita berdua saling tahu. Kamu tahu kan gimana aku?”
“Emang kamu gimana?”
“Ayolah. Jangan pura-pura ga tahu gitu lah.”
“Ya, ya. Aku tahu. Terus kalo udah tahu?”
“Apa ini semua ga salah?”
“Salah? Salah apanya? Gimana bisa salah?”
“Orang-orang di sekolah ngenal kamu sebagai Mr. Perfect. Kalo ada yang tahu kamu duduk di sini sama aku, reputasimu bisa ancur.”
“Jadi, maksudmu, salah kalo aku berteman sama kamu?”
“Mungkin,” sambil mengangkat bahu.
“Aneh. Aku ga sebaik yang kalian kira. You know what? Sikapku yang serba baik dan manis selama ini hanya untuk mendapatkan simpati orang lain. Dengan begitu, seseorang akan lebih mudah diterima orang lain, dan tentu saja akan memudahkan usahanya untuk mencapai keinginannya. Bener ga?
“Bercanda kamu.”
“Whatever lah.”

Keduanya terdiam.
“Sebenernya aku ingin berubah,” menatap Aryo.
“Ya, berubah saja.”
“Ga segampang itu.”
“Emang kamu udah pernah nyoba?”
“Berkali-kali dan aku balik seperti semula.”
“Pernah konsultasi?”
“Ga ada hasilnya. Mereka cuma pinter ngomong. Coba kalo mereka yang ngalami, pasti sama saja,” menunduk lagi.
“Orangtuamu? Sodara-sodaramu? Sahabatmu?”
“Mereka ga tahu dan mereka peduli apa. Yang ada dalam pikiran orangtuaku hanya duit dan gimana dapetin duit sebanyak-banyaknya. Sodara-sodaraku sama saja, mereka ga pernah mo tahu urusanku. Setiap aku meminta pendapat mereka, bukan tentang masalah ini, mereka selalu beralasan sibuk lalu mengatakan aku udah gede dan kudu tahu gimana ngurus diri sendiri. Dan aku ga punya sahabat.”
“Jangan gitu dong. Kamu belum nyoba untuk yang satu ini. Kurasa kamu akan memberi suatu kejutan kepada mereka. Sorry, bercanda. Berusahalah untuk terbuka, lebih-lebih kepada orang-orang yang paling dekat denganmu.”
“Mereka hanya dekat dalam hubungan darah, tidak secara emosional.”
“Aku tahu. Tapi, ga ada salahnya untuk terus mencoba. Mungkin pada waktu itu mereka bener-bener sibuk. Lagipula, orangtuamu cari duit siang malam kan untuk kamu dan sodara-sodaramu.”
“Kamu ga ngerti juga ya,” menatap Aryo, “Mereka bener-bener ga peduli.”

Mereka menyandarkan diri pada kursi. Aryo menghabiskan milkshake-nya dan mulai angkat bicara,
“Apa yang bisa kulakukan?”
“Apa?”
“Apa yang bisa kulakukan untuk kamu?”
“Kamu mo bantu aku?”
“Yeah, I’ll try.”
Rangga tidak segera menjawab.
“Kok diem? Kamu ga pengen seseorang membantumu? Atau, kamu ga percaya aku?”
“Bukan gitu. Semua terjadi dengan cepat. Yang kuharapkan selama ini justru datang dari orang yang ga begitu kukenal, bahkan pernah kuanggap sebagai orang yang sangat menyebalkan. Sikapmu terlalu tua untuk ukuran remaja.”
“Hah?! Kamu pernah ngganggap aku seperti itu? Apa bener aku seperti itu?”
“Ya. Bukan, bukan, maksudku… ya. Tapi, ternyata kamu ga menyebalkan. Mungkin belum.”
“Nevermind. Aku toh juga belum tentu bisa bantu menyelesaikan masalahmu.”

