Biru

Biru

Bramantio

Sejak awal kau telah mengetahui alasanku membawamu ke mari. Bukan untuk sekadar menjauh dari kebanalan hidup di kota kita. Bukan pula untuk hanya mencari keheningan beberapa saat yang mungkin tidak mematrikan apa-apa pada masa-masa yang akan. Tapi untuk merasakan segala yang mungkin selama ini tak tampak di permukaan. Seperti air teluk di hadapan kita yang dalam kesenyapannya menyimpan maut, seperti pohon raksasa gelap mematung sepi di sana yang memendam sejarah luka menahun, seperti biru sendu langit pagi ini yang tak secerah pagi-pagi yang telah. Kau duduk terpekur di jalinan balok kayu yang menghamparkan dermaga ke sisi lain dunia. Sepasang kakimu berayun pelan menyentuh air mencipta riak tanpa bunyi dan meliukkan benda-benda yang sedang berkaca. Masih ada kantuk pagi yang enggan pergi dari matamu. Masih ada sisa gigil malam yang menolak sirna dari tubuhmu yang bagiku selalu tampak rapuh. Ada ragu yang entah mengapa begitu mengakar di dalam dirimu. Biru yang seolah selamanya. Belumkah kausadari? Masihkah kau menganggap segala rasa ini hanya untuk sementara? Haruskah kukatakan lagi dan lagi? Aku di sini dengan sepenuh hatiku. Untukmu. Untuk kita.


About this entry