Kompilasi Setahun

Kumpulan tulisan bahan diskusi di Kelompok Diskusi Interdispliner, UKSW Salatiga pada April 2009-Maret 2010. Bisa diunduh di sini! Berikut ini adalah bagian pengantarnya.

PREFIX

Tanpa terasa seiring berjalannya waktu, pertemuan suatu kelompok diskusi interdisipliner civitas academica UKSW telah berjalan selama setahun. Semenjak dimulai medio April 2009, pertemuan yang menjadi rutin setiap sebulan sekali ini ternyata memerlukan publikasi.

Ide dasarnya adalah supaya ide-ide dan tulisan-tulisan yang dibahas dalam diskusi tersebut tidak menguap begitu saja, melainkan dikompilasi untuk kalangan yang lebih luas. Lebih jauh, melalui media semacam ini diharapkan mampu membuka cakrawala diskursif dan memicu pembahasan lebih lanjut.

Hadirnya kelompok diskusi dan media ini juga dapat dimaknai sebagai aksi menyemarakkan iklim intelektual akademis di kampus ini. “Discendo discimus, docende discimus”. Demikian sebuah pepatah dalam bahasa Latin yang berarti “kita belajar dengan menjadi murid, dengan mengajar kita belajar”. Berdasarkan keyakinan semacam inilah kami hadir di hadapan Anda.

Bagi kami belajar bukan hanya kegiatan duduk diam dan mendengarkan (lalu lupa), sebagaimana sering ditemui dalam ruang kelas. Proses belajar yang kami maksud melibatkan kesadaran dari masing-masing individu untuk turut mengolah gagasan, menuliskan serta menyampaikannya.

Dalam edisi bunga rampai Kelompok Diskusi Interdisipliner kali ini, kami menghimpun seluruh tulisan yang pernah disajikan dalam diskusi-diskusi hangat kami. Lebih daripada itu, edisi ini juga menyertakan satu puisi dan dua karya fotografi dari mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis.

Sesuai dengan nama dari kelompok diskusi ini, tulisan-tulisan yang termuat dalam bunga rampai ini memiliki keragaman tema dan topik. Pada pertemuan perdana kami Tomi Febrianto (staff pengajar FISKOM UKSW) berkenan untuk menyajikan analisis sosiologisnya terhadap fenomena situs jejaring sosial yang lebih dikenal sebagai Facebook. Kemajuan teknologi tidak bisa tidak, turut mengambil bagian baik sebagai pembentuk kesadaran manusia atau sebagai objek kesadarannya. Facebook sebagai bagian dari laju perkembangan teknologi informasi menghadirkan ragam implikasi. Tema inilah yang dibahas oleh Tomi Febrianto.

Pada pertemuan kedua bertepatan dengan menjelangnya Pilpres 2009, dan pada momentum ini saudara Yakub Adi Krisanto (staff pengajar Fakultas Hukum UKSW) berkenan menyajikan dalam forum kami analisis kritisnya terhadap pesta demokrasi tersebut.

Memasuki pertemuan ketiga Yodie Hardiyan, seorang mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW (FEB-UKSW) mencoba mengolah gagasannya tentang sistem point card. Sistem ini dalam analisanya dianggap mematikan kesadaran dari masing-masing individu untuk terlibat dalam proses belajar tersebut. Keaktifan yang disasar dari sistem tersebut justru malah menggiring insan belajar hanya menjadi pasif untuk mengikuti setiap kegiatan yang dikonversi ke dalam bentuk tabel, aksara, dan angka mati.

Menyambung dari pembahasan sebelumnya, pada pertemuan berikutnya saudara Satria Anandita (yang juga seorang mahasiswa FEB-UKSW) secara kritis-reflektif mencoba mengorek-ngorek keterangan macam apa yang dapat diperoleh tentang kesadaran. Karena problem “kepasifan” mahasiswa ada pada level kesadaran. Dalam usahanya ini ia mencoba menelusuri kembali cita-cita luhur Satya Wacana, yang tentunya ada dalam ruang tafsirnya.

Kemudian pada pertemuan selanjutnya dipenghujung tahun 2009 saudara Onesimus Hihika berkenan untuk menyajikan suatu uraian teoritis seputar memaknai keragaman dalam konteks Indonesia Mini yang dianggap khas Satya Wacana. Ia mengangkat refleksinya terhadap fenomena konflik-konflik yang terjadi antar mahasiswa didalam kampus.

Memasuki tahun 2010, forum diskusi kami dibuka oleh saudara Yesaya Sandang yang membedah pemikiran Amartya Sen dalam karyanya Identity and Violance. Secara singkat ia mencoba meringkas gagasan inti dari Sen dan mengajukan beberapa point tanggapan kritis.

Seiring berjalannya waktu, jagad perfilman Indonesia dikejutkan dengan hadirnya sebuah film dari sineas Australia. Film yang berjudul Balibo Five tersebut bercerita tentang tewasnya lima orang wartawan Australia di tengah pertempuran di Timor Leste, pertempuran antara TNI dan milisi Timor Leste yang lebih dikenal sebagai pertempuran Balibo. Pada momentum ini forum kami berinisiatif untuk mengadakan diskusi atau lebih tepatnya bedah film tersebut. Kesempatan ini menghadirkan seorang mahasiswa FEB-UKSW asal Timor Leste, Jose M.X Da Costa sebagai komentator.

Setelah bersama-sama mendiskusikan film tersebut, terdapat suatu point penting yang mengemuka, yakni tentang pentingnya berdamai dengan masa lalu. Tema inilah yang kemudian dibahas oleh saudara Voltaire Talo pada forum diskusi berikutnya. Dengan pengetahuan teori-teori psikologi yang cukup, Volta banyak bicara mengenai terapi kelompok sebagai salah satu cara untuk menyembuhkan aneka persoalan manusia, misalnya, luka-luka masa lalu.

Dua tulisan lain tambahan lainnya yang dimuat pada edisi kali ini kiranya dapat dibaca sebagai bentuk ungkapan dari kesadaran estetik manusia. Narasi visual atau menarasikan visualisasi, itulah yang coba diungkapkan oleh James Anthony melalui tangkapan kameranya. Sedangkan Teddy Delano mengolah beragam tema kehidupan ini melalui kata-kata yang puitis cenderung melankolis.

Pada kesempatan perdana ini pula perkenankan kami mengundang seluruh civitas academica, khususnya mahasiswa atau mahasiswi dan kelompok-kelompok diskusi lain untuk berpartisipasi dalam forum-forum diskusi kami  selanjutnya. Kami pun sadar dengan segala keterbatasan yang ada, masih banyak aspek yang perlu dibenahi ke depannya. Segenap saran dan kritik tentunya akan sangat berharga. Hiduplah garba ilmiah kita.

Pengasuh Kelompok Diskusi Interdisipliner

Freddy Guty

Satria Anandita

Yodie Hardiyan

Yesaya Sandang


About this entry