Keduanya kembali terdiam. Aryo mencondongkan tubuhnya ke depan dan menyangganya dengan kedua tangannya yang terlipat di atas meja.
“So what can I do for you?
Lama. Rangga mengangkat dan menundukkan kepalanya secara bergantian. Adakalanya ia menatap langit-langit.
“Entahlah. Aku ga tahu. Menurutmu apa?”

Sabtu malam di rumah Aryo saat hujan turun dengan begitu deras seseorang mengetuk pintu rumah. Tidak lama kemudian seorang perempuan berbadan tambun membukakan pintu,
“Selamat malam.”
“Selamat malam,” balas si tamu yang mengenakan jaket hitam dengan penutup kepala sehingga sulit dikenali wajahnya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin bertemu Aryo.”
“Anda siapa?”
“Saya temannya. Rangga.”
“Tunggu sebentar.”
Perempuan berbadan tambun menutup pintu dan membiarkan Rangga menunggu di luar di antara hembusan udara dingin. Lima menit kemudian pintu terbuka lagi,
“Silakan masuk.”
Rangga melangkah masuk.
“Akan saya antar ke kamarnya.”
Rangga mengikuti wanita berbadan tambun. Ia membuka penutup kepalanya.

Kamar Aryo terletak di lantai dua. Setiba di depan pintu kamar yang dituju,
“Silakan,” perempuan berbadan tambun menyilakan, air mukanya langsung berubah ketika melihat ke arah wajah Rangga.
“Terima kasih.”

Rangga mengetuk pintu setelah perempuan berbadan tambun meninggalkannya.
“Masuk!”
Rangga membuka pintu,
“Hai, Yo.”
Aryo yang pada saat itu sedang menghadap ke layar komputer segera memutar tubuhnya dan terperanjat. Ia bergegas ke arah Rangga. Sementara itu, Rangga tetap mematung.
“Kamu kenapa?”
Aryo membimbing Rangga menuju sofa besar yang ada di kamar itu lalu mereka duduk. Sunyi. Ada darah yang mulai mengering di pelipis kanan dan di sudut kiri bibir Rangga.
“Sebentar,” kata Aryo.
Aryo beranjak meninggalkan Rangga. Ia membuka salah satu pintu di dalam kamar itu dan memasukinya. Tidak begitu lama ia sudah keluar sambil membawa mangkuk kecil yang mengepulkan uap, dan sepotong handuk yang juga kecil. Ia kembali duduk,
“Kamu bersihkan sendiri atau aku saja?”
Rangga mengambil handuk kecil lalu mencelupkannya ke mangkuk berisi air hangat. Ia mengusapkannya ke wajahnya sambil sesekali menyipitkan mata menahan sakit. Air di dalam mangkuk telah berubah warna.
“Katakan, Ngga.”
“Aku turuti kata-katamu tempo hari,” suara Rangga terdengar tidak begitu jelas karena tertahan oleh bibir bengkaknya.
“Kamu ceritakan….”
“Ya. Aku ceritakan semuanya kepada orangtuaku,” Rangga memotong kata-kata Aryo.
Mendengar hal itu, Aryo hanya bisa menatap Rangga.
“Ini bukan salahmu,” kata Rangga.
Rangga berdiri. Ia berjalan mendekati jendela. Pandangannya menerawang jauh menembus derasnya hujan.
“Mereka memang ga pernah peduli”
Aryo terdiam mendengarkan kata-kata berikutnya yang muncul satu demi satu dari sepasang bibir Rangga. Ia menghampirinya lalu meraih bahunya tanpa berkata apa-apa. Rangga membalikkan badan lalu mulai menangis di pundak Aryo.
“Jangan tahan air matamu. Nangis aja sepuasmu. Ga usah sok macho.”
Rangga tidak lagi berusaha membendung tangisnya. Aryo merasa Rangga memeluknya terlalu kuat.
“Tuhan menciptakan airmata bukan tanpa alasan. Ketika seseorang merasa ga berdaya menjalani hidup dan ga tahu lagi yang harus dilakukan, airmata memberikan secercah harapan baru untuk melanjutkan perjalanan di atas garis takdir. Airmata hari ini suatu saat akan berubah menjadi senyuman. Senyuman yang lebih besar dan lebih indah daripada masa-masa sebelumnya.”
“Bullshit.”
“Iya, bullshit banget.”

