Heroes dan Homoerotika

Heroes dan Homoerotika

Bramantio

Heroes tidak hanya luar biasa dalam hal struktur permukaannya: kompleksitas cerita, pengaluran yang terentang memenuhi kelalulan kekinian keakanan, sekian banyak tokoh dengan karakteristiknya masing-masing dan membentuk ensemble yang menurut saya menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah tayangan televisi. Serial ini juga istimewa dalam hal struktur dalamnya: diskusi atas penciptaan atau bolehlah disebut genesis, isu global dan tawaran solusinya dalam perspektif fantasi, dan mempertanyakan kemanusiaan. Bagaimanapun, tulisan ini tidak akan membicarakan rentetan hal tersebut, tetapi hanya seserpih dari dirinya, yaitu homoerotika.

Saya yakin, Anda para pembaca yang juga menyaksikan Heroes memahami arah tulisan ini, dan sebagian yang lain benar-benar tidak memiliki gambaran apa pun lalu saling memandang dan berseru “Maksud loh?” Itu bukan masalah. Toh itu dan ini semua tidak lebih daripada sebuah pembacaan, yang menurut Wolfgang Iser bersifat dinamis, sebuah usaha mengisi “ruang-ruang kosong” yang bisa jadi berbeda antara satu orang dengan orang lain, dan menurut Hans Robert Jauss tergantung pada pengalaman pembacaan sebelumnya dan cakrawala harapan setiap individu.

Saya menulis ini setelah menyaksikan tiga musim Heroes, sehingga saya tidak tahu ada apa pada musim keempatnya. Pada musim pertama, episode perdana dibuka dengan Peter Petrelli yang menjatuhkan diri dari atap gedung. Adegan ini bukan adegan bunuh diri, tetapi sebuah usaha pengenalan atas diri sendiri bahwa ia mampu terbang. Pada akhirnya diketahui bahwa dalam jatuhnya Peter ditangkap oleh Nathan, sang kakak yang kemampuan dasarnya memang terbang. Imaji “I will catch you when you fall/You will catch me when I fall” ini ternyata tidak berhenti pada episode perdana, tetapi berulang sepanjang musim pertama meskipun dengan cara dan kualitas yang berbeda. Bagi saya, relasi antara Peter dan Nathan tampak tidak biasa. Yah meskipun saya tidak pernah memiliki pengalaman memiliki saudara laki-laki, saya tetap melihat relasi keduanya tidak biasa. Dan puncaknya adalah episode pamungkas musim pertama, yang menurut saya menjadi salah satu adegan paling romantis dan menyentuh dalam gambar bergerak yang pernah saya saksikan, ketika Peter berkata “I love you, Nathan,” dan Nathan pun membalas “I love you, too,” lalu membawanya terbang untuk kemudian meledak di angkasa malam.

Pada musim kedua, relasi antara Peter dan Nathan yang demikian tidak lagi begitu tampak. Nuansa serupa bergeser pada Mohinder Suresh dan Matt Parkman. Hmmm, saya mendengar sayup-sayup pertanyaan, “Pada bagian mana?” Tentu saja pada adegan-adegan yang melibatkan mereka berdua dan Molly Walker, bocah perempuan yang mungkin menjadi salah satu tokoh dengan kemampuan terdahsyat pada serial ini karena mampu mengetahui lokasi siapa pun di muka bumi; bahkan Charles Xavier pun, untuk melakukan hal yang sama, masih memerlukan bantuan Cerebro. Setelah melewati sejumlah konflik pada musim pertama, Molly yang telah kehilangan orangtuanya akibat ulah Sylar, pada musim kedua berada di dalam perlindungan Mohinder dan Matt. Mereka tampak seperti sepasang ayah bagi Molly. Relasi yang demikian paling menonjol pada adegan-adegan di dalam apartemen Mohinder. Berkaitan dengan sosok orangtua berjenis kelamin sama, relasi antara Niki dan Jessica Sanders dalam menjaga Micah, “our son”, dapat dimasukkan ke slot ini. Hal inilah yang saya pikir menjadikan Heroes tidak biasa.

Meskipun tidak sekuat yang tampak pada musim pertama dan kedua, homoerotika ternyata masih hadir dalam bentuknya yang lain pada musim ketiga, kali ini melibatkan Sylar dan lagi-lagi Peter Petrelli. Terlepas dari pengaruh ilusi atas pikiran Sylar sehingga ia memahami dirinya bersaudara dengan Peter, lagi-lagi relasi persaudaraan mereka tampak tidak biasa. Adegan baku hantam antara keduanya pada episode terdahulu berubah menjadi usaha saling menyelematkan diri dari jerat para “orangtua maut”. Belum lagi adegan Sylar a.k.a. Gabriel Gray menjadi ayah yang menyiapkan makan untuk anak laki-lakinya, dan Peter mendatanginya pada saat itu; lagi, dua lelaki dan satu anak. Dan betapa janggalnya adegan seks antara Sylar dan Elle, entah mengapa.

Memang tidak ada liplock, sex scene, atau apa pun yang bersifat banal di dalam homoerotika Heroes. Semuanya tampil subtil. Dan hal-hal yang dianggap “tidak biasa” menjadi “biasa” di dalam serial ini. Pada akhirnya saya perlu membuat pengakuan bahwa saya tidak tahu apakah orang-orang di balik Heroes menyajikan semua hal yang telah saya tulis tersebut dengan sengaja atau tidak. Mungkin saja memang ada kesengajaan di situ, mengingat serial ini, diakui atau tidak, memiliki skala yang lebih besar daripada sekadar bercerita tentang manusia-manusia dengan kekuatan supra. Tetapi, bisa saja tidak ada sebersit niat pun dalam kaitannya dengan homoerotika, dan semua itu hanya tentang pembacaan.


About this entry