Kami dari….

Kami dari….

Bramantio

Sekian tahun berlalu sejak kali pertama saya menyaksikan dan tentu saja mendengar melalui layar televisi milik sendiri yang hingga kini belum pernah setipis sepasang telenan yang saling merapat dan lebih besar daripada diagonal dua puluh satu inci penuturan singkat dari sekelompok orang negeri sendiri yang menyatukan diri mereka dalam sebentuk nama. Ya, orang negeri sendiri, karena saya hanya menjumpai hal yang berikut ini pada mereka, bukan pada orang negeri tetangga atau seberang. Mereka boleh saja menganggap diri mereka keren atau segala bentuk sinonimnya, dan memang demikianlah adanya mereka di mata sebagian besar orang yang menahbiskan diri sebagai penggemar, fans, groupies, atau apalah sebutannya. Hanya saja, bagi saya, segala reputasi itu menjadi tidak lagi terlalu gemilang ketika… Ok, ketika bahkan sebelum saya mendengar musikalitas mereka. Sebuah kalimat, tiga kata, dan runtuhlah imaji atas idolisasi: “Kami dari X”. Anggaplah X adalah nama grup band, dan hanya butuh satu kalimat sederhana untuk memperkenalkan diri. Hanya saja, bahkan untuk berkalimat sesederhana itu pun tidak semua orang negeri sendiri sanggup melakukannya dengan benar. “Kami dari X” sesungguhnya tidak tepat digunakan untuk menyatakan diri. Ada “dari” di situ, sehingga kalimat itu, bahkan dalam tataran struktur, justru mengacu pada pernyataan atas “asal” atau “tempat yang mereka datangi sebelumnya”, seperti “Kami dari X-Mansion”. Jadi, jika mereka tetap keras kepala berseru “Kami dari X,” yang pada akhirnya tampak adalah “X adalah asal kami,” atau “X baru kami kunjungi.” Bukankah untuk memperkenalkan diri, mereka seharusnya cukup menyatakan “Kami X”? Dan hal itulah yang saya jumpai pada orang non-negeri sendiri, “We are X.


About this entry