Setelah Rangga bisa menenangkan diri,
“Kamu ganti baju dulu. Aku ambilkan sebentar.”
Tidak lama kemudian,
“Ini,” Aryo memberikan handuk dan beberapa potong pakaian.
Rangga diam saja.
“Sebaiknya kamu mandi dulu pake air hangat.”
Rangga tetap diam.
“Ayolah, aku bukan baby-sitter-mu.”
Aryo menarik lengan Rangga yang seolah-olah tidak punya semangat hidup. Mereka berdua masuk kamar mandi lalu Aryo keluar dan menutup pintunya. Ia meninggalkan kamarnya selama beberapa saat. Suasana tetap sepi. Suara air mengalir mulai terdengar.

Aryo kembali dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat dua mug berisi teh panas. Ia mendekati pintu kamar mandi.
“Ngga, kamu udah selesai?”
Tidak ada jawaban.
“Ngga?” Aryo merasa tidak enak.
Ia memutar gagang pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci. Ia menjumpai Rangga berdiri telanjang membelakanginya di bawah derasnya aliran air panas dari shower. Aryo mendekatinya. Wajah Rangga datar tanpa ekspresi.
“Ngga?”
Aryo mematikan shower lalu mengambil handuk untuk menutupi tubuh Rangga. Mereka berjalan meninggalkan kamar mandi lalu kembali duduk di sofa.

Di ruang makan Aryo bersama orangtuanya sarapan.
“Kata Yu Siti tadi malam ada teman mencarimu,” ayahnya membuka pembicaraan.
“Ya,” jawabnya singkat sambil meneruskan makannya.
“Dengan wajah berdarah?”
Aryo berhenti mengunyah,
“Ya?”
“Siapa dia?”, ganti ibunya.
“Rangga. Teman sekolah.”
“Apa yang terjadi dengannya?”
“Haruskah kuceritakan?”
“Mengapa tidak? Selama ini, sepengetahuan ibu, kamu tidak begitu banyak bergaul dengan teman-temanmu, kalau pun ada, mereka kelihatannya baik-baik.”
“Rangga juga baik.”
“Maksud ibumu, teman-temanmu yang pernah berkunjung ke rumah ini keadaannya tidak seperti Rangga tadi malam.”
“Oke. Dia sedang punya masalah.”
“Pasti berat.”
“Kumohon. Jangan mendesakku seperti ini.”
“Ayah dan ibu tidak bermaksud begitu. Kami hanya tidak ingin kamu terlibat dengan sesuatu yang buruk, Yo.”
“Jangan terlalu khawatir seperti itu. Aku tahu yang kujadikan teman, aku tahu yang kulakukan, dan aku tahu aku akan baik-baik saja.”
“Baiklah kalau begitu.”
Aryo mendorong kusinya ke belakang. Ia melangkah menuju dapur dan kembali membawa piring dan gelas kosong. Ia mengisi piring itu dengan beberapa potong roti bakar dan menuangkan air ke gelas.
“Aku kembali ke kamar.”
Ayah dan ibunya, yang belum selesai juga, mengangguk.

