Resiprositas Alam dan Manusia

Resiprositas Alam dan Manusia

Yesaya Sandang

Apakah manusia lebih superior dari alam? Apakah alam beserta segala sumber dayanya adalah sesuatu yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan manusia belaka? Bagaimana sebaiknya kita manusia bersikap terhadap alam? Dewasa ini kiranya pertanyaan-pertanyaan semacam ini mendesak untuk diajukan kembali. Betapa tidak, hingga kini problem ekstensif dari relasi antara manusia dan alam kerap kali membawa sejumlah dampak yang destruktif.

Dominasi Manusia atas Alam

Manusia telah lama dianggap memiliki legitimasi yang kuat untuk menaklukan dan menguasai alam. Pandangan ini bertumpu pada suatu pandangan di mana manusia adalah pusat dari seluruh kehidupan (antroposentrisme); sebuah pandangan khas dari era modern.

Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, paradigma peradaban modern menempatkan manusia sebagai satu-satunya agen rasional yang memiliki otoritas atas seluruh alam. Dengan begitu, menguasai dan mendominasi alam dapat dibenarkan. Sejalan dengan hal tersebut, segala sesuatu yang terdapat di alam hanya akan mendapat nilai dan perhatian sejauh menunjang dan demi kepentingan manusia. Akibatnya kemudian, alam menjadi kehilangan nilai pada dirinya sendiri, ia tak lebih daripada sarana belaka bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Alam dianggap pertama-tama sebagai instrumen teknis belaka dari kebutuhan hidup manusia, baru kemudian diperhatikan sejauh ia tidak merugikan kepentingan tersebut.

Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Sampai pada satu saat ketika alam tidak dapat menolerir lagi represi, dominasi, dan eksploitasi sedemikian rupa atas dirinya, ia menumpahkan kesahnya dalam berbagai macam bentuk, yang memakan biaya kemanusiaan cukup fatal. Alam secara langsung mengoreksi dominasi manusia terhadap dirinya.

Yang terjadi di Situ Gintung dalam amatan saya merupakan salah satu contoh dari koreksi alam atas dominasi manusia yang telah mengakumulasi.

Bekerja Sama dengan Alam

Untuk keluar dari pandangan semacam itu diperlukan sebuah pemahaman yang menekankan pada relasi timbal-balik yang saling menguntungkan antara manusia dan alam. Manusia harus mampu memahami bahwa alam adalah entitas yang memiliki nilai pada dirinya sendiri. Manusia pun perlu menyadari bahwa kita harus dapat bekerja sama dengan alam alih-alih berusaha untuk terus-menerus menaklukan dan mengeksploitasinya.

Berseberangan dengan antroposentrisme, pemahaman ini berpusat pada suatu gagasan bahwa alam dan seluruh isinya mempunyai harkat dan nilai di dalam komunitas kehidupan bumi. Alam mempunyai nilai karena ada kehidupan di dalamnya.

Pemahaman ini bersumber dari sebuah kesadaran bahwa kehidupan adalah hal yang sakral. Karena itu, setiap kehidupan di muka bumi ini mempunyai nilai moral yang sama. Implikasinya kemudian, alam pun adalah subjek moral. Artinya, alam merupakan suatu entitas yang perlu dihormati, dihargai, dan jika hendak mengolah kekayaannya harus melalui suatu pendekatan kerja sama, alih-alih penaklukan ataupun dominasi.

Dengan begitu, manusia tidak lagi mengeksploitasi alam secara membabi buta hanya untuk menyakini bahwa manusia lebih superior atas dasar pertimbangan teknis ekonomis. Menurut hemat saya, lebih baik kiranya untuk mengedepankan suatu perspektif bahwa alam adalah mitra kerja manusia dalam mewujudkan kebaikan keduanya. Sebuah win-win solution bagi alam dan manusia.

Pendekatan semacam itu sebenarnya sudah dimiliki oleh kearifan lokal yang tersimpan dalam kebudayaan-kebudayaan masyarakat asli. Ini kiranya dapat dikaji dan diangkat kembali. Dan yang tak kalah pentingnya adalah mendesakan pemahaman hormat serta berkerja sama dengan alam ke dalam setiap pengambilan kebijakan  publik, perencanaan pembangunan, sampai pada tindak tanduk keseharian kita. Karena pada akhirnya ternyata kita tidak lebih superior daripada alam. Alam memiliki bahasa dan hukumnya sendiri. Dan merupakan bagian kita untuk memahami dan bekerja sama dengannya.


About this entry