Safari

Safari
Safari

Mari berSAFARI

Yesaya Sandang

Kata kunci: satire, komedi, impresi, memanusiakan binatang, juxtaposisi, imajinasi, visual

Apa sekiranya yang terbesit pertama kali dalam benak anda ketika mendengar kata “safari”. Tentu saja jawabannya bisa sangat beragam. Hanya saja pada umumnya sebagian kita sepakat bahwa kata safari dapat diasosiasikan dengan binatang. Mungkin tidak banyak dari kita yang tahu kalau kata safari berasal dari bahasa Swahili yang berarti perjalanan jauh. Kemudian dalam perkembangannya kata ini mengacu kepada kegiatan perjalanan para turis di Afrika, yang biasanya disertai dengan aktivitas berburu. Dewasa ini bersafari tidak lagi identik dengan aktivitas perburuan, tetapi juga untuk melakukan pengamatan secara seksama serta mengambil foto-foto binatang dan kehidupan lainnya di alam bebas. Disini, di Indonesia, kita dapat menemukan Taman Safari, yaitu semacam alam bebas “tiruan” yang menawarkan wisata safari, mungkin anda pernah mengunjunginya.

Dalam keseharian sebagian kita, binatang bisa jadi dapat ditemui kapan saja dan dimana saja. Ambil contoh nyamuk dan kecoa, mereka ada sekitar kita (konon kecoa adalah binatang yang dapat bertahan hidup ketika dunia mengalami bencana nuklir). Hanya saja binatang-binatang ini kerap kali dianggap sebagai “pengganggu” sehingga harus dibasmi dengan berbagai macam cara. Tetapi untuk barang sejenak pernahkah kita berpikir sebaliknya, bahwasannya bukankah kita yang mengganggu mereka? Bagaimana pula dengan binatang-bintang lain yang jarang atau bahkan tidak pernah kita temui dalam keseharian kita. Pernahkah kita membayangkan jika mereka ada bersama-sama dengan kita. Bagaimana sekiranya jika para binatang yang ada di alam bebas, yang jauh dari kerumunan manusia menyatu dengan kita disini, saat ini. Bagaimana kita memberi respon ketika para binatang turut hadir dan berinteraksi bersama kita.

Kesan semacam inilah yang mula-mula tertangkap secara jenaka sekaligus jenial melalui rentetan karya Agan Harahap dalam satu judul besar: SAFARI. Agan menyajikan kehadapan kita melalui olah imaginya, fragmen-fragmen kehidupan sehari-hari yang telah dikonstruksi ulang dengan menyertakan binatang didalamnya. Bisa jadi Agan hendak menyusup masuk kedalam berbagai kemungkinan-kemungkinan baru yang tidak terpikirkan, tak terbayangkan atau bahkan tak terrepresentasikan.

Hal ini dapat ditelisik dari penempatan binatang-binatang yang ada dalam karyanya secara hadap-berhadapan dengan kita manusia dalam beragam aktivitas sehari-hari. Mungkin tak pernah terbayangkan dalam benak kita bagaimana jika atasan kita di kantor adalah sesosok komodo atau kelelawar yang tengah mengawasi kinerja kita. Lantas apa pula yang terbesit dalam benak anda jika ada burung unta yang ikut bersama-sama dalam antrian kasir di suatu supermarket. Apapun reaksi kita, Agan berhasil memproduksi sebuah imagi yang memperluas cakrawala imagi kita dengan tafsirnya masing-masing.

Inilah yang oleh Umberto Eco dikatakan sebagai produksi tanda. Ketika seseorang menuturkan kata (atau image), maka ia terlibat dalam sebuah proses produksi tanda. Ia memperkerjakan tanda-tanda (memilih, menyeleksi, menata, dan mengkombinasikan dengan cara dan aturan main tertentu). Dan ketika orang lain ‘membaca’ kata (atau image) tersebut, maka ia menggunakan tenaga kerja interpretasi, dengan cara mengerahkan segala kemampuan baca dan kode yang dipahaminya, dalam rangka memahami kata (atau image) tersebut.

Apa yang dilakukan Agan dapat dijelaskan juga dengan konsep memanusiakan binatang. Memanusiakan binatang disini berbeda dengan fabel (cerita-cerita yang menempatkan binatang sebagai tokoh utamanya dan memiliki pesan-pesan moral melalui pengidentikan karakter kehewanannya dengan karakter manusia). Para binatang yang hadir dalam Safari tidak diasosiasikan dengan karakter tertentu. Mereka hadir begitu saja bersanding dengan kita dan melakukan apa yang kita lakukan. Tengok saja misalnya sosok dua kijang yang berada dalam mobil, kijang-kijang ini seakan-akan hendak bergaya sembari menjulurkan kepalanya melihat keluar. Bisa jadi mereka menatap dengan cuek carut marutnya kota metropolitan.

Konsepsi memanusiakan binatang disini juga sarat dengan nuansa satire. Agan nampaknya hendak memparodikan pelbagai area kehidupan kita dengan kontras penempatan binatang didalamnya. Melalui sesosok ayam yang ada di depan panggung, Agan memperlihatkan pada kita bahwa binatangpun ingin eksis dan tampil layaknya rockstar yang sehari-hari berseliweran di layar kaca. Disisi yang lain babi yang “baku naik” di toilet menggelitik kita betapa hal semacam itu ternyata -malu-malu tapi mau- harus kita akui merupakan kelumrahan dalam realitas kehidupan kita. Disini Agan mencoba menafsir ulang olok-olok tentang manusia sebagai animale rational (bahwa manusiapun masih memiliki insting yang sama dengan binatang hanya pada manusia terdapat rasio) dengan menempatkan binatang-binatang tersebut sejajar dengan (tindak-tanduk) manusia.

Dewasa ini melalui medium digital, imaginasi mendapat ruang baru untuk bereksplorasi dan Agan tahu persis bagaimana memanfaatkan medium tersebut. Disinilah sebenarnya kreativitas konsep dan eksplorasi imaginasi menjadi penting. Apakah ini suatu babakan baru dari seni visual? Apapun jawabnya tetap melalui medium semacam ini terbuka kemungkinan olah imagi dalam bentuk visual yang tak terbatas. Pada akhirnya walau Safari meninggalkan kita dengan beragam kesan,tafsir dan rujukan ke dalam realitas. Relevan kiranya jika kita harus bertanya kembali; siapakah sesungguhnya kita manusia ini? Sebuah pertanyaan sederhana yang tak pernah kehilangan gaungnya dari masa ke masa. Sebuah pertanyaan yang membutuhkan perjalanan panjang. Selamat berSAFARI dan jangan lupa kembali. Yuk… mari….


About this entry