Setibanya di kamar ia meletakkan bawaannya di atas meja belajar lalu berjalan menuju jendela dan membuka tirai penutupnya. Cahaya dari luar, meskipun tipis, membawa perubahan suasana di kamar itu. Ia mendekati tempat tidur untuk membuka selimut yang menutupi Rangga.
“Sial!” Aryo terkejut karena Rangga menyibakkan selimut tiba-tiba.
“Pagi, Crocodile,” Rangga berkata sambil mengusap-usap matanya.
“Pagi… Hei! Barusan kamu bilang apa?”
“Pagi, Crocodile?”
“Itu kan….”
“Ya! Simon Birch!”
“Film itu?”
“Ya. Itu film favoritku.”
“Aku juga suka film itu.”
“Kamu tahu kenapa kamu suka film itu?”
“Ga.”
“Aku juga ga.”
“Gimana dengan The Cure? Udah nonton?”
“Belum.”
“Kamu harus nonton itu film.”
“Siapa yang main?”
“Joseph Mazzello dan Brad Renfro.”
“Oh, si Joe itu? Pasti seru.”
“Ya.”
Rangga menatap langit-langit lalu beralih menatap Aryo dengan cara yang aneh.
“Apa?!”
“Ga papa kok.”
Ia lalu duduk lesu di tepi tempat tidur. Sementara itu, Aryo membereskan selimut dan bantal.
“Aku bawakan sarapan untukmu.”
“Mmmm? Oh, ya. Tapi, aku mo mandi dulu.”
Dengan langkah gontai, Rangga memasuki kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, setelah Rangga selesai mandi,
“Aku makan.”
“Ya,” jawab Aryo yang sedang berbaring di tempat tidur sambil membaca majalah.

Kamar sepi selama Rangga makan. Hanya tarikan-tarikan nafas Aryo dan Rangga yang samar-samar terdengar. Rangga mengunyah makanannya dengan lambat, diselingi meneguk air dari gelas yang diangkat mendekati mulutnya tanpa gairah. Matanya seperti semalam, menatap kosong keluar melalui jendela, kali ini menembus alam yang merenung di dalam waktu yang seolah-olah membeku.
“Sebaiknya kamu hubungi orangtuamu,” kata Aryo memecah keheningan dari balik majalah.
“Apa?”
“Hubungi orangtuamu,” ia menurunkan majalahnya sampai hidungnya dan menatap Rangga.
“Aku ga mau.”
“Aku ngerti perasaanmu, tapi mereka kan orangtuamu, mereka pasti khawatir,” ia bangkit dan meletakkan majalahnya di kolong tempat tidur.
“Mana mungkin orang yang ga pernah peduli tiba-tiba khawatir atas nasib orang yang pada awalnya diabaikannya?”
“Jangan terlalu keras gitu. Orangtuamu pasti nyesel telah melakukan semua ini.”
“Aku ga peduli.”
“Tapi, aku peduli.”
Aryo mengangkat gagang telepon yang ada di meja di sampingnya. Rangga yang belum menyelesaikan sarapannya langsung mendekati Aryo dan merebut gagang telepon itu dari tangan Aryo dengan kasar,
“Hei!”
“Kukira kamu temanku!”
“Aku memang temanmu.”
“Kamu bukan temanku! Kalian semua sama saja!” Rangga berkata dengan keras dan meletakkan gagang telepon itu dengan tidak kalah keras. Ia lalu berjalan ke arah pintu.
“Kamu mo ke mana?”
“Pergi!”

Aryo beranjak dari tempat tidur dan menarik lengan kanan Rangga. Rangga berbalik dan mendaratkan sebuah pukulan ke wajah Aryo dengan tangan kiri. Aryo melepaskan lengan Rangga. Aryo terpaku beberapa saat lalu bergegas menyusul Rangga. Di tangga ia berpapasan dengan orangtuanya. Mereka bertatapan sejenak lalu Aryo menuruni anak tangga.
“Biarkan saja, Yo,” kata ayahnya.
Mendengar itu, Aryo yang sudah sampai di depan pintu, menghentikan langkahnya. Sekali lagi ia terpaku. Ia melihat Rangga berlari sudah cukup jauh. Hujan mulai turun.

