Suatu Malam, Kekasihku

Suatu Malam, Kekasihku

Bramantio

Akhirnya kau datang. Mungkin tidak tepat dibilang seperti itu, karena aku menjemputmu beberapa waktu yang lalu. Apa pun, kini kau ada di sini. Untuk pertama kalinya. Hanya kita. Namun kau begitu diam. Lebih diam dari biasanya. Aku pun tidak bertanya. Mungkin karena aku tahu alasannya. Dalam langkahmu memasuki ruangan, aku merasakan getar penundaan, semacam kebimbangan ketika sudah memutuskan memilih. Kau berhenti di belakang sofa. Dari gerak kecil pada pundakmu, aku tahu kau meremas sandaran sofa, perlahan, seperti mencari pegangan yang kau sendiri tidak yakin itu bisa memberimu tumpuan. Kau menoleh ke kanan, sebentar saja untuk melihat entah, lalu ke kiri. Kali ini gerak punggungmu yang memberitahu bahwa kau sedang menghela nafas panjang. Ketika aku masih mengamatimu sambil menutup pintu, kau memutar badanmu, melihat tepat ke mataku dengan matamu yang bagiku selalu menyimpan duka. Lalu kau melangkah mengitari setengah sofa, duduk, perlahan menyandar, dan menatap langit-langit. Kau menyatukan jemari kedua tanganmu, merapatkannya di atas rusuk terbawah. Bernafas satu-satu. Berat. Juga terasa menyesakkan. Ruang dan waktu seolah terhisap tanpa daya ke dalam senyapmu. Aku berkata, mandilah dulu. Nanti, katamu dengan datar hampir tercekat. Kau memejamkan mata. Aku masih berdiri di samping kiri sofa tanpa tahu pasti tentang yang akan kulakukan. Satu kali kau membenahi posisi kepalamu, agak miring ke kanan, merunduk ke arah pundak. Dan aku pun semakin merasa remuk.

Kuseduh sejumput daun teh kering pada teko kecil. Kusiapkan dua mug. Tiga sendok gula untukku. Satu untukmu karena kau pernah bilang tidak suka minuman manis. Kuisi keduanya dengan air teh hingga tiga perempatnya lalu mengaduknya berlawanan dengan arah jarum jam hingga aku yakin gula telah larut. Kubawa ke ruang tamu.

Kau tidak lagi ada di sofa. Kuletakkan mug di atas meja. Kulihat pintu kaca ke arah balkon sedikit terbuka. Kau di sana, berdiri menghadap langit malam, kedua tanganmu pada pagar. Sosokmu tampak begitu rapuh. Kau menoleh sedikit ke kiri seperti menyadari kehadiranku dan memastikannya, lalu kembali memandang entah di kejauhan. Aku melangkah ke samping kirimu, menerawang ke arah yang mungkin juga arah tuju matamu. Hembus angin tanpa bunyi. Sesaat kupikir aku mencium aroma yang mengabarkan hujan akan membumi. Tidak lama kemudian aku menyadari, itu bukan aroma bakal hujan, itu aroma bening kaca yang mulai retak di sepasang matamu. Kuraih pundakmu tanpa disertai niat merengkuhmu ke dalam dekapku. Aku pernah berjanji pada diriku untuk tidak akan memaksamu.

*

Dalam langkahku melewati ambang pintu, aku terus-menerus bertanya pada diriku, benarkah keputusanku ini? Bagaimana jika ini hanya awal sebuah kehancuran yang kesekian? Aku berpegangan pada sandaran sofa sebelum aku benar-benar ambruk karena tak sanggup menahan semua ini. Seperti katamu, tak terlalu besar. Apartemen dua kamar. Berdinding nyaris bersih. Hanya sejumlah foto hitam putih yang tak satu pun wajahmu atau dirimu, tapi dunia di luar sana yang selalu sepi dalam hiruk-pikuknya. Aku merasakan tatapanmu. Apa yang kaupikirkan? Aku menyedihkan? Mungkin memang begitulah adaku. Aku duduk dan menatap langit-langit yang tak pernah malam. Selalu putih cerah. Sesuatu yang mungkin tak akan lagi terjadi pada diriku. Aku memejamkan mata dan semakin menginsafi sesak yang berkecamuk di dadaku, juga menyakini bahwa kematian adalah satu-satunya jalan kebebasanku dari kemelut ini. Mungkin semua rasa sakit ini tetap mengendap meskipun nyawaku telah lepas dari tubuh, tapi setidaknya aku tak perlu lagi bangun di pagi hari hanya untuk merasakan pengulangan yang tak berkesudahan, setidaknya aku tak usah lagi menghadapi dunia dan manusia-manusia yang selalu sinis dan tak sekali pun sungguh-sungguh mengerti betapa pun aku berusaha menjelaskan apa-apa tentang diriku. Aku telah kehilangan keyakinan atas segala yang selama ini kuyakini.

Kudengar bunyi mungil. Seperti logam menyapa beling. Mungkin kau sedang menyiapkan minuman. Apa yang sesungguhnya ada di dalam pikiranmu? Kau menjemputku, mengajakku ke tempat tinggalmu, lalu apa? Tidakkah kau telah memahami yang telah kualami? Seingatku pernah kuceritakan. Atau belum? Mungkin pikiran tentang kematian telah membunuh sebagian ingatanku. Entahlah.

Aku menggeser pintu kaca. Balkon selebar dua langkah, lalu pagar setinggi siku. Malam telah sempurna. Tak ada satu pun bintang di langit. Hanya ada entah berapa banyak bintang di bumi. Akankah malam ini segalanya berakhir?

Kau berdiri di sampingku. Satu tanganmu meraih bahuku dan diam di sana. Lama.

“Aku capek.”

“Aku tahu,” katamu.

Tanganmu yang lain menggemgam tanganku.

“Aku di sini,” katamu lagi, “untukmu.”


About this entry