Superhistory

Superhistory.

Yesaya Sandang

Keyword: Juxtapose, History, Satire, Parody, War, Superhero

Sejarah, konon ditulis oleh pihak yang menang. Oleh karenanya sejarah bisa jadi sepihak bahkan semena-mena. Jean Francois Lyotard (1924-1998) salah seorang pemikir postmodern mencoba keluar dari pandang tersebut dengan memandang sejarah sebagai kesatuan yang saling tergantung, atau sebagai serangkaian peristiwa aksidental yang mungkin saja memiliki konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan. Artinya, sejarah disini merupakan suatu jalinan cerita-cerita yang seharusnya diproduksi oleh banyak pihak, bukan pihak yang menang saja. Lebih jauh ia berpendapat bahwa kita tidak dapat lagi mengandalkan narasi besar ataupun cerita-cerita yang bertujuan untuk mengungkapkan kedalaman makna dan tujuan dari sejarah dunia secara sepihak.  Dalam masyarakat dan budaya kontemporer, masyarakat post-industri, dan budaya postmodern, pertanyaan legitimasi pengetahuan (sejarah) dirumuskan dengan model yang berbeda. Narasi besar (grand narative) telah kehilangan kredibilitasnya, apapun model unifikasi yang digunakannya (Lyotard, 1984).

Salah satu narasi yang mengiringi sejarah umat manusia adalah perang. Perang adalah antitesa dari perdamaian. Perdamaian hanyalah perang yang tertunda, demikian ujar Machiavelli. Perang selalu sarat dengan perayaan akan kematian, ia selalu meminta korban tanpa pandang bulu. Tak ada yang baik dari perang karena ia hanya hanya berujung pada kehancuran. Namun toh perang selalu hadir menghiasai perjalanan sejarah umat manusia. Disini fotografi hadir sebagai salah satu media yang mengabadikan momen-momen dalam peperangan. Secara monumental, Robert Capa adalah salah satu sosok yang menjadikan fotografi sebagai penanda perang. Dalam esainya yang berjudul The Great War Photographs: Constructing Myths of History and Photojournalism, Michael Griffin mengutarakan bahwa gambaran dalam salah satu foto Robert Capa yang terkenal dengan judul The Death of Loyalist Militiaman sebagai ”non-specific encapsulation of an idea that transcends the moment or specific instance of the subject of the photo”. Dengan kata lain foto tersebut mampu keluar melampaui dari momen atau kejadian spesifik dari subjek foto itu sendiri. Menyaksikan foto ini membawa kita pada keheningan sesaat karena terhentak oleh sebuah gambaran kematian yang seketika.

June 5 evening, the men of Company E, 2502nd PIR (U.S. 101st Airborne Division) surround Batman

Namun, dewasa ini liputan perang bukan hanya soal foto. Liputan media lainnya yang kian canggih mampu menghadirkan nuansa perang hingga ke ruang keluarga kita dalam bentuk yang terdistorsi. Perang kemudian hanya merupakan jalinan cerita tak bertepi, menggugah namun sekaligus hampa. Bagi generasi muda dewasa ini perang bahkan telah menjadi objek permainan menarik. Tengok saja permainan komputer semisal Call of Duty, Medal of Honor, dan masih banyak lainnnya. Narasi perang dijadikan media untuk meleburkan diri dalam suasana bermain-main. Unsur sejarah yang dikemas dalam permainan tersebut tak dapat dipungkiri adalah sejarah versi pemenang. Asumsinya,  mana ada orang yang mau main jika ia jadi yang kalah. Menang dengan embel-embel kepahlawanan adalah misi sakral yang harus dicapai.

Dalam peperangan selalu dikisahkan tentang tokoh-tokoh yang memiliki peranan penting. Tokoh tersebut diberi kriteria pahlawan, entah karena keberaniannya atau keteguhan dalam mengemban tugas. Dalam kosakata umumnya, pahlawan memang orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, seorang pejuang yang gagah berani. Dari sana kata kepahlawanan dijelaskan sebagai perihal sifat pahlawan (seperti; keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan).

Dalam ruang imanjinasi yang tidak mengandalkan narasi besar, cara pandang terhadap sejarah bisa saja mengalami pergeseran. Termasuk cara pandang terhadap pahlawan. Agan disini bisa jadi terinpirasi dari model-model petualangan imajiner yang lekat dengan kehidupan generasinya. Sejarah yang disikapi dengan santai. Dan dalam kesantaiannya tersebut, Agan kemudian mengolah tangkapan sejarah dalam fotografi kedalam ruang imajinasinya dengan gaya satire yang unik. Ia menggeser pemaknaan fotografi perang kedalam versinya.

