Hidup dan Mati dalam Moment

Death of A Loyalist Militiaman

Yesaya Sandang

If I die tomorrow
Id be allright
Because I believe
That after were gone
The spirit carries on

(Dream Theater – Spirit Carries On)

death-of-a-loyalist-soldier

Robert Capa melalui karya fotografinya yang terkenal dengan judul the death of loyalist militiaman secara jenial mengabadikan moment kematian. Foto ini dianggap sebagai salah satu tonggak penting keterlibatan jurufoto di tengah-tengah medan pertempuran. Baru pada saat itulah fotografi mulai memainkan peran penting dalam memproduksi makna yang jauh meluas keluar dari medan pertempuran itu sendiri. Melalui foto ini media fotografi mulai mengambil kesempatan dalam mengartikulasi konsep-konsep abstrak yang merupakan intisari dari pertempuran.

Di sisi yang lain, salah satu kekuatan foto tersebut (secara visualiasi) dapat dijelaskan dari prespektif ‘moment’. Moment adalah sebuah peristiwa sesaat yang khas, yang tidak dapat diulang secara persis untuk kedua kalinya. Oleh karena ke-khas-annya itulah, mereka yang menyaksikan mendapati suatu dimensi yang tidak mereka temui, mereka terkesima, tergugah. Mereka seakan-akan menjadi bagian daripadanya, dan dengan demikian pemaknaan yang personal menjadi sangat dimungkinan.

Dalam esainya berjudul The Great War Photographs: Constructing Myths of History and Photojournalism, Michael Griffin mengutarakan bahwa gambaran dalam foto tersebut sebagai “non-specific encapsulation of an idea that transcends the moment or specific instance of the subject of the photo.” Dengan kata lain, foto tersebut mampu keluar melampaui dari moment atau kejadian spesifik dari subjek foto itu sendiri. Menyaksikan foto ini membawa kita pada keheningan sesaat karena terhentak oleh sebuah gambaran kematian yang seketika. Betapa tidak, bagi orang-orang yang tidak memiliki kaitan langsung dengan peperangan yang sementara terjadi, menyaksikan foto tersebut membangkitkan simpati terdalam bagi mereka-mereka yang berguguruan di medan tempur diberbagai tempat, di mana saja di luar dari konteks gambar tersebut.

Perang memang sarat dengan perayaan akan kematian, ia selalu meminta korban tanpa pandang bulu. Tak ada yang baik dari perang karena ia hanya hanya berujung pada katastrophi. Biar demikian katastropi yang dihasilkan dari peperangan menyisakan dimensi lain yang perlu direnungi, yaitu kematian. Bagi saya, ketika berulang kali menyaksikan foto ini, lama-kelamaan timbul semacam rasa tentram yang menyelimuti. Mungkin ini terdengar aneh, tetapi inilah yang saya alami. Ketika saya menyaksikan bahwasannya sang loyalist militia merentangkan tangannya, seakan-akan ia sementara hendak terbang bebas, lepas. Pandangan ini membawa saya pada sebuah impresi kalau kematian bagi dirinya bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti melainkan direngkuh, disambut.

Honesta mors turpi vita potior” (lebih baik mati terhormat daripada hidup nista). Mungkin pepatah ini bisa menjelaskan mengapa sang loyalist demikian elegannya menyambut kematian. Baginya adalah lebih baik ikut ke medan tempur dengan kematian sebagai resikonya daripada hidup tanpa arah tujuan di bawah garis kemiskinan, hidup ditindas oleh keadaan yang diciptakan orang lain, atau mungkinkan ia memiliki alasan “mulia” lain? Tak ada yang tahu jawabnya. Hanya saja yang pasti bagi saya gambaran yang tertangkap oleh Capa tidak menunjukan ketakutan sedikit pun dari sang loyalist kala kematian menjemput. Robert Capa disini dalam amatan saya berhasil membuka pemaknaan yang cukup luas melalui tangkapan gambarannya akan moment kematian. Kekuatan pemaknaan yang tercipta dari daya momentum yang terjadi antara Capa dan kameranya dengan moment kematian sang loyalist militiaman.

Dalam kesemenjanaan hidup manusia, kematian adalah bagian yang tak terpisahkan dari dirinya. Ia adalah faktisitas yang tak terelakan. Kematian dalam kemewaktuan terus membayangi setiap fragmen kehidupan manusia. Walau ia bukan sesuatu yang bersifat keseharian, tetap tak dapat dipungkiri ia terus ada dalam bentuk bayang-bayang yang siap menghampiri. Dalam nomenclature eksistensi manusia, kematian dianggap sebagai peristiwa yang melengkapi sejatinya otentisitas diri. Tak seorang pun dapat menjemput kematiannya untuk orang lain, walau bisa saja seseorang mati atas nama orang lain (seperti aksi sang loyalist) tetapi kematian adalah tetap kematiannya sendiri, kematian adalah peristiwa yang otentik, yang personal. Dengan adanya kematian kehidupan menjadi penting, maka merenungkan kematian tak lain daripada merenungkan kehidupan itu sendiri. Hargailah kehidupan dan jangan bermain-main dengan kematian, dan jika kematian datang menjemput sambutlah dia dengan personal.

Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again

(Dream Theater – Spirit Carries On)


About this entry