Juxtaposisi

Juxtaposisi

Yesaya Sandang


Secara sederhana, juxtaposisi berarti menempatkan sesuatu secara berdampingan (side by side). Pada area seni (art) hal tersebut biasanya dilakukan dengan suatu tujuan untuk mengekspos kualitas-kualitas tertentu ataupun menciptakan efek tertentu. Khususnya ketika dua elemen secara kontras vis a vis (berhadap-hadapan).

 

 
   

http://www.artbylaura.com/New_York_Juxtaposition.jpg

 

Juxtaposisi dalam tata nama fotografi sebenarnya merupakan suatu konsep yang sering dipergunakan. Di sini juxtaposisi berarti menangkap relasi antara subjek dalam foto sehingga setiap subjek tersebut secara unik mengemban makna dan merelasikan satu dengan yang lainnya. Juxtaposisi terkadang mengambil bentuk humor satir, terkadang pedih dalam kontra-kontra yang tajam. Hanya saja pada umumnya pesannya selalu dapat ditangkap dengan jelas dan juga sangat “eye catching”.

 

 

http://www.pbase.com/pnd1/juxtaposition&page=2

 

 

Semiotika-Juxtaposisi

Semiotika berasal dari kata Yunani semeiotikos yang berarti teori tentang tanda. Sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial, semiotik memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar disebut dengan “tanda”. Dalam konteks sosial kemasyarakatan, semua yang hadir dalam kehidupan kita dilihat sebagai tanda, yakni sesuatu yang harus kita beri makna (Hoed, 2007).

Dalam kaitannya dengan dunia fotografi yang berbentuk visual dua dimensi, dimungkinkan hadirnya tanda-tanda yang menyiratkan berbagai makna yang terkandung di dalamnya. Terlebih lagi kedirian karya fotografi yang merupakan hasil rekaman menghadirkan bentuk representasi suatu objek yang kemudian menjadi materi subjek (subject matter) karyanya.

 

Dari sini kemudian jika ditilik dari sudut pandang semiotika (khususnya semiotika Umberto Eco), penjuxtaposisian dapat dimasukkan sebagai bagian dari pembentukan tanda. Pembentukan tanda ini memiliki beberapa unsur (Lechte, 1994): (1) Kerja fisik: upaya yang dilakukan untuk membuat tanda, (2) Pengenalan: Objek atau peristiwa dilihat sebagai suatu ungkapan kandungan tanda, seperti tanda, gejala, atau bukti, (3) Penampilan: Suatu objek atau tindakan menjadi contoh jenis objek atau tindakan, (4) Replika dan (5) Penemuan.

 

Dengan demikian menurut Eco, alih-alih bersifat statis dan tertutup, tanda yang terbentuk bersifat terbuka dan dinamis. Tanda kemudian tidak hanya mewakili sesuatu yang lain, tetapi juga harus ditafsirkan. Penafsiran yang berlaku disini adalah “interpretant” yang menghasilkan pengertian (perilaku, jawaban) yang tidak terbatas.

 

 
 

http://www.waterencyclopedia.com/images/wsci_01_img0097.jpg

 

Menafsir dan Merajut Makna

Adalah sesuatu yang alamiah bagi manusia untuk menandai asosiasi-asosiasi yang seakan-akan tidak alami dan mencari makna-makna di balik setiap relasi di dalamnya. Bahkan, sejatinya diri manusia terungkap ketika ia menafsirkan berbagai macam hal yang dialaminya. Kegiatan menafsirkan ini paling tidak memiliki tiga komponen pokok: (1) adanya tanda, (2) adanya penerima yang bertanya-tanya atau merasa asing terhadap tanda itu, dan (3) adanya pengantara antara kedua belah pihak. Dengan kata lain, menafsirkan adalah kegiatan untuk mencapai pemahaman, berkomunikasi serta merajut makna. Sehingga menjadi wajar jika keleluasaan pemaknaan adalah privilege dari setiap manusia.

 

Melalui pen-juxtaposisi-an kiranya tercipta suatu pemaknaan yang baru yang juga lebih luas. Ketika dua objek diperhadapkan pada satu bingkai yang sama memungkinkan terjadinya interpretasi yang lebih dari satu. Dan pada saat yang bersamaan gaya humor satire dan ironi untuk menafsirkan serta mengkritik beragam aspek didalam masyarakat juga dapat mengambil bagian ketika dijuxtaposisikan.

 

http://www.photographyblog.com/images/photo_of_the_week/11171206/Juxtaposition.jpg

 


About this entry