Soldats américains se livrant à des combats de rue, avenue de Paris, Cherbourg-Normandy 1944

Namun uniknya, dalam karya Agan kali ini ia memilih untuk memasukan tokoh-tokoh “superhero” yang umum dikenal melalui komik-komik DC dan Marvel. Judul besar karya-karyanya memang SUPERHERO. Namun, apa maksudnya ketika ia menyajikan kehadapan kita secara berhadap-hadapan antara narasi sejarah, perang dan sosok superhero? Mungkinkah Agan sementara hendak menyindir kita bahwa kita sementara hidup dalam narasi komikal? Atau bahwa  sejatinya serorang pahlawan hanya ada dalam dunia komikal? Atau beginilah caranya memandang sosok pahlawan, yakni secara komikal? Entah lah. Walau demikian, dunia komikal memang memiliki daya tariknya sendiri. Kisah seru dalam jalinan aksi lengkap dengan bumbu-bumbu romantika adalah daya tarik utamanya. Dalam dunia komikal sosok superhero adalah tokoh dengan kemampuan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya, entah itu bawaan, ataupun diciptakan. Batman misalnya berbeda dengan Superman yang memiliki kemampuan bawaan khusus. Batman hanya mengandalkan olah raganya disertai alat-alat canggih yang ia miliki. Namun toh keduanya sama-sama memiliki seperangkat kekuataan yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Tokoh-tokoh ini dengan latar belakangnya masing-masing menjadi sosok pembela kebenaran dan kebajikan demi kepentingan orang banyak.

Fidel Castro and Batman - MATS Terminal Washington 1959
Fidel Castro and Batman – MATS Terminal Washington 1959

Lantas apa jadinya jika Batman ternyata turut andil dalam revolusi Sosialis Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro. Atau dalam medan tempur Cherbourg-Normandy bersama-sama dengan pasukan sekutu ada Spiderman dengan gayanya yang khas. Dan ada pula Batman ditengah-tengah Company E, 2502nd PIR (U.S. 101st Airborne Division). Ini semua pertama-tama membuat saya tertawa. Lucu memang, namun kemudian saya tertegun sejenak dengan suatu pertanyaan yang mengganggu. Dengan cara semacam inikah kita memahami narasi  sejarah perang? Bukan tidak mungkin kisah sejarah yang mulai dipreteli unifikasi narasinya atas nama narasi kecil, dan dikemas dalam bentuk bermain-main akan menimbulkan problem dikemudian hari, di generasi yang akan datang. Dari sini entah mengapa tiba-tiba saya malah berpikir, bagaimana jika suatu waktu kelak, perang tak lebih sekedar simulasi dalam satu ruangan dengan banyak layar dan tombol. Dan orang-orang yang mengoperasikan sementara melakoninnya seakan-akan mereka sedang “bermain”. Ia tak lagi hadir dalam kehidupan kita. Terdengar janggal mungkin, namun yang janggal inilah yang saya tangkap sementara disasar oleh Agan. Bahwa kian lama perang kian kehilangan nuasa krisisnya. Ia hanya berita di televisi, foto-foto di medan perang yang dihargai sebagai foto tahun ini secara berkala. Perang di modifikasi kedalam bentuk simulasi permainan tanpa perduli dengan dampak yang sebenarnya dapat terjadi. Dan kepahlawanan kemudian hanya fiksi, layaknya dalam dunia komik dan permainan.

Setelah banyak bereksperimen di wilayah surealis, saya mengira Agan sekarang mulai lebih konsern masuk pada dimensi yang lebih bernuansa satire. Kesan dangkalnya memang hanya sekedar lelucon, buat lucu-lucuan. Namun, kalau mau dimaknai lebih dalam, kita dapat menemukan keprihatinan yang tidak main-main. Revolusi digital hari-hari ini dipakai Agan untuk melakukan sebuah upaya revolusi kesadaran. Sebuah revolusi superhistory.

History is the present. That’s why every generation writes it anew. But what most people think of as history is its end product, myth. (E.L.Doctorow)

Catatan:

Selengkapnya rangkaian karya Superhero dapat di cek di

http://melmanandthehippo.blogspot.com/2009/11/superhero_01.html


About this entry