Nokturno

Nokturno

Bramantio


Waktu itu ia belum tahu banyak tentang banyak hal. Yang harus dilakukannya. Yang tidak harus dilakukannya. Meskipun begitu, ketika ibunya menasihatinya tentang satu hal, ia merasakan keanehan yang menyeruak nyata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang belum lama, ia merasakan kegelisahan yang teramat sangat. Ia tidak melakukan apa-apa selain mendengarkan nasihat ibunya. Ia tidak mengatakan apa-apa selain mengingat baik-baik nasihat ibunya. Cah ayu, dengarlah baik-baik dan simpanlah dalam ingatanmu, ibunya menatapnya lekat-lekat, Sebelum terdengar adzan maghrib, sebelum gelap malam datang sepenuhnya, tutuplah rapat-rapat jendela dan pintu kamarmu. Sejak saat itu ia selalu menutup rapat-rapat pintu dan jendela kamarnya sebelum terdengar adzan maghrib.

Satu saat ia menemukan buka tebal dengan sampul kumal di gudang rumahnya. Pada halaman pertama ia mendapati tulisan tangan indah bersambung, Untuk Respati. Respati adalah nama ibunya. Ia membuka dan membaca lembaran-lembaran berikutnya. Buku itu berisi petuah-petuah yang diwariskan turun-temurun. Ia menghabiskan satu hari penuh untuk membaca buku itu. Pada salah satu halamannya ia menemukan petuah seperti yang pernah dinasihatkan ibunya, Sebelum terdengar adzan maghrib, sebelum gelap malam datang sepenuhnya, tutuplah rapat-rapat jendela dan pintu kamarmu. Selanjutnya tertulis, Kau pasti ingin tahu alasanku berkata seperti itu, bukan? Ia merasa bersemangat karena mengira semua pertanyaannya atas nasihat ibunya akan segera mendapat jawaban. Mereka datang ketika langit tak lagi biru, ketika surya tak lagi meraja, ketika cahaya tak lagi mengada. Mereka mengembara di antara dua dunia yang menawarkan kefanaan dan kebakaan. Mereka senantiasa merasa kesepian sehingga mencari kawan untuk turut merasakan kesepian mereka. Mereka, ya, mereka orang-orang mati. Ia merasakan degup yang tidak teratur di dalam dadanya. Matahari telah mendekati cakrawala Barat. Ia meletakkan buku tebal bersampul kumal ke lantai lalu cepat-cepat ke kamarnya untuk menutup rapat-rapat jendela dan pintu kamarnya. Setelah yakin jendela dan pintu kamarnya tertutup rapat-rapat ia kembali ke buku tebal bersampul kumal. Ia melanjutkan membaca, Kau hanya bisa melihat mereka dari sudut matamu. Kadang hanya selintas asap putih atau hitam, kadang kelebat bayangan yang tak jelas wujudnya, kadang sosok nyata yang tak pernah bertahan lama dalam penglihatanmu. Ia kembali merasakan degup yang tidak teratur di dalam dadanya. Mereka tak pernah tertangkap cermin. Ia menengok cepat ke kanan-kiri. Ia menghela nafas, menenangkan diri, lalu melanjutkan membaca, Aku tidak menganjurkanmu menggunakannya. Tapi, seandainya kau sungguh-sungguh ingin melihat mereka sejelas-jelasnya, bukalah pintu dan jendela kamarmu, nyalakan sebatang lilin putih di depan cermin, lalu lantunkan tembang ini pada saat malam menyentuh pagi. Tengah wengi padhang bulan. Silir bayu rinambat bawana. Lintang peteng damar langit. Gita gesang linampah manungsa. Aku yakin kautahu artinya. Tapi, bagaimana cara melantunkannya? tanyanya kepada dirinya sendiri. Ia mencoba mencari-cari di lembaran-lembaran yang lain sambil berharap menemukan titi nadanya. Tidak ada penjelasan lebih jauh tentang tembang itu dan cara melantunkannya. Ia jengkel dan berniat menutup buku itu. Tiba-tiba ia teringat senandung ibunya pada malam-malam tertentu. Mungkin seperti itu, pikirnya. Cara melantunkan tembang itu memang seperti senandung ibunya. Hanya saja, ia tidak mengetahui bahwa ibunya tidak melantunkan tembang yang sama, tapi tembang lain yang fungsinya justru untuk menjauhkan diri dari orang-orang mati. Ia pun melanjutkan membaca, Ketika kau melihatnya lalu mendengar mereka memanggil namamu, jangan pernah menjawab panggilan itu. Tutuplah telingamu, tutuplah mulutmu.

