Bocah Peseluncur

Bocah Peseluncur
Bramantio

Itu Minggu. Dan masih begitu muda. Kami, orang-orang yang dialiri darah dari leluhur yang sama, berada di dalam mobil berusia sepuluh tahun. Melaju tanpa hambatan berarti di jalan bebas pertigaan perempatan dan merah kuning hijau serta si roda dua bermotor yang semakin hari semakin memperlihatkan laju pertumbuhan tidak terkendali. Tujuan: Bandung yang telah kehilangan sebagian aura dinginnya. Prakiraan waktu tempuh: dua jam sekian menit yang tidak melebihi enam puluh. Kecepatan rata-rata: jarak dalam satuan kilometer dibagi waktu tempuh dalam satuan jam sehingga menghasilkan sekian puluh kilometer per jam yang entahlah, toh bukan saya yang berada di belakang kemudi yang senantiasa bundar, tentu saja. Karena itulah selama perjalanan saya leluasa melihat ke mana-mana sejauh yang terjangkau sepasang mata minus saya berlensa tambahan, memikirkan apa-apa mulai yang remeh yang agak serius yang serius tulen yang malu-malu yang mesum yang liar yang brutal. Sebentuk gagasan main-main melintas: saya ingin turun dari mobil, tidak perlu lama, tepat di kilometer-kilometer tertentu yang membentuk angka-angka menarik, hanya untuk berfoto satu dua tiga empat mungkin lima enam tujuh delapan untuk kelak dipilih yang terbaik tepat di bawah papan penunjuk kilometer yang terpancang membelah-pisahkan sepasang jalan yang berlawanan arah. Semacam komplek narsistik yang tidak berakhir tragis tanpa tangis oleh kematian yang menyaru pantulan wajah rupawan di air sungai tenang menghanyut-tenggelamkan seperti yang dialami Narcissus, sebentuk homoerotika dalam mitologi Yunani yang mungkin telah menjadi salah satu inspirasi Jacques Lacan dalam merancang teori cermin hasrat. Serupa efek narkotik yang entah sesaat entah bersaat-saat menjauhkan objeknya dari realitas. Paling-paling hanya menjadi materi tontonan gratis orang-orang yang mungkin mau-mau tapi malu melakukan hal serupa. Betapa seru! Betapa saru! Lebih-lebih pada kilometer 69! Saya hanya ingin sedikit bersenang-senang, mengingat saya tidak pernah suka melakukan perjalanan. Mungkinkah ketidaksukaan semacam itu hanya karena saya belum pernah melakukannya dengan orang yang tepat? Entahlah. Saat itu saya sedang tidak ingin melibatkan diri dan pikiran pada segala sesuatu yang beraroma romantisisme depresif melodramatik.

Kami pun tiba di Bandung. Tidak ada yang istimewa. Semua biasa saja. Bahkan agak memuakkan melihat orang-orang tumpah-ruah di jalanan. Kami bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Ke sana-ke mari datang-pergi untuk datang dan pergi lagi menambah putaran angka pada speedo-meter yang tidak menghasilkan hadiah langsung atau poin bonus untuk kelak ditukar dengan peranti berdaya guna atau pernak-pernik imut, melainkan memperpendek rentang usia kerja oli dan mengikis galur-galur ban yang tidak pernah beregenerasi dengan sendirinya. Mengisi perut pada jam-jam yang tidak lagi setia pada jadwal, tidak sekadar breakfast, lunch, dan dinner, melainkan juga segala macam variasi sebutan makan-antara serupa brunch, semacam pengingkaran pada keteraturan, yang sedikit-banyak menyebabkan kekacauan meskipun tidak secara langsung, sebuah keos mini pada saluran pencernaan yang sesungguhnya dirancang untuk taat order. Sebenarnya ada yang harus saya kerjakan hari itu: melanjutkan menyunting terjemahan The Dictionary of Khazars karya Milorad Pavic, sebuah novel kamus dalam 1000 kata yang saya pun tidak pernah mencoba menghitung untuk membuktikan kebenarannya meskipun ada subprogram wordcount. Hanya saja, dalam keadaan paling statis pun, saya tidak mampu melakukannya sepanjang hari itu. Tapi, biarlah. Saya selalu meyakini bahwa segala sesuatu ada masanya. Dan hari itu memang bukan masa saya untuk berkutat mengurusi orgy superdupermasal para huruf dan tanda baca.

