Antara Comte,Ponari dan Hak Asasi

Antara Comte,Ponari dan Hak Asasi
Yesaya Sandang

Beberapa saat yang lalu pemberitaan media massa riuh memberitakan sebuah fenomena yang sebenarnya lazim ditemui dimana saja. Adalah Ponari bocah belia yang ramai diberitakan yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kemampuannya ini kemudian mendapat respon yang luas dari masyarakat, tak ayal banyak orang kemudian mendatanginya dengan berbagai macam motiv. Kemampuan yang dipraktekan Ponari tentunya bukan barang baru dalam tatanama kehidupan umat manusia. Ajaran agama dan variannya yang berbasis pada iman, penghayatan serta ritual-ritual sarat dengan fenomena-fenomena sejenis. Ada yang menyebutnya mujizat, ada pula yang mengatakan sebagai karunia Ilahi. Pada dimensi ini penjelasan yang kemudian muncul adalah hadirnya elemen kuasa adikodrati yang memampukan sang manusia menyalurkan berbagai macam energy untuk melakukan keajaiban. Disisi yang lain bisa saja dimensi ini mensyaratkan iman sebagai prakondisi atau sebaliknya keajaiban yang hadir kemudian malah semakin meneguhkan iman dari para pelakunya. Dari sini para ilmuwan kemudian mencoba memahaminya (atau mungkin malah mereduksinya) sebagai sebuah gejala manusiawi yang dapat dijelaskan dari sudut pandang psikis, neurosains, dan berbagai macam pendekatan lainnya.

Urusan menyembuhkan penyakit pada abad ini diakui sebagai bagian dari ilmu-ilmu pengetahuan yang perkembangan dari masa-kemasa. Adalah Auguste Comte sebagai salah satu pemikir modernitas yang mencoba meletakan sebuah gugus gagasan tentang berkembangnya sejarah peradaban manusia. Dalam karyanya Cours de Philosophie Positive, Comte menjelaskan bahwa munculnya ilmu-ilmu tak bisa dipahami secara terlepas dari sejarah perkembangan pengetahuan umat manusia. Ia kemudian terkenal dengan pembagian sejarah pengetahuan tersebut kedalam tiga tahap : tahap teologis, tahap metafisik dan kemudian tahap positive. Pada tahap teologis, menurut Comte, manusia mencari sebab-sebab terakhir dibelakang peristiwa-peristiwa dan menemukannya dalam kekuatan adimanusiawi. Kekuatan macam ini dibayangkan memiliki kehendak atau rasio yang melampaui manusia. Kemudian pada tahap metafisis kekuatan adimanusiawi dalam tahap sebelumnya diubah menjadi abstraksi-abstraksi metafisis, pada tahap ini yang ada adalah entitas-entitas konsepsional. Pada tahapan yang terakhir yaitu tahap positive Comte berpendapat bahwa manusia mencapai kedewasaan mentalnya. Pada zaman ini umat manusia tidak lagi menjelaskan sebab-sebab di luar fakta-fakta yang teramati, melainkan mencari penjelasannya pada hukum-hukum yang bekerja umum yang dapat dibuktikan dan teramati secara ilmiah. Baru pada tahap inilah ilmu pengetahuan berkembang penuh, ilmu pengetahuan tidak hanya melukiskan yang real tetapi juga bersifat pasti dan berguna.

Dalam kaitannya dengan kemajuan peradaban manusia, gagasan Comte ini menyusup masuk kedalam berbagai pendekatan keilmuan, termasuk didalamnya ilmu medic yang urusannya tentang sakit penyakit dan penyembuhannya. Sehingga kemudian dalam perkembagannya terdapat peminggiran terhadap fenomena-fenomena semacam Ponari tersebut diatas, karena ia dianggap masih berpijak pada tahap yang masih terbelakang.
Saya pribadi tidak begitu bersetuju dengan pandangan Comte ini karena beberapa alasan. Pertama, Fenomena Ponari dalam amatan saya sebenarnya memiliki kesahiannya sendiri. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana; urusan mujizat, karunia penyembuhan, dan praktek-praktek serupa lainnya memiliki dimensi personal, sejauh ia tidak menistai nilai-nilai kemanusiaan. Kedua, bagi saya dibalik segala tuduhan serta penilaian yang diarahkan kepada keluarga Ponari dan dirinya sendiri harus dilihat dari segi, bahwa apa yang dilakukannya tidak lebih dari pada untuk melakukan apa yang baik bagi sesamanya (dalam hal ini menyembuhkan penyakit). Dengan demikian kemajuan peradaban kemanusiaan tidak dapat diukur hanya berdasarkan pada satu tolak ukur yang mereduksi berbagai bidang pengalaman hidup umat manusia kedalam satu dimensi saja.