Aryo kembali ke kamarnya. Ia duduk di depan meja belajarnya, di depan piring dan gelas yang dipakai Rangga sarapan. Sejenak ia menatap kedua benda itu lalu beralih ke luar jendela. Ia merasa bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada Rangga. Mereka baru benar-benar berkenalan beberapa waktu yang lalu dan Rangga mengharapkan bantuannya untuk melakukan perubahan. Hal itu justru mengantarkan Rangga menuju masalah yang lebih rumit. Ia benar-benar mengkhawatirkan Rangga, tapi di lain sisi, ia tidak ingin melawan orangtuanya.

Perenungan panjang itu diakhirinya dengan mengambil sebuah keputusan. Ia akan menghubungi orangtua Rangga. Ia berjalan ke arah tempat tidur dan mulai menelepon,
“Halo. Selamat pagi,” sapa suara di seberang.
“Selamat pagi. Bisa saya bicara dengan ayah atau ibu Rangga?”
“Boleh tahu siapa Anda?”
“Saya teman Rangga.”
Tak ada balasan dari seberang. Aryo menduga si penerima telepon memanggil orangtua Rangga. Lalu,
“Ya. Saya ibunya.”
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi.”
“Saya teman Rangga. Semalam Rangga datang ke rumah saya dan menceritakan semua yang terjadi….”
“Ya Tuhan! Di mana rumahmu? Kami akan menjemputnya.”
“Maaf, saya tidak bermaksud mencampuri urusan keluarga Anda, tapi saya juga tidak bisa membiarkan Rangga diperlakukan seperti itu. Untuk sementara, biarlah Rangga tinggal bersama saya. Ia butuh menenangkan diri. Saya sempat memintanya untuk menghubungi rumah, tapi ia menolak. Sebenarnya ia juga melarang saya untuk menghubungi rumahnya, tapi saya tidak ingin Anda sekalian khawatir. Ia akan baik-baik saja di sini.”
“Tunggu….”
“Saya tidak ingin ia membenci saya. Terima kasih atas waktunya, Bu. Selamat pagi,” Aryo mengakhiri pembicaraan dan meletakkan gagang telepon ke tempatnya.

Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menatap langit-langit, kosong, seperti Rangga. Ia merasa ngantuk karena peristiwa semalam membuatnya tidak nyenyak tidur. Matanya lalu menutup dan ia tertidur.

Aryo yang sedang tidur terbangun oleh suara telepon. Ia memerlukan waktu untuk memperoleh seluruh kesadarannya sebelum mengangkat gagang telepon. Ia baru mengangkat gagang telepon pada bunyi kesebelas.
“Halo.”
“Halo, Yo.”
“Siapa ini?”
“Cepet banget kamu lupa.”
“Rangga? Kamu di mana?” Aryo kehilangan rasa kantuknya dan mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil mengusap rambutnya sesekali.
“Coba tebak!”
“Aku serius.”
“Aku juga.”
“Maaf atas kejadian pagi tadi.”
“Ga usah dipikirin lagi. Seharusnya aku yang minta maaf karena udah mukul kamu. Gimana wajahmu?”
“Baik-baik saja.”
“Baguslah kalo gitu.”
“Kamu sendiri gimana?”
“Aku juga baik-baik saja. Cuma kedinginan. Aku ga ngira di luar sini sangat dingin. Tapi, itu ga jadi masalah bagiku, bagi orang yang udah menghabiskan hampir setengah waktu hidupnya dalam ketidakpastian … Selama itu pula aku berjalan dalam sebuah lorong panjang yang gelap dan berliku. Aku benar-benar ga bisa menemukan ujungnya … Aku benar-benar putus asa. Aku ga tahu yang harus kulakukan … Lalu, aku bertemu seseorang yang dengan sepenuh hatinya memberikan penerangan dan menuntunku melanjutkan perjalanan. Tapi, itu hanya sesaat. Ga ada gunanya terus-menerus dalam dunia yang seperti ini … Aku pengen pergi jauh dan bebas dari tubuh tak bermakna ini.”
“Jangan nglantur begitu. Kembalilah ke rumahku. Atau setidaknya katakan di mana kamu sekarang, aku akan jemput kamu.”
“Aku ga bisa. Mungkin kita seharusnya ga perlu menjadi teman seperti sekarang. Aku hanya akan nyusahin kamu.”
“Itu ga bener!”
“Itu kan menurutmu.”
“Aku hanya ingin menepati janjiku.”
“Janji yang mana?”
“Janjiku untuk membantumu melakukan perubahan.”
“Itu bukan janjimu. Itu keinginanku. Kalo toh kamu nganggap itu janjimu, kamu udah menepatinya.”
“Aku belum melakukan apa-apa.”
“Ga ngira, orang secerdas kamu ternyata bisa bodoh juga. Kamu seharusnya tahu kalo kamu udah melakukan sesuatu yang sangat berarti bagiku. Sepanjang hidupku, belum pernah aku diperlakukan seperti yang telah kamu lakukan kepadaku, bahkan oleh orangtuaku dan sodara-sodaraku. Selama berteman denganmu, aku lebih mengenal diriku sebenarnya.

