Sajak-sajak G. M.

Catatan Pendek dalam Kemandekan:

Dualitas Sajak-sajak Goenawan Mohamad

Bramantio

Apa-apa datang dan pergi. Apa-apa silih berganti. Dan tak satu pun mampu meninggalkan jejak dalam tanda dan bahasa. Bahkan hanya tiga kalimat itu yang bisa saya ketik untuk sekadar bercerita ulang tentang akal yang ternyata juga menjalani hiatus seperti serial televisi dan para pekerjanya. Mungkin juga serupa hibernasi yang tidak dikarenakan menanti perubahan musim. Karena itulah saya menyebut tulisan tentang sajak-sajak Goenawan Mohamad ini sebagai catatan pendek dalam kemandekan.

Membaca sajak-sajak G. M. adalah serupa membaca kemenduaan. Kemenduaan di sini tentu saja tidak dalam pengertian plin-plan atau apa pun yang berhubungan makna dengan keplin-planan. Kemenduaan di sini berkaitan dengan pemahaman yang diperoleh pembaca, dalam hal ini saya, ketika membacanya. Setiap sajak atau karya sastra pada umumnya memang senantiasa membuka tafsir yang tidak hanya satu. Hanya saja, yang muncul pada sajak-sajak G. M. bukan kondisi yang sekadar demikian, karena ia telah mendua bahkan sebelum ditafsirkan lebih jauh sebagai ini dan itu. Hal perdana yang tampak adalah pemakaian bahasa yang cenderung sederhana, yang tentu saja karena mendua, sekaligus rumit. Kerumitan di sini tidak disebabkan oleh diksi yang arkhaik atau neko-neko, tetapi lebih dikarenakan bentukan-bentukan yang dijalin oleh kata-kata sederhana tadi; saya tidak bisa menyebutnya sebagai sekadar metafora, karena yang muncul justru serupa sesuatu yang surealis dan kaya imaji, baik imaji visual maupun audio.

Kemenduaan, atau bolehlah disebut sebagai dualitas, sajak-sajak G. M. juga terasa pada aspek isi secara keseluruhan. Di satu sisi ia dapat dibaca sebagai pengalaman personal, individual, subtil, dan sunyi sepi sendiri, di sisi lain ia pun dapat dipahami sebagai peristiwa-peristiwa publik, hiruk-pikuk, banal, dan kontekstual.

Bisa dimengerti apabila ada orang-orang yang menyatakan bahwa sajak-sajak G. M. adalah sajak-sajak sulit; seperti yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono dalam esai pengiring buku Sajak-sajak Lengkap 1961—2001. Saya pikir hal yang demikian terjadi karena para pembaca pada umumnya ketika membaca sajak-sajak G. M., atau karya sastra lain, memiliki kecenderungan untuk menabrakkan yang dibacanya dengan yang ada di dalam pikirannya. Harus diakui, sajak-sajak G. M. adalah sebuah bentuk yang kaya, karena ia memiliki rentang yang luas dalam menampung apa-apa dan siapa-siapa; bolehlah saya katakan di sini bahwa pengalaman membaca sajak-sajak G. M. memiliki nuansa yang sama dengan pengalaman membaca “Catatan Pinggir”, ia bisa berisi dan bercerita tentang siapa atau apa saja, tentu saja dengan versi yang lebih padat. Karena kekayaan itulah, sajak-sajak G. M. memiliki daya persuasi kepada pembacanya untuk melakukan “kerja intertekstual”, menggiring sajak-sajak tersebut mendekati hal-hal “di luar sana” yang menjadi “latar penciptaannya”.

Tidak ada salahnya berlaku demikian, karena hal tersebut memang pada akhirnya dapat memperdalam pemahaman atas sajak-sajak tersebut. Hanya saja, apabila hal itu dilakukan secara otomatis dan terus-menerus setiap berhadapan dengan sajak-sajak G. M., pembaca justru akan mengalami kemungkinan “kehilangan” pijakan pada sajak, bingung, dan tersesat. Bagi saya, yang utama dalam membaca sajak-sajak G. M. adalah membacanya sebagai sesuatu yang utuh, sesuatu yang penuh pada dirinya sendiri: nikmati saja kata-kata sederhana yang berkelindan membentuk bangunan yang lebih rumit untuk kemudian menghasilkan semesta raya pemikiran, perenungan, imaji, dan rasa.


About this entry