Satu minggu kemudian ketika malam nyaris menyentuh pagi, ia terbangun dari tidurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan satu hal yang selama satu minggu terakhir selalu menghantuinya. Ia beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju almari, membuka laci terbawah, lalu mengeluarkan korek api dan sebatang lilin yang telah disiapkannya sejak satu minggu yang lalu. Ia ragu sesaat. Ia menyalakan lilin lalu meletakkan di depan cermin seukuran orang dewasa. Ia mematikan lampu kamar. Ia berjalan ke arah pintu kamarnya lalu membukanya sedikit. Ia melakukan hal yang sama pada jendela kamarnya. Ia kembali merasa ragu. Ia menghela nafas panjang lalu duduk di depan lilin dan cermin. Dengan degup kencang di dalam dada, ia mulai melantukan tembang. Satu kali, tidak terjadi apa-apa. Dua kali, ia merasakan hawa menjadi dingin. Ia melihat cermin. Ia tidak menemukan sesuatu selain bayangannya sendiri yang diterangi temaram cahaya lilin. Tiga kali, ia merasakan ada yang mengawasinya dari arah pintu. Ia melirik ke arah pintu. Ia tidak melihat apa-apa atau siapa-siapa sampai pintu terbuka seluruhnya perlahan-lahan. Sosok gelap setinggi satu meter berdiri di ambang pintu. Sosok gelap itu memanggilnya satu kali dengan suara serak tertahan. Ia cepat-cepat menutup kedua telinganya, tapi pandangannya masih ke sosok gelap itu. Ia melihat sosok gelap itu membuka mulutnya untuk memanggilnya lagi. Ia semakin mengeratkan tangannya untuk menyumbat telinganya. Ia berharap sosok gelap itu segera pergi karena ia tidak menanggapi panggilannya. Tapi, sosok itu justru bergerak mendekatinya dengan langkah pelan dan gontai. Aroma wangi sekaligus anyir menyeruak dari sosok itu. Ia ingin berpaling, tapi tidak sanggup. Setiap langkah sosok itu menimbulkan bunyi kecipak berat. Ia melihat jejak-jejak pekat yang ditinggilkan sosok itu. Itu darah, pikirnya. Air matanya mulai mengalir. Ia ingin berteriak, tapi juga tidak sanggup. Sosok gelap yang mulai terang oleh temaram cahaya lilin itu semakin dekat. Kepalanya tidak berambut, matanya melotot tidak berkelopak, hidungnya pesek dengan lubang sepasang lubang besar, bibirnya tebal, mulut besarnya berisi geligi yang tumbuh tidak beraturan dan mengeluarkan liur tanpa terkendali, perutnya buncit dengan pusar menonjol, kedua lengan kurusnya berakhir pada jemari yang panjang seolah tidak berdaging, kedua tungkai kecilnya melengkung ke sisi dalam dengan kaki melebar, tubuhnya dibebat kain kumal compang-camping asal-asalan. Sosok itu menjulurkan tangan kanannya ke arahnya. Ia menghela nafas panjang, berusaha menggerakkan tubuhnya, lalu meniup padam api lilin di depannya. Ia tidak bisa melihat apa-apa. Degup di dadanya semakin kencang. Nafasnya tidak teratur. Ia berusaha bangkit, meraba-raba dinding untuk menemukan saklar lampu. Ia berhasil menemukannya. Lampu menyala.

Malam berikutnya ia tidak bisa tidur. Ia tidak bisa tidur bukan karena memikirkan yang telah terjadi pada malam sebelumnya, tapi khawatir pada yang mungkin akan terjadi karena tidak tahu secara pasti ke mana sosok itu pergi. Ia selalu merasa ada yang sedang mengawasinya. Ia selalu merasa ada yang sedang mendekam di kolong tempat tidurnya atau di dalam lemari pakaiannya atau di mana pun di kamarnya yang tidak pernah tersentuh cahaya. Setiap saat adalah teror baginya. Di dalam pikirannya selalu berkelebat gambaran sosok itu sedang berayun-ayun di lampu gantung di langit-langit kamarnya, duduk santai di kloset sambil membaca komik koleksinya, bermain bersama boneka-boneka kesayangannya dan cekikikan sendiri, jongkok di meja belajarnya sambil mencorat-coret buku-bukunya, menari-nari asik sendiri di depan cermin, berbaring di kursi malas sambil makan keripik singkong kesukaannya dengan berisik, berlarian dan berlompatan dari satu titik ke titik yang lain di dalam kamarnya dan meninggalkan jejak darah dan liur di mana-mana. Ia pun selalu bermimpi buruk pada setiap tidur malamnya.


About this entry