Agresi Destruktif

Agresi Destruktif, Si Kancil, dan Si Bebek

Bramantio

Di dalam The Anatomy of Human Destructiveness, Erich Fromm menguraikan seluk-beluk agresivitas. Secara garis besar, pada diri manusia terdapat dua bentuk agresi. Pertama, yang juga ada pada hewan, yaitu dorongan untuk melawan dan melarikan diri ketika eksistensinya terancam, yang telah terprogram secara genetik; dikenal sebagai agresi defensif dan bertujuan untuk mempertahankan hidup, bersifat biologis, dan hanya muncul ketika memang ada ancaman. Kedua, disebut agresi “jahat”, yaitu kekejaman dan kedestruktifan, adalah ciri khas manusia, yang bahkan tidak ditemukan pada mamalia lain; agresi ini tidak memiliki tujuan, dan muncul karena dorongan nafsu belaka.

Agresi destruktif tentu tidak serta-merta berkaitan dengan isu-isu makro seperti penjajahan dan peperangan, baik dalam skala kecil maupun besar, baik bersifat publik maupun domestik. Naluri penghancuran tidak pula selalu sama dengan segala bentuk adegan baku hantam hingga babak belur bersimbah darah segar yang kelak mengental oleh fibrinogen meruakkan pekat anyir yang lebih memuakkan daripada amis pasar ikan dengan usus terburai dan otak berceceran. Bukan pula tentang amuk massa sekadar menuruti nafsu tanpa tahu yang sejatinya dibutuhkan, atau setidaknya diinginkan, yang saya yakin telah banyak menjadi bahan pembicaraan di sana-sini. Aroma agresi jahat atau naluri penghancuran, disadari atau tidak, sesungguhnya telah tercium pada jarak yang seolah tiada antara ia dan kita, sejak masa-masa yang telah hingga mungkin ke masa-masa yang akan.

Tradisi lisan seperti dongeng dan lagu-lagu yang menyertainya yang lahir entah dari siapa, diakui atau tidak, menjadi salah satu hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan masa kanak-kanak. Yang sedikit-banyak membuat saya heran hingga tersenyum miris dan sedikit menggeleng-geleng sambil berpikir “Apa yang ada di dalam pikiran pengarangnya?” adalah kalimat-kalimat yang terselip di sana-sini di dalam lagu-dongeng tersebut. Berikut ini salah satunya: Si kancil anak nakal/Suka mencuri ketimun/Ayo lekas dikurung/Jangan diberi ampun. Lagu itu merupakan bentuk paling ringkas dari dongeng si Kancil yang memiliki entah berapa banyak versi dan varian. Larik pertama memberi gambaran awal tentang si Kancil. Larik kedua menjadi semacam keterangan tentang kenakalan si Kancil; ada logika yang berlaku di sini, si Kancil mendapat sebutan anak nakal karena ia suka mencuri ketimun, atau bisa juga sebaliknya, kenakalan si kancil ditegaskan dengan “suka mencuri ketimun.” Hanya saja, larik ketiga dan keempat memperlihatkan sesuatu yang berlebihan. Mula-mula “dikurung” dengan “lekas” yang dilakukan bersama-sama tentu saja karena ada seruan “ayo!” Jadi, si Kancil, yang notabene masih tergolong usia anak, sudah sepantasnya digerebek lalu dikurung. Yah baiklah, katakanlah si Kancil pada akhirnya dikurung. Lalu, dilanjutkan dengan “jangan diberi ampun.” Saya pikir ada “loncatan” antara larik ketiga dan keempat. Dengan adanya rangkaian “anak”, “nakal”, dan “suka mencuri”, bukankah lebih tepat jika si anak nakal cukup dinasihati, diawasi, dan dihukum secukupnya supaya jera dan tidak mengulang kenakalan yang sama? Jika pun dikurung, tentu itu untuk sementara waktu. Hanya saja, frasa “jangan diberi ampun” sebagai penutup rangkaian peristiwa tiga larik itu justru menghadirkan nuansa penghukuman yang tiada tara seolah ada kejahatan yang teramat sangat, bukan sekadar kenakalan anak, dan tidak layak memperoleh maaf atau pengampunan. Saya pun jadi membayangkan varian lain peristiwa empat larik itu: kata “dikurung” bisa saja diganti “dibunuh” atau “dibantai”, tentu saja karena kedua kata tersebut lebih sesuai dengan “jangan diberi ampun”. Betapa sadis manusia yang dengan bersemangat berseru “ayo!” mengurung membunuh membantai si Kancil bocah yang saya yakin bahkan jauh lebih imut daripada si rusa bocah bernama Bambi. Segala bentuk dongeng dan lagu yang ditujukan kepada anak-anak tentu memiliki fungsi sosial dalam bentuk pesan moral atau pembelajaran. Lalu, pesan moral atau pembelajaran apa di balik kisah si Kancil? Mungkinkah telah, sedang, atau kelak ada orangtua yang seusai menyanyikan lagu-dongeng si Kancil untuk anaknya dan menjelaskan ini-itu, berkata kepada anaknya, “Nak, jangan nakal ya. Kamu tahu kan yang akan terjadi pada anak-anak nakal?” Si anak mengangguk mantap, “Ia akan dikurung lalu dibantai tanpa ampun.” Jeda sesaat. “Ayah, bolehkah aku berbuat seperti itu kepada teman-temanku yang nakal?”

