Enigma

Enigma

Bramantio

Awalnya adalah kata

Lalu kata menjelma kata-kata

Yang terangkai terucap tertulis

Dalam lembaran hamparan semesta

Dalam waktu yang telah yang sedang yang akan

Maka, bacalah

Maknailah semaumu semampumu

Untuk menemukan cahaya

Untuk meraih terang yang mungkin selamanya

Ia memacu mobilnya di abu-abu pucat yang tak pernah lengang tak pernah tenang. Matahari masih terik meraja di langit keruh mengundang peluh. Putih dan abu-abu masih setia pada jasadnya yang belum genap tujuh belas tahun. Satu kali ia menyeka peluh yang enggan mengalah pada udara freon. Beberapa kali mobilnya terhenti merah yang menambah gerah. Jarum panjang nyaris menamatkan satu putaran penuh. Ia tak berniat kembali ke sarang yang senantiasa menyimpan nyaman. Ia terus melaju bersama mobilnya hingga tiba di batas dua dunia.

Hamparan pasir putih pantai menantang biru air teluk. Ia melepas sepatu dan kaos kakinya lalu berjalan di pasir yang menyatu air. Ia merunduk mengayuh air dengan kedua tangannya. Rumah kerang spiral putih berduri bergerirgi yang tak lagi berpenghuni menarik matanya. Ia memungutnya, mengibas-ngibaskannya, lalu mendekatkannya ke telinga kiri. Ia memejamkan mata dan mendengar desah resah alam yang memendam dendam. Ia tertegun sesaat lalu membuka mata. Ia baru sadar tak melihat yang dilihatnya pada masa-masa yang telah. Selama beberapa saat ia mencari-cari untuk meyakinkan diri. Mereka sungguh-sungguh tiada. Ia tak puas lalu menyusuri pantai sampai kedua kakinya menolak patuh. Aneh, pikirnya. Mungkinkah aku yang salah? tanyanya kepada diri sendiri.

Ia duduk merenung di jendela kamarnya. Langit bertabur bintang tak berbulan memberi teduh bagi yang gelisah. Cahaya yang datang dari masa jutaan tahun yang lalu, pikirnya. Udara dingin tak berangin mengambang di sela-sela apa-apa dan siapa-siapa. Pikirannya disesaki pertanyaan tentang yang tak dilihatnya di pantai teluk. Pantai teluk menjadi salah satu tempat istimewa baginya yang didatanginya setiap tiada lain yang dilakukannya. Pada masa-masa yang telah pada musim seperti saat ini ia selalu melihat ikan-ikan-merah-menyala singgah di pantai teluk itu untuk mencari kehangatan dan bertelur. Ia tak pernah jenuh menikmati tarian air makhluk berinsang bersisik bersirip itu. Siang hari ini ia tak melihat mereka satu jua. Pustaka-pustaka lama dan baru memenuhi permukaan permadani kamarnya. Berjam-jam yang lalu ia mencoba mencari menemukan fakta yang kuasa menjawab keraguannya atas migrasi ikan-ikan-merah-menyala. Faktanya: ikan-ikan-merah-menyala memang bermigrasi ke pantai teluk itu pada musim seperti saat ini. Apa yang terjadi pada mereka? tanyanya kepada diri sendiri.

Keesokan hari selepas jam sekolah ia menjelajahi belantara pustaka perpustakaan. Ia kembali mencoba mencari menemukan fakta yang kuasa menjawab keraguannya atas migrasi ikan-ikan-merah-menyala. Jawaban yang diperolehnya selalu sama. Ia juga mengembara di jaringan dunia maya untuk mencari terang. Sama saja. Jadi, benar ada yang tak beres, pikirnya.

