Refleksi

Refleksi

Bramantio


Ia tiba di halaman kantor setengah jam sebelum jam kerja dimulai. Selalu seperti itu. Tempatnya memarkir mobil pun tidak pernah berubah sejak kali pertama ia bekerja di tempat itu lima tahun yang lalu. Ia melihat sekilas ke spion-dalam mobil untuk sekadar memastikan tidak ada yang salah pada wajah dan rambutnya. Ia melirik jok kosong di sampingnya. Ia meraba sandaran jok sambil menghela nafas panjang. Matanya beralih ke tas dan tumpukan berkas di jok belakang. Ia mengambilnya, membuka pintu mobil, lalu berjalan menuju gedung kantor setelah terlebih dulu memastikan kelima pintu mobilnya terkunci sempurna. Seulas senyum getir terbentuk di bibirnya.

Ia menyalakan komputer dan langsung on-line. Sambil menunggu inbox e-mail-nya terbuka, ia berjalan ke sudut ruangan untuk menuang segelas kopi dari coffee-maker. Ia merasakan desir di dalam dadanya. Ia membubuhkan satu sendok-teh gula dan krimer ke dalamnya sambil menekan dadanya. Ia kembali ke mejanya, memasang kacamata, lalu membaca sekilas beberapa berita dari koran yang telah tergeletak di mejanya sebelum kedatangannya. Beberapa saat kemudian ia melipat koran dan menghadap monitor komputer. Ada beberapa e-mail baru. Ia merunut satu per satu, menghapusi junk-mail, dan mengabaikan yang dianggapnya tidak terlalu penting. Ada sebuah e-mail yang membuatnya merasa limbung sesaat. Sebuah e-mail bersubjek: Ini aku, bro. Hanya ada satu orang yang memanggilnya bro.

Apa kabar?

Hah?! Apa kabar?! Pertanyaan macam apa itu?!

Ingatkah kau sudah berapa lama aku menghilang? Karena aku tidak ingat.

Kau menghilang selama… aku pun tak ingat.

Mungkin baru beberapa hari, mungkin juga sudah berbulan-bulan. Entahlah. Di sini tidak ada penunjuk waktu. Lebih tepatnya, tidak ada waktu. Hanya ada ruang. Putih. Ya, seperti itu, seperti itu.

Tahukah kau di mana aku berada? Tidak tahu ya? Aku tahu kau tidak tahu. Tetapi, maukah kau mencoba menebak?

Kau sangat keterlaluan memintaku melakukan itu! Sialan! Semua orang mengkhawatirkanmu, kau justru mengajak tebak-tebakan!

Dulu sebelum aku menghilang, pada diriku sendiri aku berjanji suatu saat akan menceritakan semuanya kepadamu. Inilah saatnya. Kau yang paling tahu yang telah kualami. Kau yang paling tahu yang kurasakan selama ini. Aku yakin itu. Aku benar-benar tidak sanggup menanggungnya meskipun aku tahu kau selalu ada untukku. Sungguh, aku tidak bermaksud meniadakanmu. Aku hanya tidak ingin membebanimu. Mungkin kau berkata aku tidak membebanimu, tetapi aku bisa melihat dan merasa kau terbebani. Ya, seperti itu, seperti itu.

Sebenarnya aku tidak ke mana-mana. Aku bisa melihatmu setiap saat aku ingin melihatmu. Kau pun sebenarnya bisa melihatku, tetapi tidak pernah menyadarinya. Kau pasti berpikir aku bercanda.

Suatu malam aku terbangun dengan peluh di sekujur tubuh. Tidak, aku tidak bermimpi buruk. Aku menyalakan lampu-meja di samping tempat tidur. Aku selalu tidur dalam keadaan gelap dan kau tahu itu. Perlu beberapa saat bagi mataku untuk menyesuaikan dengan cahaya. Aku berjalan ke arah jendela dan membukanya. Sunyi sekali di luar. Setelah peluhku mengering aku berjalan kembali ke tempat tidur. Sebelum sampai aku menangkap bayanganku di cermin. Ya, cermin setinggi orang itu. Aku pun berhenti dan menatap bayanganku sendiri. Kau pernah berkata aku pengagum diri sendiri. Selama ini aku menganggap itu omong kosong. Tetapi, malam itu lain. Malam itu kau benar. Malam itu aku jatuh cinta pada diriku sendiri. Diriku sendiri yang hanya bercelana boxer. Diriku sendiri dengan tato siluet naga di lengan kanan dan siluet phoenix di lengan kiri. Juga matahari mini di bawah pusar.

Benar-benar sinting!