Tragedi si Kancil ternyata bukan satu-satunya agresivitas manusia yang menyaru permainan halus lirik dan nada untuk anak-anak sebagai konsumen terbanyak. Lagu berikut ini juga menganut aliran yang sama: Potong bebek angsa/Masak di kuali/Nona minta dansa/Dansa empat kali/Serong ke kiri/Serong ke kanan/La la la la la la la la la la la. Larik pembuka lagu itu sudah menyatakan secara lantang tentang agresivitas. Saya pikir larik itu benar-benar keterlaluan. Ada kata “potong”, lalu diikuti oleh yang bukan benda mati atau makhluk nabati; seandainya diikuti oleh dua jenis yang saya sebut belakangan, efeknya tentu tidak semerusak dengan diikuti “bebek.” Dengan menjadikan binatang sebagai diksi, “potong” di situ tentu saja tidak sekadar memisahkan tubuh utama dengan bagian-bagian lain yang tidak mendatangkan rasa sakit seperti kuku atau rambut, tetapi langsung mengacu pada tindakan fatalistik berupa mutilasi; bagi saya, “potong” di situ pertama-tama melahirkan citra adegan pemotongan leher, bukan bagian tubuh yang lain. Meskipun objeknya bebek, potong leher ya tetap saja potong leher. Lebih parah lagi, ternyata bebek tidak cukup, karena angsa pun menjadi korban. Dan bukankah nuansa “keleheran” sebagai sasaran potong semakin terasa kuat dengan menghadirkan angsa sebagai binatang pemilik leher jenjang? Belum lagi aura keindahan yang ditampilkan angsa, yang tentunya jauh lebih berkilau daripada katakanlah jerapah yang sama-sama berleher panjang. Saya pun membayangkan Donald Bebek terpenggal, diikuti oleh terpancungnya para balerina yang membawakan Swan Lake. Kesadisan pun berlanjut pada adegan “masak di kuali.” Kuali tentu bukan panci, dan menghadirkan kengerian tersendiri karena bisa saja berukuran sebesar-besarnya dan berada di atas pembakaran dengan api berkobar yang tentu jauh lebih dahsyat daripada sekadar kompor dapur. Dua larik adegan sarat kematian itu ternyata tidak disusul adegan makan-makan, sehingga bebek dan angsa potong itu pun mati sia-sia. “Nona” ternyata tidak suka daging bebek dan angsa. Ia pun lebih memilih dansa. Tidak hanya satu kali, tetapi empat kali. Kata “serong” bagi saya kok juga menghadirkan asosiasi yang tidak menyenangkan. Perayaan atas kematian sia-sia bebek dan angsa pun semakin lengkap dengan adegan penutup “La la la la la la la la la la la” yang bisa berupa apa pun, yang penting bergembira ria.

Dan betapa agresi jahat adalah serupa benda yang tidak hanya dimiliki oleh manusia-manusia yang telah dewasa, tetapi telah mulai menjalar-tancapkan akar-akarnya pada tubuh-tubuh yang masih begitu muda. Melalui segala keriangan bebas lepas tanpa beban. Meniti kata-kata sederhana yang dianggap tidak lebih daripada rangkaian tanda bahasa penghibur dan pelengkap pergaulan.

“Ah, itu kan cuma lagu. Jangan diambil pusing. Tak usah dimasukkan hati,” kata entah siapa di luar sana. 


About this entry