Keduanya terdiam. Lama. Lalu,
“Kamu masih di situ, Yo?”
“Ya.”
“Terima kasih atas semuanya. Aku ga bisa balas kebaikanmu. Kurasa cukup sampai di sini. Aku pergi ya. Sampaikan salamku untuk orangtuamu. Jaga dirimu baik-baik.”
“Ngga?”
Tidak ada jawaban dari seberang. Hanya dengung telepon yang terdengar. Aryo meletakkan gagang teleponnya. Ia mulai berpikir macam-macam. Sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi. Rangga bisa saja nekat melakukan sesuatu yang bahkan tidak bisa disesalinya. Ia kebingungan dan mulai panik. Tapi, di tengah-tengah itu semua, ia masih dapat mengingat bahwa kepanikan justru akan mendatangkan bencana, setidaknya itulah yang diperolehnya dari menonton film-film thriller. Ia berusaha menenangkan dirinya dan memusatkan pikirannya. Pada akhirnya, ia kembali mengangkat gagang telepon di sampingnya dan mulai menelepon,
“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ya. Bisakah saya mendapatkan informasi tentang asal telepon yang baru saja masuk ke saluran telepon rumah saya?”
“Tentu. Tunggu sebentar.”
Sunyi.
“Halo.”
“Ya?”
“Telepon yang baru saja masuk ke saluran Anda berasal dari telepon umum di taman kota.”
“Baiklah. Terima kasih.”
“Dengan senang hati.”
Aryo menutup teleponnya. Ia melepas celananya. Ia berjalan menuju salah satu lemari di ruangan itu, membukanya, mengeluarkan celana cargo hitam lalu mengenakannya. Ia beralih ke rak sepatu di sudut lain ruangan itu, mengambil sepatu Converse hitam, mamakainya, lalu keluar meninggalkan kamarnya. Dia berjalan dengan cepat, menuruni anak tangga, dan sampai di garasi.

Di dalam garasi seorang laki-laki berambut dan berkumis abu-abu sedang membersihkan salah satu mobil. Laki-laki itu menyadari kedatangan Aryo.
“Mau pergi, Mas?”
“Ya,” jawabnya sambil menghampiri sedan hitam.
“Hujan-hujan begini?”
“Ya. Ada urusan yang harus kuselesaikan dan tidak bisa menunggu sampai hujan berhenti.”

Tanpa berbicara lebih panjang lagi Aryo memasuki sedan hitam, menyalakan mesinnya, dan mengoperasikan alat kecil yang menempel di atas dashboard mobil. Pintu garasi terbuka. Sedan hitam merangkak keluar dan hujan langsung menyambutnya dengan sangat meriah. Selepas dari halaman depan mobil itu langsung melesat meninggalkan titik-titik air dan udara dingin di belakangnya.


About this entry