Hari-hari berikutnya diisinya dengan memenuhi lembaran-lembaran putih dengan segala yang datang dari relung pikirannya. Ia mencipta latar belakang serupa layar kuat menjaring angin dan pilar tangguh menopang raga. Ia merumuskan masalah melalui sebuah pertanyaan tunggal: mengapa ikan-ikan-merah-menyala tak singgah di pantai teluk? Ia menetapkan satu tujuan yang akan ia bidik dengan panahnya kelak: untuk mengetahui penyebab ikan-ikan-merah-menyala tak singgah di pantai teluk. Ia meramal yang terjadi ketika panah telah sampai pada sasaran: memberi angin segar pada sejarah pemikiran dan kehidupan umat manusia. Ia membangun landasan pacu bermateri pustaka-pustaka lama dan baru: klasifikasi ikan-merah-menyala, habitat ikan-merah-menyala, reproduksi ikan-merah-menyala, migrasi ikan-merah-menyala, kandungan gizi ikan-merah-menyala, topografi teluk, dan segala sesuatu tentang ikan-merah-menyala yang pernah dituturkan manusia-manusia sebelum ia. Ia menggelar hipotesis: ikan-ikan-merah-menyala tak singgah di pantai teluk karena suhu abnormal dan air abnormal. Ia merancang panah metode. Lalu….

Ia meluncur dengan perahu yang tak lagi tradisional dan nelayan renta empunya. Ia menjatuhkan pengukur suhu beberapa kali ke air teluk yang selalu biru. Ia membandingkan hasilnya dengan suhu pada masa-masa yang telah pada musim seperti saat ini. Hipotesis suhu abnormal langsung tumbang. Ikan-ikan-merah-menyala tak singgah di pantai teluk bukan karena suhu abnormal. Ia meneruskan langkahnya dipandu hipotesis air abnormal. Ia mengambil sampel air di beberapa titik lalu memutuskan kembali ke darat. Sesaat setelah perahu berputar mengarah pantai ia berubah pikiran dan ingin mengambil sampel air di titik yang jauh meninggalkan teluk. Nelayan renta memenuhi keinginannya. Dalam perjalanan mereka berhenti satu kali di pintu teluk dan ia mengambil sampel. Tak berselang lama mereka mencapai titik yang jauh meninggalkan teluk. Ia melihat ikan-merah-menyala satu. Lalu satu lagi beberapa detik kemudian. Semakin lama semakin banyak. Hanya saja, mereka tak lagi menarikan tarian air karena mereka hanya bisa terkapar timbul tenggelam dirundung ombak sendu. Ia mengambil gambar beberapa kali serta sampel air dan ikan-ikan-merah-menyala.

Dengan segala keterbatasannya ia mengolah data yang tak satu dua. Sampel air pantai teluk: normal. Sampel air teluk: normal. Sampel air pintu teluk: abnormal. Sampel air di titik yang jauh meninggalkan teluk: sungguh abnormal. Sampel ikan-merah-menyala: sungguh abnormal. Panahnya telah mencapai pusat sasaran. Ia telah menemukan jawaban. Tapi, ia tak puas dan ingin menggeser panahnya hingga mencapai pusat sasaran secara absolut.

Ia kembali ke titik yang jauh meninggalkan teluk bersama nelayan renta dan perahunya. Penantian selalu lama, meskipun hanya dalam hitungan detik. Ia dan nelayan renta melihat kapal besar serupa raksasa hitam menurunkan jangkar dan membebaskan hantu-hantu-mati-pemangsa-yang-hidup ke air laut. Jadi, ini penyebabnya, desahnya. Ia mengambil gambar kapal berhantu.

Di lembaran putih terakhir ia menulis: ikan-ikan-merah-menyala tak singgah di pantai teluk bukan karena mereka tak singgah atau mengubah jalur migrasi. Mereka terbunuh sebelum mencapai pantai oleh hantu-hantu-mati-pemangsa-yang-hidup di titik yang jauh meninggalkan teluk.

Sebuah kitab-baru telah lahir dari mata yang jeli menafsir alam, dari jerih yang tak kenal payah, dari otak yang tahan menunda rehat. Sebuah kitab baru yang mengaramkan kapal-kapal berhantu di titik yang jauh meninggalkan teluk pada masa-masa yang akan. Ia telah menghembuskan angin segar memenuhi ramalannya sendiri.


About this entry