Aku berjalan mendekati cermin. Cahaya lampu-meja yang datang dari sisi kanan menciptakan nuansa tersendiri atas bayanganku di cermin. Itu benar-benar luar biasa! Aku menyentuhkan ujung jemariku ke ujung jemarinya. Aku seperti Narcissus yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Sekilas aku berpikir bisa berakhir seperti Narcissus. Tetapi, cermin bukan sungai. Cermin tidak menenggelamkan. Cemin tidak membunuh.

Kau selalu seperti itu. Pernahkah kau tak berpikir tentang kematian?

Lalu, itu terjadi. Ia menarikku memasukinya. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku tidak melihat apa-apa. Di sana tidak ada apa-apa, Hanya ada putih. Aku telanjang. Aku melihat ke belakang. Hanya ada bingkai cermin. Aku bisa melihat celana boxer-ku tergeletak di lantai kamarku di sisi yang lain. Aku meraba tubuhku. Aku tidak lagi bertato.

Omong kosong!

Aku mencoba menyeberang lagi ke dunia kita. Aku berhasil. Aku menoleh dan melihat bayanganku di cermin. Tato-tatoku kembali. Aku memungut celana boxer-ku dan mengenakannya.

Sejak saat itu, aku sering bolak-balik menyeberangi bingkai cermin kamarku. Ternyata di sana ada apa-apa selain putih. Ada banyak bingkai dengan berbagai bentuk dan ukuran. Itu adalah bingkai-bingkai cermin dari dunia kita. Aku bisa melihat orang-orang. Sedang menyisir rambut, mencela diri sendiri, memuji diri sendiri, menangis dalam sendiri, bercinta, dan semuanya. Aku jadi tahu banyak hal. Hal-hal yang selama ini tidak pernah tebersit di dalam pikiranku, pikiranmu, dan pikiran semua orang. Bingkai-bingkai itu telah menunjukkan satu hal yang luar biasa padaku: orang-orang melepas topeng mereka ketika malam dan mengenakannya kembali pada waktu pagi.

Sampai pada satu titik, aku memutuskan untuk meninggalkan dunia kita dan menetap di sini. Aku menemukan kedamaian di sini, meskipun tetap tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang kuharapkan. Bagiku itu jauh lebih baik daripada tidak mendapatkan keduanya, seperti ketika aku tinggal di dunia kita. Mungkin kau menganggapku pengecut dan lari dari masalah. Aku tidak keberatan.

Ya, aku memang menganggapmu pengecut dan lari dari masalah. Maafkan aku. Tapi, setidaknya kau telah membuat pilihan. Tidak seperti aku yang hingga detik ini masih bimbang. Andai aku bisa sepertimu yang begitu bebas menafsir firman Tuhan.

Oh ya, aku berhasil menemukan bingkai cermin kamarmu. Itulah mengapa di awal e-mail aku mengatakan aku bisa melihatmu setiap saat aku ingin melihatmu.

Ooo, jadi, sekarang aku benar-benar tak punya privasi?! Ah, tapi apalah arti privasi. Kau tahu segala tentangku. Aku hanya merasa ini tak adil. Kau bisa melihatku kapan pun kau mau, tapi bagaimana denganku? Tidakkah kau berpikir aku juga merindukanmu?

Tadi malam aku melihatmu tidur dan saat itu aku berpikir untuk menceritakan semuanya kepadamu. Aku menulis e-mail ini melalui laptop di meja kerjamu. Aku tahu kau bisa saja terbangun mendengar suara keyboard terketik. Seandainya itu terjadi, aku yakin kau pasti hanya menganggapnya mimpi. Ya, seperti itu, seperti itu.

Dasar sok tahu! Aku pasti tak menganggapnya mimpi!

Sekarang kau tahu bagaimana keadaanku dan di mana aku. Jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa. Aku tidak akan kembali ke dunia kita, tetapi aku selalu ada.

Salam,

Milo.

Malamnya ia berdiri menghadap cermin kamarnya.

“Kau di sana?” katanya pada bayangannya sendiri, “Rasanya sudah sangat lama kita tak bertukar cerita. You know what? Aku sudah siapkan dua mug Milo, juga muffin bertabur kepingan coklat kesukaanmu.”

Lalu, ujung-ujung jemari itu muncul dari cermin. Sepasang lengan bertato. Kepala dengan wajah yang sangat dikenalnya. Juga senyum yang begitu diakrabinya. Pada akhirnya, ia bisa melihatnya berdiri di hadapannya.

“Apa kabar, bro?”

Ia tidak menjawab. Ia mengambil selimut dan menutupi tubuh Milo. Mereka berjalan ke balkon lalu duduk menikmati kehangatan Milo dan muffin di tengah dingin malam seusai hujan.


About this entry