Lantas dimana letak persoalannya yang relevan dalam fenomena Ponari ini sehingga pemberitaannya menjadi begitu riuh rendah di berbagai media massa? Pada titik ini saya kemudian berpendapat bahwa fenomena Ponari ini lebih tepat untuk dikaji dari sudut pandang lalainya negara (baca:pemerintah) dalam menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau dan bermutu. Persoalan ini dalam hemat saya jauh lebih krusial untuk mendapat porsi yang lebih besar dalam pemberitaan, karena urusan layanan kesehatan adalah hak dasar dari setiap warga negara. Fenomena Ponari dalam amatan saya menyiratkan bahwa terdapat sebuah problem mendasar terkait dengan layanan public yang terkait dengan bidang kesehatan. Banyaknya orang yang bebondong-bondong mencari kesembuhan dari Ponari merupakan cerminan dari betapa minimnya pilihan akan solusi kesembuhan yang ada. Jika saya tidak mampu berobat ke layanan kesehatan manapun, atau layanan kesehatan yang hadir tidak mampu menolong saya, adalah sebuah kewajaran jika kemudian saya mencari alternative solusi yang jauh lebih murah, praktis dan terbukti melalui kesaksian orang lain mampu menolong penyakit yang saya derita.Pandangan yang mencoba masuk pada argumentasi bahwa masyarakat kita adalah ”sick society” karena mereka memilih untuk berobat ke Ponari hanya membenarkan pandangan Auguste Comte yang mencoba mengkerdilkan dimensi lain dari pengalaman hidup kemanusiaan. Kasus Ponari akan menjadi berbeda tentunya jika kondisi kebijakan layanan kesehatan pemerintah sungguh-sungguh memenuhi kebutuhan masyarakat. Ponari dalam keadaan yang demikian seharusnya merupakan fenomena yang dapat direspon secara proporsional. Ia bukan sebuah gejala mistisisme yang dituduh sesat serta menyimpang dari kelumrahan akal sehat. Dengan demikian perdebatan soal “keajaiban” Ponari seharusnya dapat dikaji secara lebih bertanggung jawab.

Yang menyimpang bagi saya adalah sebuah keadaan yang nyata-nyata secara sistemik menghambat segenap laju proses kehidupan kemanusiaan yang sungguh-sungguh mampu memanusiaakan. Inilah yang disebut sebagai pendekatan kapabilitas soal hak asasi manusia. Pendekatan kapabilitas ini adalah sebuah gagasan yang hendak mengambarkan bahwa setiap manusia memiliki suatu standart minimum tertentu terkait dengan bagaimana seorang individu dapat hidup sesuai dengan fungsinya demi mewujudkan kesejahteraan dirinya. Artinya manusia dapat berfungsi secara utuh manakala kemampuan tersebut dimiliki oleh setiap individu. Kapabilitas ini harus dikedepankan dan dijadikan tujuan dari pemerintah dalam kebijakan publik. Dalam hal ini jelas salah satu hak dasar yang harus diwujudkan adalah hak atas layanan kesehatan. Bukankah pemerintah sering berujar bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat?

Inilah yang luput dari pemberitaan media massa dalam meliput fenomena Ponari. Dalam kaitannya dengan pelanggaran hak oleh negara, dapat dilihat bahwa negara tidak menyediakan kebijakan publik yang mengoptimalkan layanan kesehatan, alih-alih menyediakan yang adalah pemberangusan dari kemampuan tersebut. Implikasinya kemudian adalah warga negara yang dilanggar haknya tidak dapat memfungsikan dirinya secara baik, dan dengan demikian ia sulit mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Hak asasi manusia dalam realita harus menemukan wujudnya untuk memampukan bahwa setiap manusia dapat berfungsi demi mencapai kesehjateraan. Bahasa hak asasi bukan hanya serentetan hak-hak yang normatif, tetapi ia harus dapat “memanusiakan manusia”, karena apalah artinya menjadi manusia jika ia tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya untuk mencapai kehidupan yang layak di muka bumi ini.

 


About this entry