Sejumlah tempat silih-berganti menampakkan diri di hadapan dan sekeliling saya, menawarkan diri untuk saya injak-injak tanpa meninggalkan jejak kasatmata, menyesap sekilas odor bertabir parfum yang saya semprotkan beberapa jam sebelumnya selepas mandi, memerangkap diri saya pada kaca-kaca yang bening yang buram yang gelap dan cermin-cermin yang cerlang yang kusam yang menggandakan apa-apa siapa-siapa dan mengabadikan kesementaraan, mungkin juga menebak-nebak yang sedang saling-silang menerjang menggelinjang di dalam pikiran saya.

Hanya satu tempat yang mematrikan kesan pada saya. Saya lupa namanya, karena sejatinya bukan tempat itu yang berkesan, tetapi yang ada dan terjadi di dalamnya. Saya berdiri di depan gerai yang tidak terlalu besar, menunggu para sepupu yang sibuk memilih ini-itu aneka rupa aneka warna, memerhatikan orang-orang lalu-lalang sendiri berdua beramai-ramai dalam diam senyum simpul ocehan tidak jelas ketawa-ketiwi, dan mengutak-atik ponsel yang sepanjang hari itu cukup anteng. Lalu datanglah sekelompok bocah tanggung. Saya yakin mereka masih usia sekolah seragam putih biru. Kesan pertama: mereka masing-masing membawa papan seluncur. Kesan kedua: mereka memasuki gerai lalu mulai meributkan benda-benda di dalamnya yang bagi saya cukup lebay untuk mereka; lebay harganya. Kesan ketiga: salah satunya, yang bertubuh paling kecil, keluar dari gerai lalu menjelma banci tampil sekian menit tanpa panggung berduet tidak terlalu maut meskipun cukup menghibur dengan papan seluncurnya memenuhi tantangan salah satu dari beberapa mas-mas berambut emo-look penjaga gerai itu. Tidak lama kemudian mereka pun meninggalkan gerai sambil masih asyik meributkan benda-benda yang pada saat itu telah menjadi milik mereka untuk mereka bawa pulang di dalam kantong kertas persegi memanjang dan benda-benda lain yang mungkin akan menjadi milik mereka pada kedatangan mereka berikutnya ke gerai itu. Saya yakin pada saat itu saya tersenyum menyaksikan rangkaian peristiwa itu.

Senyum itu tidak lahir dari sejenis kelegaan yang menyenangkan setelah melewati ujian penuh peluh dan kejutan di dalam rumah hantu atau film horror. Tidak pula dari semacam kemenangan yang tertunda meskipun tidak terlalu lama hingga membuat raib asa atau nyaris bunuh diri. Bahkan tidak dari kesederhanaan sebentuk mungil manis es krim cokelat atau vanilla yang melumer lembut di antara himpitan basah lidah dan langit-langit mulut. Senyum saya saat itu lebih berupa selarik metafora gubrak! yang tidak disertai tubuh terjengkang, kaki mengangkang lebar menendang ke arah langit nun jauh di atas, dan kepala terbanting tanpa ampun meskipun tidak sampai pecah berantakan berceceran ke lantai seperti pada kartun Jepang yang membuat ngakak bahkan pada saat paling genting. Sebuah antologi tragedi komedi.

Di dalam mobil yang telah kembali melaju menuju perhentian berikutnya, gambaran tingkah-polah para bocah peseluncur masih merajalela menagabuta mengharubiru di dalam pikiran saya. Lebay memang. Pembisik imajiner mulai melancarkan aksinya: Apa sih anehnya para bocah peseluncur itu? Biasa ajah kaleee…. Mereka mungkin memang biasa, tetapi saya tetap merasa ada yang janggal; untuk ukuran usia mereka, mereka lebay dalam membelanjakan uang jajan. Ataukah sesungguhnya memang demikianlah tuntutan, kalau bisa disebut begitu, kehidupan para bocah kota sekarang? Tidak ada kata lebay soal begituan. Dapat hari ini, habis hari ini. Tidak dapat hari ini, pokoknya harus dapat sebelum hari ini menjadi hari esok. Rajin menabung dan hemat pangkal kaya bukanlah jargon untuk anak-anak. Hari esok pikirin besok ajah. Yang penting gaol getoh. Yang esensial adalah menjadi eksis. Dan eksis sama dengan wearing up-to-date, so expensive and branded outfits, from head to toe, all day and night long, even when waking-up time turns sleeping-down and dreaming one. Para sepupu pun tampaknya mengamini hal itu: We are new generation! Not just Generation X! That’s so yesterday and not enough for us! We are Generation Multiply It by X! It’s our life, not yours, old man! And we are 24-hour party people! Party, party, party in every way! Your body is your temple, mosque, church, sanctuary, holy bla bla bla, whatever, but ours are our catwalk, dance-floor, shop-til-you-drop battlefield and sparkling bling-bling for the never-ending gargantuan spotlight! So join with us, or go away and live your solitude solitaire life! Amen.


About this entry