Hipokondria

Hipokondria

Bramantio

Kelam masih mengendap di lubuk malam. Sesaat yang sudah mereka mengubah dingin menjadi panas, kering menjadi basah, senyap menjadi riuh, dan hidup menjadi sungguh hidup. Sesaat yang telah nyawa mereka meregang tak kuasa melawan hasrat nikmat. Mereka duduk bersisian hanya bertabir selimut bersandar bantal pada kepala ranjang. Keduanya memegang segelas air dengan butiran es yang mengapung. Kipas angin besar berbaling-baling empat berputar pelan di langit-langit kamar. Peluh belum luruh sepenuhnya.

“Bahagiakah kau bersama saya?” Konyol sekali aku ini! Tentu saja dia bahagia. Ia menggoyang-goyang gelasnya hingga timbul denting es mencium beling.

“Sangat. Mengapa kau bertanya seperti itu?” Mengapa dia bertanya seperti itu? Jangan-jangan… dia akan meninggalkanku. Semoga tidak. Tapi, bagaimana jika benar?

“Entahlah. Saya merasa ini adalah kesalahan.” Ia menerawang ke sepasang jendela kaca dengan tirai senada warna dinding menjuntai di kanan-kirinya yang membingkai langit tak berbintang. Hujan sepanjang sore baru berhenti turun sesaat yang lalu menyisakan tabir tipis awan yang tak lagi berair. Ini kesalahan terbesar dalam hidupku. “Awalnya memang menyenangkan. Sangat menyenangkan. Saya merasa bebas dari kehidupan yang membosankan. Tapi, akhir-akhir ini saya dihantui perasaan bersalah.” Ia menggigit bibir bawahnya dan laki-laki itu menganggapnya semakin sensual. “Saya menyadari suami saya sebenarnya tidak seburuk itu. Dia selalu memerhatikan saya. Hanya saja, adakalanya saya merasa disisihkan oleh pasien-pasiennya.” Pasien, pasien, dan pasien sepanjang siang sampai malam. Mungkin, aku hanya istri ketiga baginya. Istri pertamanya mati dan istri keduanya pekerjaannya. Ia meletakkan gelasnya di meja kecil di sisi ranjang. Embun di tubuh gelas seketika terpatri di wajah meja berlapis kaca.

“Sebenarnya, yang kita rasakan sama.” Ia memandangnya yang merunduk memilin ujung sarung bantal sambil masih menggigit ujung bibir bawahnya. “Aku merasa jenuh dengan hidupku yang begitu-begitu saja. Berangkat kerja pagi. Menghabiskan sepanjang hari di dalam laboratorium yang lama-lama terasa seperti kuburan.” Kuburan mungkin lebih baik karena tidak mendatangkan stres. Ia menempelkan gelasnya ke pelipis kanannya. “Ketika aku sampai rumah, tidak ada kehangatan yang menyambutku. Istriku telah lelap lelah setelah seharian mengurusi ini-itu. Anakku-anakku telah mengunci diri di kamar mereka. Aku merasa kehilangan fungsi sebagai suami, ayah, atau bahkan laki-laki.” Ia mendesah melepas lelah batin lalu menghabiskan sisa airnya dengan sekali teguk, bunyi es tergerus geligi mengisi kesenyapan kamar. “Aku menemukan kehangatan yang hilang itu pada dirimu.” Ia membelai rambut perempuan itu. “Aku merasa kembali hidup. Aku bisa bercinta denganmu setiap saat aku mau. Kau luar biasa.” Di atas ranjang, di atas lantai, di atas meja, di bawah shower, di dalam bathtub, di dalam mobil. Oooh. “Hingga saat ini aku tidak habis pikir bagaimana bisa kau jatuh ke pelukan laki-laki tua itu.” Ia tersenyum sendiri.

“Pernyataan yang menarik. Kau berbicara seolah-olah sudah mengenal saya begitu lama. Seolah-olah saya adalah perempuan yang begitu baik.” Ia menatapnya dan laki-laki itu menghentikan belaiannya lalu menarik tangannya. “Mengapa kau masih saja menganggap saya seperti itu? Hubungan saya denganmu telah menunjukkan saya bukan perempuan baik, bukan istri baik. Saya hanya baik dalam urusan kelamin dan menghambur-hamburkan uang.” Ia menghela nafas. “Saya menikahinya hanya untuk menanti kematiannya. Sebagai istrinya yang sah, tanpa mengabaikan anak-anaknya, saya akan mendapat warisan.”

“Apakah kau akan melakukan hal yang sama padaku? Menungguku memintamu meninggalkan suamimu, menikah denganku, menunggu kematianku, dan mendapat hartaku?”

“Oooh! Kau salah menilai saya. Saya tidak sebodoh itu. Suami saya jauh lebih kaya daripada kau. Kau pasti menyadari hal itu, kan? Kau tidak akan meninggalkan harta warisan lebih banyak daripada suami saya. Tapi, jangan khawatir. Saya berhubungan denganmu bukan karena hartamu. Saya menyukaimu. Saya senang bercinta denganmu. Tubuhmu lebih baik daripada tubuh suami saya, utamanya yang ada di balik celanamu. Istrimu benar-benar menyia-nyiakan yang satu itu.” Ia tersenyum getir.

Mereka tak lagi berkata-kata. Mereka merenggut terang di kedua sisi ranjang. Mereka terlelap saling memunggungi hingga malam tak lagi kelam.


About this entry