Merayakan Cinta, Merayakan Kemanusiaan

Merayakan Cinta, Merayakan Kemanusiaan

Yesaya Sandang


Love is all around us. Begitulah sepenggal lirik lagu yang tenar di tahun 90-an. Rupa-rupanya cinta memang senantiasa hadir mengisi perjalanan hidup manusia. Kedalaman buaian cinta (love) dan kasih sayang (compassion) menjadikan kehidupan kaya makna. Membicarakan cinta selalu menggiurkan, ia merasuk ke dalam dua fakultas manusia sekaligus: akal dan rasa. Bahkan cinta mampu memberikan energi yang dahsyat demi utuhnya dimensi kemanusiaan. Energi inilah yang kemudian menghadirkan karya-karya kemanusiaan dalam wujud kebudayaan dan peradaban. Kita dapat menemuinya dalam indahnya puisi, gubahan komposisi musikal, dan aneka rupa artefak kesenian lainnya.

Erich Fromm, seorang psikoanalis neo-Freudian, dalam bukunya Art of Loving, bahkan mendekati dimensi cinta sebagai sebuah seni untuk dilakoni. Dengan demikian, mencintai membutuhkan pengertian akan sejatinya mencintai disertai dengan latihan. Yang kemudian menjadi pertanyaan eksistensialnya adalah: Apakan cinta itu? Bagaimana kita dapat mencintai jika cinta itu tidak dipahami? Di sinilah dapat kita temui bahwa cinta membutuhkan semacam pendasaran imperatifnya, yaitu the value of loving.

Candu Cinta

Kita hidup di tengah masyarakat yang terhimpit dan terlipat sedemikian rupa. Globalisasi dan kemajuan peradaban dalam berbagai macam bentuknya menciptakan beragam pilihan yang tidaklah mudah untuk disikapi. Akibatnya, timbul permasalahan eksistensial di dalam diri manusia: Apakah ia hendak larut dalam pilihan masal atau memilih berdasarkan cara berada dirinya sendiri yang khas? Dalam kaitannya dengan mencintai, permasalahan ini kemudian menjadi nyata ketika tindakan mencintai menjadi kabur dalam pilihan eksistensial yang terdistorsi. Cinta hanya diminati sejauh ia mampu memenuhi kebutuhan diri, semacam narsistik. Hal ini kemudian diperparah dengan masifikasi diri individu yang terjebak dalam ritus-ritus kecanduan yang menuntut pemenuhan kebutuhan diri sendiri. Maka, cinta dengan demikian menjadi candu baru dalam hidup manusia.

Giddens dalam Transformation of Intimacy menguraikan bahwa cinta bisa dan telah mengalami semacam alih pemahaman seiring perkembangan konstruksi sosiologis sebuah masyarakat yang mengidap patologi. Masyarakat pecandu merupakan salah satu bentuknya. Masyarakat model ini mengidap keterikatan pada berbagai macam produk zaman. Kecanduan bukan lagi terbatas pada hal-hal seperti alkohol dan narkoba, melainkan juga cinta. Cinta semacam ini adalah bentuk obsesi untuk menemukan seseorang untuk dicintai, yang berujung pada kebutuhan untuk kepuasan sesaat. Oleh karena itu, cinta menjadi identik dengan kekacauan pemenuhan nafsu disertai kekhawatiran yang tak berujung. Dari sini misalnya dapat kita pahami mengapa kemudian seks dimaknai sebagai perayaan akan cinta di luar komitmen permanen, karena candu cinta memang menekankan seks sebagai bentuk pemuasaan melalui manipulasi. Cinta semacam ini tentu rentan, karena ia didasarkan pada angan-angan semu serta citra akan hal-hal yang menyenangkan saja.

Dalam nomenklatur kemanusiaan, cinta model ini nyata dalam relasi antarmanusia yangsenantiasa sarat pencideraan sesama. Konsep mencintai menjadi kabur dalam ego yang terdistorsi. Di sinilah dapat kita tarik benang merahnya: dorongan untuk mengagungkan sesama manusia yang kita temui dalam dimensi cinta telah mengalamai degradasi. Merayakan cinta dan kasih sayang kemudian menjadi identik dengan sebatas pemujaan ritus Valentine’s Day lengkap dengan atribut-atribut konsumtifnya. Valentine’s Day kemudian menjadi semacam berhala baru di tengah masyarakat yang mencandu cinta. Dengan demikian, cinta lepas dari dimensi humanisnya.

Merayakan Cinta, Merayakan Kemanusiaan

Merayakan cinta tidak serta-merta hanya berkutat pada kebanalan candu belaka. Merayakan cinta membutuhkan pengertian atas kemanusiaan yang menyertainya. Mencintai merupakan laku diri yang dalam diktum Kantian berbunyi: Bertindaklah sedemikian rupa sehingga Anda selalu memperlakukan orang, apakah diri anda sendiri atau orang lain, tidak semata-mata sebagai alat, tetapi juga pada waktu yang bersamaan selalu sebagai tujuan. Inilah yang kiranya juga merupakan value of loving. Dengan demikian, mencintai bukanlah upaya untuk memenuhi kepuasan diri, melainkan adalah wujud memperlakukan sesama manusia sebagai subjek otonom yang tidak dapat diperlakukan semena-mena. Mencintai dengan tulus harus berlaku secara universal. Ini artinya, pencapaian atas satu titik value of loving merupakan sebuah pendasaran universal bagi spektrum interaksi kemanusiaan. Ketika saya dan Anda mencintai dan merayakannya, pada saat itu pula kita sedang merayakan cinta kepada sesama manusia kapan pun di mana pun.

One Love, One heart

Lets get together and feel all right

—Bob Marley, “One Love


About this entry